AYOBANDUNG.ID - Ruang kecil di Howl Library and Creative Space siang itu, 4 April 2026, dipenuhi percakapan pelan dan pandangan yang terfokus pada lukisan yang dipajang di sisi ruangan.
Di antara deretan karya, “Rona Makna” hadir bukan sekadar pameran, melainkan ruang pertemuan antara kegelisahan personal dan publik yang ingin memahaminya.
Berangkat dari keresahan sederhana, Rosana Martha, mahasiswa Seni Rupa ITB, menciptakan ruang yang sebelumnya hanya ada dalam benaknya. Ia ingin karya-karya yang selama ini “terkurung” di studio bisa berbicara kepada publik.
“Aku ingin banget lihat karya teman-temanku dipamerkan. Daripada cuma diam di studio dan kena debu, lebih baik kita bawa ke ruang publik supaya bisa dilihat banyak orang,” kata inisiator Rona Makna, Rosana Martha (20), saat ditemui usai artist talk.

Makna, Karya, dan Ruang Dialog
Istilah “Rona Makna” bukan sekadar merujuk pada arti di balik goresan warna, melainkan cerminan dari apa yang ingin mereka sampaikan. “Rona” menggambarkan warna dan suasana, sementara “makna” mengacu pada ide yang tersembunyi di balik visual.
Martha menjelaskan, setiap karya tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan dan diinterpretasikan. Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara visual dan emosi, tanpa batasan tafsir.
“Visual itu hadir bukan cuma untuk dilihat, tapi juga untuk ditafsirkan dan dirasakan,” ujarnya.
Sebelas karya yang dipamerkan memang tidak sepenuhnya seragam, tetapi terhubung oleh pengalaman personal para perupanya. Tema yang diangkat beragam, mulai dari kenyamanan, luka, hingga pengalaman hidup yang membentuk identitas.
Beberapa karya bahkan menyentuh isu yang lebih luas, termasuk kritik sosial yang disampaikan secara simbolik. Namun pada akhirnya, makna tetap kembali kepada pengunjung.
“Untuk memaknai lukisan itu kembali ke diri masing-masing. Seberapa jauh mereka mau mengeksplorasi dan membolehkan diri mereka merasakan,” jelas Martha.
Bagi Naya Aleyda Rifaih (20), yang akrab disapa Ale, pameran ini juga menjadi ruang dialog antara perupa dan pengunjung. Interaksi langsung dianggap penting sebagai jembatan untuk memahami karya.
Ia menegaskan, seni baru benar-benar hidup ketika dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Tanpa itu, karya hanya menjadi objek yang diam.
“Karya yang hanya disimpan di dalam ruangan itu tidak layak disebut sebagai karya,” ujarnya.

Dari “Pulang” hingga Harapan yang Lebih Luas
Salah satu karya berjudul “Pulang” menampilkan sosok perempuan yang terbaring miring di hamparan rumput hijau, dikelilingi bunga mawar. Telunjuknya lemas, dihinggapi kupu-kupu.
Dalam tafsir Ale, “pulang” tidak selalu merujuk pada tempat, melainkan kondisi batin. Lukisan itu mengajak pengunjung meninjau kembali makna pulang dari sudut pandang yang lebih dalam.
“Pulang itu bukan tempat, tapi kondisi batin. Ketika kita bisa menerima diri sepenuhnya, bahkan saat sedang terluka,” jelasnya.
Menariknya, Ale tidak memaksakan satu tafsir kepada pengunjung. Ia justru ingin setiap orang menemukan makna masing-masing dari karya yang sama.
“Aku tidak ingin mereka memahami sama seperti aku. Aku ingin mereka menemukan makna mereka sendiri,” katanya.
“Rona Makna” sendiri lahir dari keterbatasan. Tanpa dukungan lembaga besar, pameran ini digarap secara kolektif oleh tiga mahasiswa selama dua bulan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.
Namun justru dari situ muncul kekuatan: rasa memiliki yang kuat karena dibangun dari visi bersama.
“Ini benar-benar kolektif. Dari kita, oleh kita, untuk kita,” ujar Martha.
Dalam keterbatasan ruang seni di Bandung, kehadiran pameran seperti ini menjadi penting bagi perupa muda. Bukan hanya sebagai tempat memamerkan karya, tetapi juga sebagai langkah awal memasuki dunia seni yang lebih luas.
Baik Martha maupun Ale mengaku lebih nyaman disebut perupa ketimbang seniman. Bagi mereka, istilah tersebut terasa lebih membumi, tanpa beban label yang terlalu tinggi.
Mereka berharap ruang-ruang serupa terus tumbuh dan semakin mudah diakses. Sebab dari ruang kecil seperti inilah, perjalanan panjang seorang seniman sering kali dimulai.
“Semoga makin banyak ruang yang bisa mewadahi perupa muda, supaya mereka bisa terus berkarya dan dikenal lebih luas,” tutup Ale.
