"Tong diajak si eta mah, teu bisaeun mawa motor." Begitu ujar seorang mahasiswa ketika memutuskan untuk tidak mengajak temannya berwisata di Bandung hanya karena temannya tidak bisa mengendarai sepeda motor.
Sebagian orang mungkin akan membela mahasiswa tadi, dengan alasan temannya memang merepotkan—hanya bisa dibonceng. Sebagian lainnya mungkin justru akan membela si teman, karena memiliki pengalaman serupa
Namun lebih dari itu, ungkapan tersebut—dan banyak ungkapan sejenis—menggambarkan kenyataan pahit: Pariwisata Bandung hanya ramah bagi mereka yang memiliki kendaraan pribadi. Padahal, sebagai kota wisata, pemerintah daerah semestinya menyediakan transportasi umum yang terintegrasi.

Berdasarkan data dari Laporan Kajian Rasio Pengguna Kendaraan Pribadi vs. Kendaraan Umum Tahun 2023 oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, seperti dikutip Detik, menunjukkan sekitar 90,16% moda transportasi yang digunakan di Bandung adalah kendaraan pribadi. Dengan rincian 73,34% merupakan sepeda motor, sedangkan 16,82% sisanya merupakan mobil penumpang. Meski angka ini tidak khusus untuk wisatawan, hal ini tetap menunjukkan betapa dominannya penggunaan kendaraan pribadi di kota tersebut.
Sedangkan menurut TomTom Traffic Index 2024, seperti dikutip Ayo Bandung, Bandung kini tercatat sebagai kota dengan tingkat kemacetan terburuk di Indonesia, bahkan melampaui Jakarta. Secara global, Bandung berada di peringkat ke-12, sementara Jakarta turun ke posisi ke-90. Rata-rata, pengendara di Bandung membutuhkan 33 menit hanya untuk menempuh jarak 10 kilometer. Hal yang seharusnya bisa berkurang dengan adanya transportasi umum yang terintegrasi.
Situasi kontras terjadi di beberapa kota wisata lain. Yogyakarta, sebagai contoh, memang padat seperti Bandung, tetapi jaringan TransJogja yang terintegrasi, KRL Jogja-Solo, bus DAMRI yang melewati daerah wisata dan akses jalan kaki di pusat kota membuat wisatawan tetap bisa bergerak tanpa kendaraan pribadi.
Bandung belum berhasil memberikan kenyamanan serupa. Ketergantungan yang tinggi pada kendaraan pribadi menjadikan wisata di Bandung terasa mahal, melelahkan, dan tidak inklusif bagi mereka yang tidak bisa membawa kendaraan sendiri.
Sebagai daerah pariwisata, sudah sewajarnya jika pemerintah Kota Bandung mulai memberikan perhatian bagi transportasi umum yang terintegrasi. Bukan hanya demi pariwisata belaka, melainkan demi kenyamanan warganya juga. (*)