AYOBANDUNG.ID -- Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan lingkungan. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem terus meningkat dari tahun ke tahun.
Data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang 2025 terjadi lebih dari 3.000 bencana di Indonesia, dan 93 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi basah.
Jawa Barat sendiri mengalami 389 kejadian bencana dalam satu tahun terakhir, didominasi oleh banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Angka ini menjadi alarm keras atas lemahnya tata kelola lingkungan, khususnya di kawasan hulu dan daerah aliran sungai (DAS) yang masih banyak gundul dan belum ditanami vegetasi berakar keras.
Dalam konteks ini, gerakan nasional penanaman vegetasi yang digagas BNPB bersama unsur pentaheliks menjadi langkah strategis. Di Jawa Barat, momentum Hari Pohon Sedunia tahun ini pun dimaknai dengan penanaman 123.320 bibit pohon.
Penanaman ini bukan sekadar simbol seremonial, melainkan bagian dari agenda besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo untuk memperkuat ketahanan lingkungan, merehabilitasi lahan kritis, dan membangun infrastruktur hijau.
Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa masih banyak wilayah lereng dan DAS yang belum ditanami vegetasi berakar keras, sehingga memicu longsor dan sedimentasi.
“Masih banyak wilayah lereng dan daerah aliran sungai (DAS) yang belum ditanami vegetasi berakar keras, sehingga memicu longsor dan sedimentasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menambahkan bahwa momentum Hari Pohon Sedunia mengingatkan semua pihak bahwa pohon adalah benteng pertama ketika bencana datang. Menurutnya, penanaman ini memadukan vegetasi bernilai ekologis dan ekonomis agar manfaatnya dapat dirasakan jangka panjang.
"Momentum Hari Pohon Sedunia mengingatkan kita bahwa pohon bukan sekadar elemen estetika dalam lanskap, tetapi penopang ekosistem dan ‘benteng pertama’ ketika bencana datang,” katanya.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa luas lahan kritis di Indonesia mencapai 12,3 juta hektare. Dari jumlah tersebut, lebih dari 911 ribu hektare berada di Jawa Barat, termasuk di DAS Ciliwung dan DAS Citarum.

Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas Medrilzam menegaskan bahwa kerugian akibat bencana mencapai Rp22 triliun per tahun. Angka ini menegaskan bahwa rehabilitasi lahan kritis bukan hanya soal ekologi, tetapi juga investasi ekonomi jangka panjang untuk menekan kerugian negara.
Kabupaten Bogor, sebagai hulu DAS Ciliwung, menjadi contoh nyata bagaimana ekowisata dan konservasi dapat berjalan beriringan. Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan bahwa penanaman pohon dilakukan tidak hanya di satu lokasi, tetapi di sembilan titik DAS, termasuk Cikeas dan Ciliwung.
“Pelaksanaan penanaman bukan hanya di EIGER Adventure Land, tetapi kami melakukan penanaman pohon di 9 lokasi, dan juga di seluruh daerah aliran sungai Cikeas, Ciliwung, dan beberapa daerah aliran sungai lainnya,” ujarnya.
Langkah ini menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan kementerian, BNPB, swasta, dan komunitas menjadi kunci keberhasilan. Kolaborasi multipihak atau pentaheliks juga menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan lingkungan bersama.
Namun, tantangan besar tetap ada. Keterbatasan pendanaan, koordinasi antar-instansi, serta rendahnya kesadaran masyarakat menjadi hambatan utama. Tanpa partisipasi publik, gerakan ini berisiko berhenti sebagai proyek seremonial. Karena itu, edukasi publik harus diperkuat. Pohon berakar keras harus dipahami sebagai penopang kehidupan, bukan sekadar penghias lanskap.
Momentum Hari Pohon Sedunia menjadi sarana membangkitkan semangat masyarakat bahwa setiap pohon adalah investasi masa depan. Media pun memiliki peran penting dalam menyebarkan narasi positif tentang rehabilitasi lahan kritis. Tanpa dukungan informasi yang konsisten, gerakan ini sulit membangkitkan semangat publik.
Selain manfaat ekologis, penanaman vegetasi juga membuka peluang ekonomi hijau. Vegetasi bernilai ekologis sekaligus ekonomis dapat menjadi sumber pendapatan baru melalui hasil hutan bukan kayu, ekowisata, dan jasa lingkungan. Generasi muda perlu dilibatkan dalam gerakan ini agar tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari masa depan mereka.
Komitmen perusahaan seperti EIGER Adventure Land menunjukkan bahwa ekowisata dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Dengan semangat restorasi, kawasan ini telah menanam lebih dari 100 ribu pohon dan 8 juta tanaman semak untuk memulihkan ekosistem agar kembali berfungsi dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.
Direktur Utama EIGER Adventure Land, Imanuel Wirajaya, menegaskan bahwa kolaborasi multipihak adalah kunci. Gerakan penanaman vegetasi di Jawa Barat, dengan segala potensi dan tantangannya, harus dilihat sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan lingkungan.
“Melalui kolaborasi pentaheliks antara swasta, pemerintah, akademisi, komunitas, dan media, kami ingin menjadikan kawasan ini sebagai contoh nyata bahwa ekowisata yang selaras dengan pelestarian alam dapat memberikan kontribusi nyata bagi mitigasi bencana sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Alternatif bibit pohon atau kebutuhan berkebun: