AYOBANDUNG.ID - Industri seni rupa di Indonesia terus berkembang sebagai medium ekspresi yang tidak hanya estetis, tetapi juga reflektif terhadap pengalaman personal dan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang alternatif seperti independent gallery dan creative space menjadi wadah penting bagi perupa muda untuk menampilkan karyanya ke publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa seni tidak lagi eksklusif, melainkan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pameran “Rona Makna” yang digelar di Howl Library and Creative Space yang digagas oleh mahasiswa Seni Rupa ITB menjadi salah satu contoh bagaimana ruang kecil mampu menghadirkan pengalaman besar khususnya bagi perupa dan pengunjung yang datang. Di antara sebelas karya yang dipamerkan, setiap lukisan membawa cerita personal yang beragam, mulai dari keresahan hingga refleksi diri. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul “Uang Kecil” karya Vania Kamila Zahra (20).
Lukisannya terlihat begitu nyata, dengan pilihan warna merah bata yang berani—membuat mata melirik. Lukisan tersebut menampilkan lembaran uang nominal Rp5 ribu dan Rp2 ribu yang terlipat, kusut, dan tampak usang di atas lantai tua dengan tekstur menyerupai bata. Tak lupa uang koin pecahan melengkapi latar lukisannya. Sekilas sederhana, namun komposisi visualnya menyimpan lapisan emosi yang kompleks. Dari visual itu, muncul pertanyaan tentang nilai, perjuangan, dan relasi manusia dengan uang dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman Emosional yang Personal
Bagi Vania, “Uang Kecil” berangkat dari pengalaman emosional yang sangat personal. Ia mengaku ketimpangan yang ia rasakan menjadi pemantik utama dalam proses penciptaan karyanya.
“Ide dasar dari lukisan ini itu pas aku ngerasa iri. Orang-orang tuh udah achieve banyak banget hal, tapi kayak effortless banget,” ucap Vania menjelaskan sambil berdiri di samping lukisannya. “Sedangkan aku tuh harus kasih effort lebih, jauh lebih dalam untuk dapetin hal yang sama,” keluhnya.
Dalam ceritanya, Vania menempatkan uang sebagai simbol dari akses dan kesempatan. Ia menyadari bahwa banyak hal dalam hidup menjadi lebih mudah dicapai ketika seseorang memiliki dukungan finansial yang cukup. “Jujur aku milih uang juga karena menurut aku semua itu berangkat dari modal,” ucap Vania.
Proses Personal dalam Setiap Detail
Proses pembuatan untuk lukisan ini bersifat emosional, bukan hanya sekadar ide. Vania mengambil uang pribadi sebagai sumber inspirasi utama, yang membuat karyanya lebih berhubungan dengan kehidupannya.
Dia juga secara sengaja meremas dan "merusak" uang tersebut agar tampak lebih bertekstur dan realistis dalam tampilan referensi lukisannya. Memberikan kesan bahwa uang dalam lukisan tersebut bukan hanya benda, melainkan bagian dari pengalaman yang sebenarnya. “Duit yang ada di dompet aku, aku lecekin biar kelihatan kasar,” kata Vania menceritakan awal mula proses lukisannya.
Lukisan ini selesai dalam waktu kurang lebih dua hingga tiga minggu, melalui berbagai tahap seperti observasi, dokumentasi, hingga melukis dengan cat minyak. Pilihan medium ini juga bukan tanpa alasan, karena menurutnya, cat minyak memberi ruang untuk eksplorasi emosional yang lebih nyaman.

Ekspresi Diri dan Refleksi Sosial
Walaupun terinspirasi dari pengalaman pribadi, "Uang Kecil" tetap bisa diartikan sebagai refleksi dari perjuangan kelas sosial. Vania menyadari bahwa pandangan terhadap karyanya dapat memberikan perspektif yang berbeda bagi setiap individu yang melihatnya. “Jujur karena ini berangkat dari rasa iri aku, lebih ke ekspresi diri sih sebenarnya,” ucap Vania.
Baginya, lukisan tidak perlu hanya dimaknai satu cara, melainkan dapat menjadi cermin bagi pengalaman masing-masing orang. Di balik semua itu, tersimpan pesan sederhana tetapi bermakna yang ingin ia sampaikan kepada pengunjung. Yaitu, di tengah hidup yang penuh persaingan, sering kali orang lupa untuk melihat apa yang sudah ada. “Aku harap orang-orang itu bisa lebih bersyukur, kadang kita terlalu sibuk ngelihat ke atas,” kata Vania.
Melalui "Uang Kecil", Vania tidak hanya menyajikan gambaran tentang uang, tetapi juga mengenai perjuangan, rasa cukup, dan bagaimana manusia memahami hidupnya. Di dalam ruang kecil pameran, karya ini menjadi pengingat bahwa nilai sesuatu tidak selalu bergantung pada jumlahnya, melainkan pada cerita bermakna di baliknya.