Ayo Jelajah

Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Oleh: Hengky Sulaksono Selasa 16 Des 2025, 15:11 WIB
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sumber: uinsgd.ac.id)

AYOBANDUNG.ID - Jejak nama Sunan Gunung Djati lebih dulu dikenal sebagai salah satu Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Namun di Bandung, nama itu juga melekat pada sebuah kampus negeri yang saban hari dipenuhi mahasiswa, motor parkir berlapis-lapis, dan diskusi yang kadang lebih panas dari cuaca Cibiru di siang hari. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, atau yang akrab disebut UIN SGD, bukanlah institusi yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, melalui jalur berliku, dari gagasan idealistik hingga menjadi universitas dengan spektrum keilmuan yang kian luas.

Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung berakar pada perjalanan panjang pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Pada awal 1950-an, negara baru saja berdiri, birokrasi belum mapan, dan kebutuhan akan lembaga pendidikan Islam tingkat tinggi masih sering dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama. Namun justru dalam situasi seperti itulah benih-benih pendidikan tinggi Islam mulai disemai melalui Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri yang diatur lewat Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950. Dari fondasi inilah kelak lahir berbagai IAIN di Indonesia, termasuk di Jawa Barat.

Tonggak penting terjadi pada 1960, ketika pemerintah melebur Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri dengan Akademi Dinas Ilmu Agama. Peleburan ini bukan sekadar soal administrasi, melainkan upaya konsolidasi agar pendidikan tinggi Islam tidak berjalan sendiri-sendiri. Dari sinilah nama Institut Agama Islam Negeri mulai dikenal luas. Namun Jawa Barat saat itu belum memiliki IAIN sendiri. Para tokoh Muslim di wilayah ini merasa ada yang kurang: pusat kaderisasi ulama dan cendekiawan Islam belum benar-benar berakar di tanah Pasundan.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Dorongan itulah yang melahirkan inisiatif pada 1967. Sejumlah ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat Jawa Barat membentuk panitia pendirian IAIN. Langkah ini mendapat restu pemerintah daerah dan pengesahan dari Kementerian Agama. Setahun kemudian, tepat pada April 1968, berdirilah Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Tanggal berdiri itu kelak akan dikenang sebagai awal dari perjalanan panjang sebuah kampus yang mulanya serba terbatas, namun sarat ambisi intelektual.

IAIN Sunan Gunung Djati Bandung memulai langkahnya dengan empat fakultas: Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin di Bandung, serta Tarbiyah di Garut. Kampus pertamanya berlokasi di Jalan Lengkong Kecil, jauh dari kesan megah. Ruang belajar sederhana, fasilitas terbatas, dan sumber daya manusia yang harus bekerja ekstra adalah pemandangan sehari-hari. Namun justru dari keterbatasan itu lahir semangat membangun lembaga pendidikan Islam yang tidak sekadar mencetak sarjana, tetapi juga membentuk cara berpikir.

Sosok penting di balik fase awal ini adalah Anwar Musaddad, yang menjadi rektor pertama. Latar belakang pendidikannya mencerminkan pertemuan dua dunia: pendidikan Barat dan tradisi pesantren. Ia pernah mengecap sekolah-sekolah Belanda, lalu memperdalam ilmu agama hingga ke Mekkah. Pengalaman inilah yang kelak memberi warna pada arah pengembangan IAIN Bandung: berakar pada tradisi Islam, tetapi tidak alergi terhadap dunia luar. Di tangannya, kampus ini diletakkan sebagai ruang kaderisasi ulama dan intelektual yang berani berpikir terbuka.

Seiring waktu, kebutuhan ruang dan jumlah mahasiswa yang terus bertambah membuat kampus ini berpindah-pindah. Dari Lengkong Kecil, IAIN Sunan Gunung Djati sempat bermarkas di Jalan Tangkuban Perahu, sebelum akhirnya menetap di kawasan Cibiru, Jalan A.H. Nasution. Lokasi inilah yang kini identik dengan UIN SGD Bandung. Perpindahan ini bukan sekadar urusan alamat, melainkan penanda pertumbuhan institusi yang menuntut ruang lebih luas untuk berkembang.

Baca Juga: Hikayat Cibiru, dari Kawasan Timur Pinggiran Kota Bandung yang jadi Pusat Keramaian

Pada dekade-dekade berikutnya, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Jawa Barat. Fakultas-fakultas cabang di Bogor, Sukabumi, dan Cirebon sempat berada di bawah naungannya sebelum berdiri mandiri. Di satu sisi, ini mengurangi wilayah administratif IAIN Bandung. Namun di sisi lain, justru menunjukkan keberhasilannya menjadi “induk” yang melahirkan institusi-institusi baru.

Tahun 1990-an menjadi periode ekspansi keilmuan. Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab didirikan, menandai kesadaran bahwa kajian Islam tidak cukup berhenti pada hukum dan teologi. Komunikasi, budaya, dan bahasa menjadi bagian penting dari pengembangan keilmuan. Tak lama kemudian, program pascasarjana dibuka, memperluas peran kampus ini sebagai pusat riset dan kajian Islam tingkat lanjut.

Aktivitas di Halal Center UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Sumber: uinsgd.ac.id)

Transformasi IAIN ke UIN

Puncak perjalanan panjang itu datang pada 2005. Melalui Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2005, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri. Perubahan status ini bukan sekadar pergantian papan nama. Ia membawa konsekuensi besar: perluasan mandat keilmuan dan integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Sebagai UIN, Sunan Gunung Djati Bandung tidak lagi membatasi diri pada studi-studi keislaman klasik. Fakultas-fakultas baru bermunculan, mulai dari Psikologi, Sains dan Teknologi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, hingga Ekonomi dan Bisnis Islam. Program studi seperti Teknik Informatika, Manajemen, dan Psikologi berdampingan dengan Tafsir, Hadis, dan Hukum Keluarga Islam. Di sinilah konsep integrasi keilmuan diuji dalam praktik sehari-hari.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Transformasi ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pendidikan Islam. Agama tidak diposisikan sebagai menara gading yang terpisah dari realitas sosial, melainkan sebagai lensa untuk membaca dunia modern. Mahasiswa UIN SGD Bandung didorong untuk memahami persoalan kontemporer dari mulai teknologi hingga konflik sosial tanpa melepaskan akar nilai keislaman.

Kini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menaungi sembilan fakultas dengan puluhan program studi. Salah satu yang menonjol adalah Studi Agama-agama, yang sejak awal dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman lintas iman. Program ini menjadi cerminan wajah UIN hari ini: sebuah kampus Islam negeri yang tidak hanya berbicara tentang keimanan, tetapi juga tentang toleransi dan hidup bersama dalam keberagaman.

Dari kampus sederhana di Lengkong Kecil hingga universitas besar di Cibiru, sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah kisah tentang adaptasi dan keberanian berubah. Ia lahir dari kegelisahan para tokoh umat, tumbuh melalui keterbatasan, dan kini berdiri sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi Islam terkemuka di Indonesia. Sejarah itu belum selesai. Seperti mahasiswa yang terus datang silih berganti, perjalanan UIN SGD Bandung masih akan terus ditulis, halaman demi halaman.

Reporter Hengky Sulaksono
Editor Hengky Sulaksono