Rona Makna, 11 Lukisan Menjadi Bahasa yang Tak Terucap

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Suasana pameran “Rona Makna” di Howl Library and Creative Space dipenuhi interaksi hangat antara karya dan pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana pameran “Rona Makna” di Howl Library and Creative Space dipenuhi interaksi hangat antara karya dan pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Ruang kecil di Howl Library and Creative Space siang itu, 4 April 2026, dipenuhi percakapan pelan dan pandangan yang terfokus pada lukisan yang dipajang di sisi ruangan.

Di antara deretan karya, “Rona Makna” hadir bukan sekadar pameran, melainkan ruang pertemuan antara kegelisahan personal dan publik yang ingin memahaminya.

Berangkat dari keresahan sederhana, Rosana Martha, mahasiswa Seni Rupa ITB, menciptakan ruang yang sebelumnya hanya ada dalam benaknya. Ia ingin karya-karya yang selama ini “terkurung” di studio bisa berbicara kepada publik.

“Aku ingin banget lihat karya teman-temanku dipamerkan. Daripada cuma diam di studio dan kena debu, lebih baik kita bawa ke ruang publik supaya bisa dilihat banyak orang,” kata inisiator Rona Makna, Rosana Martha (20), saat ditemui usai artist talk.

Rosana Martha menghadirkan “Rona Makna” sebagai ruang bagi karya-karya yang selama ini tersembunyi untuk berbicara ke publik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Rosana Martha menghadirkan “Rona Makna” sebagai ruang bagi karya-karya yang selama ini tersembunyi untuk berbicara ke publik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Makna, Karya, dan Ruang Dialog

Istilah “Rona Makna” bukan sekadar merujuk pada arti di balik goresan warna, melainkan cerminan dari apa yang ingin mereka sampaikan. “Rona” menggambarkan warna dan suasana, sementara “makna” mengacu pada ide yang tersembunyi di balik visual.

Martha menjelaskan, setiap karya tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan dan diinterpretasikan. Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara visual dan emosi, tanpa batasan tafsir.

“Visual itu hadir bukan cuma untuk dilihat, tapi juga untuk ditafsirkan dan dirasakan,” ujarnya.

Sebelas karya yang dipamerkan memang tidak sepenuhnya seragam, tetapi terhubung oleh pengalaman personal para perupanya. Tema yang diangkat beragam, mulai dari kenyamanan, luka, hingga pengalaman hidup yang membentuk identitas.

Beberapa karya bahkan menyentuh isu yang lebih luas, termasuk kritik sosial yang disampaikan secara simbolik. Namun pada akhirnya, makna tetap kembali kepada pengunjung.

“Untuk memaknai lukisan itu kembali ke diri masing-masing. Seberapa jauh mereka mau mengeksplorasi dan membolehkan diri mereka merasakan,” jelas Martha.

Bagi Naya Aleyda Rifaih (20), yang akrab disapa Ale, pameran ini juga menjadi ruang dialog antara perupa dan pengunjung. Interaksi langsung dianggap penting sebagai jembatan untuk memahami karya.

Ia menegaskan, seni baru benar-benar hidup ketika dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Tanpa itu, karya hanya menjadi objek yang diam.

“Karya yang hanya disimpan di dalam ruangan itu tidak layak disebut sebagai karya,” ujarnya.

Naya Aleyda Rifaih meyakini setiap karya seni hidup melalui tafsir bebas dari para pengunjungnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Naya Aleyda Rifaih meyakini setiap karya seni hidup melalui tafsir bebas dari para pengunjungnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari “Pulang” hingga Harapan yang Lebih Luas

Salah satu karya berjudul “Pulang” menampilkan sosok perempuan yang terbaring miring di hamparan rumput hijau, dikelilingi bunga mawar. Telunjuknya lemas, dihinggapi kupu-kupu.

Dalam tafsir Ale, “pulang” tidak selalu merujuk pada tempat, melainkan kondisi batin. Lukisan itu mengajak pengunjung meninjau kembali makna pulang dari sudut pandang yang lebih dalam.

“Pulang itu bukan tempat, tapi kondisi batin. Ketika kita bisa menerima diri sepenuhnya, bahkan saat sedang terluka,” jelasnya.

Menariknya, Ale tidak memaksakan satu tafsir kepada pengunjung. Ia justru ingin setiap orang menemukan makna masing-masing dari karya yang sama.

“Aku tidak ingin mereka memahami sama seperti aku. Aku ingin mereka menemukan makna mereka sendiri,” katanya.

“Rona Makna” sendiri lahir dari keterbatasan. Tanpa dukungan lembaga besar, pameran ini digarap secara kolektif oleh tiga mahasiswa selama dua bulan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.

Namun justru dari situ muncul kekuatan: rasa memiliki yang kuat karena dibangun dari visi bersama.

“Ini benar-benar kolektif. Dari kita, oleh kita, untuk kita,” ujar Martha.

Dalam keterbatasan ruang seni di Bandung, kehadiran pameran seperti ini menjadi penting bagi perupa muda. Bukan hanya sebagai tempat memamerkan karya, tetapi juga sebagai langkah awal memasuki dunia seni yang lebih luas.

Baik Martha maupun Ale mengaku lebih nyaman disebut perupa ketimbang seniman. Bagi mereka, istilah tersebut terasa lebih membumi, tanpa beban label yang terlalu tinggi.

Mereka berharap ruang-ruang serupa terus tumbuh dan semakin mudah diakses. Sebab dari ruang kecil seperti inilah, perjalanan panjang seorang seniman sering kali dimulai.

“Semoga makin banyak ruang yang bisa mewadahi perupa muda, supaya mereka bisa terus berkarya dan dikenal lebih luas,” tutup Ale.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)