Seperti mimpi rasanya jika tinggal di daerah yang sejuk dan menyegarkan mata dengan kehangatan warga di kota Bandung. Akan tetapi, pesona Kota Bandung sendiri telah berubah menjadi kota yang penuh desak, baik di hari-hari normal maupun akhir pekan.
Kota Bandung sendiri memiliki sebuah permasalahan yang sering diperbincangkan di ruang publik dan tidak pernah selesai, yakni kemacetan. Permasalahan tersebut terus hadir dalam perbincangan di ruang publik, hingga pada saat debat kontestasi pemilihan kepala daerah.
Kemacetan yang terjadi Kota Bandung sendiri menjadi polemik yang sering menjadi kritik terhadap pemangku kebijakan di Kota Bandung. Termasuk ke pemerintahan Kota Bandung terkini yang dipegang oleh Bapak Muhammad Farhan sebagai Walikota Bandung sejak akhir tahun 2024.
Kemacetan dapat disebabkan seperti menumpuknya kendaraan di satu jalan, hingga pengemudi yang melawan arah, sehingga jalan seakan-akan menjadi satu jalur. Tapi, ada salah satu penyebab kemacetan yang jarang diketahui, yaitu keberadaan parkir liar yang mengambil setengah bahu jalan.
Masalah parkir liar ini menyebabkan kemacetan bukan karena jumlah kendaraan yang banyak, tetapi karena menyempitnya jalan untuk lahan parkir liar. Karena semakin menyempitnya jalan karena parkir liar ini, kemacetan sering terjadi karena jalan tersebut hanya muat untuk satu mobil.

Seperti Jalan Purnawarman dekat Bandung Electronic Center, kendaraan pribadi sering parkir di bahu jalan dan menghalangi zebra cross. Contoh tersebut baru terjadi di satu jalan saja, belum jalan lain yang lebih buruk dibandingkan jalan purnawarman.
Keberadaan parkir liar sebenarnya sudah disadari oleh Walikota Bandung dengan respon yang cenderung lambat dan tidak konsisten. Setiap kali ada operasi penertiban parkir liar, juru parkir tersebut akan kembali karena tidak terkena efek jera sama sekali.
Solusi Walikota Bandung sekaligus mantan penyair tersebut seperti konsep park and ride yang menggabungkan lahan parkir dan wisata kuliner. Solusi tersebut justru tidak dapat menunaskan keberadaan parkir liar dan akan membuat oknum-oknum parkir liar semakin banyak.
Solusi yang harus digunakan harus benar-benar berasal dari masukan seluruh masyarakat dan pihak terkait dengan Kota Bandung. Sehingga, orang nomor satu di Kota Bandung tersebut harus memiliki solusi berdasarkan masukan dari warga maupun para pekerja.

Cara untuk mengatasi parkir liar adalah membangun lahan parkir bawah tanah, menutup jalan-jalan tertentu untuk kendaraan pribadi, dan memperbanyak feeder. Selain itu, patroli aktif yang dijalankan tiap hari oleh aparat gabungan dapat mengurangi jumlah oknum parkir liar.
Baca Juga: Fasilitas Kurang Lengkap Dianggap Penyebab Kemacetan, Layanan Transportasi Umum Kapan Ditingkatkan?
Solusi yang disebutkan berdasarkan konsep tata letak superblock yang memaksa pengguna kendaraan pribadi untuk tidak merasa nyaman berkendara di kota. Sehingga membuat pengguna tersebut terpaksa untuk jalan kaki, ini lebih menguntungkan dibandingkan konsepnya Pemerintahan Muhammad Farhan, yakni park and ride.
Kendati demikian, solusi tersebut adalah cara bagaimana mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan lahan parkir liar untuk memaksimalkan area pedestrian. Harapan saya kepada Bapak Muhammad Farhan memakai solusi tersebut agar jumlah parkir liar dan kemacetan di kota Bandung dapat berkurang. (*)