Bukit-bukit di lereng-lereng Cekungan Bandung sudah dikelupas. Hutan alami sudah lama berganti menjadi hutan produksi, dan kini sudah tak terkendali, sudah berganti menjadi kebun kentang dan bawang. Tak ada akar pohon yang memeluk tanah, akar yang menyimpan air. Perdu yang tersisa sudah mongering. Tanah kerontang, pecah-pecah, retak-retak, hancur hingga seukuran butir pasir halus. Kelembaban tanah menghilang dikelantang matahari pada siang hari. Pada musim kemarau, angin tenggara meniup tanah pucuk yang paling subur. Dan, ketika musim barat, angin membawa uap air, yang mengembun kemudian turun menjadi hujan. Curahannya sudah tak menimpa daun dan ranting pohon. Air hujan langsung jatuh menimpa tanah, lalu menyipratkan butiran-butiran tanah. Air hujan yang melimpas di permukaan, sekaligus menggerus tanah pucuk paling subur, tanah hitam hasil pelapukan dari abu letusan gunung api yang ditebarkan angin.
Bila taka da waktu untuk melihat kehancuran hutan, lihatlah kehancuran hutan itu pada saat hujan turun. Air sungai yang meluap, kental oleh lumpur berwarna coklat gelap. Sesungguhnya itulah banjir lumpur. Saat-saat tanah pucuk dengan sengaja dihanyutkan ke lembah-lembah, memenuhi dasar sungai, mengendap di dasar danau dan di muara sungai. Inilah misteri. Misteri kehilangan. Kehilangan tanah pucuk paling subur hanya dalam sekilat akan beralih dari lereng-lereng bukit dan gunung ke lembah-lembah. Kenyataan ini terjadi di mana-mana. Lamping, gulampeng, lereng-lereng bukit dan gunung yang curam sudah dikelupas, sudah boleger, sudah menjadi luka alam yang menganga.
Banjir dan hanyutnya tanah pucuk, terus terjadi, berulang setiap setiap waktu. Nyawa yang teramat berharga melayang tertimbun longsor atau hanyut bersama rumah dan harta bendanya. Kebun, sawah, jalan, jembatan, hancur, yang sering tak terkirakan sebelumnya. Kehancuran yang menelan korban jiwa terus berlangsung silih berganti, datang dengan akibat yang semakin berat, dengan jangkauan yang semakin luas.
Musim penghujan dan musim kemarau berlangsung setiap tahun. Hujan turun dan terik matahari terus berulang. Ketika hutan masih terjaga, pepohonan dapat memeluk tanah, menyimpan butir-butir air dalam tanah, dan mengatur jumlah air yang dilepaskan menjadi mata air. Bila sekarang hujan turun dengan lebat, sesungguhnya bukan hanya terjadi pada tahun ini, tapi juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Orang sering kali keliru dalam melihat sebab dari suatu peristiwa alam. Ketika terjadi caah dengdeng, banjir bandang, banyak yang menyalahkan hujan, tidak melirik bagaimana sesungguhnya keadaan tutupan hutan. Untuk kasus di Cekungan Bandung, W.A. van der Kars (1995) melaporkan, curah hujan selama 135.000 tahun, justru menunjukkan adanya penurunan yang berarti.
Karena kehancuran lingkungan di hulu Ci Tarum, pada tahun 1982, PU melaporkan, Danau Saguling menerima kiriman sebanyak 4 juta meter kubik lumpur setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan 500.000 truk tronton. Sejak laporan itu dibuat sampai tahun 2025, maka jumlah lumpur yang masuk ke danau Saguling sebanyak 43 tahun x 4 juta meter kubik = 127.000.000 meter kubik. Tentu, jumlah itu akan menggila karena kehancuran lingkungan di hulu dan tengah sungai belakangan ini.
Demonstrasi alam berupa banjir, longsor, dan penurunan kualitas tanah, merupakan bukti telah terjadi kehancuran lingkungan yang sudah berlangsung lama.
Bagaimana keadaan hutan di lereng utara Cekungan Bandung pada masa lalu? Inilah keadaan lingkungan Bandung Utara yang terekam dalam toponimi di kawasan itu.
Ketika leuweung, hutan, masih terjaga, ada toponim Leuweungdatar. Ada hutan yang ronabuminya datar. Di hutan Bandung Utara tumbuh beragam pohon dan tumbuhan, seperti yang menjadi nama geografis berikut ini: Cihaurkukuh (bamboo haur), Babakan Awilega (bambu), Babakanteureup (pohon teureup), Biru (pohon biru), Cibiru (pohon biru), Bojongkihiang (pohon Ki Hiang), Bojongpulus (pulus), Buahbatu (pinang), Buluh (bambu), Burahol, Campaka, Ci Bitung (bambu), Ci Kapundung (pohon kapundung), Ci Surian (pohon surian), Ciawitali (bambu), Cicalung (pohon Ki Calung), Cidadap (pohon dadap), Cidurian, Cijambe, Cijengkol, Cikapundung, Cikareumbi, Cikoang, Cikole (kole), Cikupa (pohon kupa), Cileunyi (pohon leunyi), Cimenyan (pohon Ki Menyan), Cinangka (pohon nangka), Cinunuk (pohon nunuk), Cipicung (pohon picung), Citapen (pohon tapen), Karasak (pohon karasak), Ki Areng (pohon Ki Areng), Kiarajanggot (pohon kiara), Kosambi (pohon kosambi), Lampegan (rumput/perdu), Malaka (pohon), Palasari (tumbuhan merambat), Pasirmuncang (pohon kemiri), Pasirsalam (pohon salam), Peundeuy (pohon peundeuy), Salam (pohon salam), Sekebihbul (pohon bihbul), Sekeloa (pohon loa).
Di dalam hutan itu berkeliaran beragam binatang, seperti yang abadi dalam dalam toponim. Ada: Batumeong (harimau), Cibagong (babi hutan), Cibanteng (banteng), Cigagak (burung gagak), Cigaruwik (babi hutan), Cigulukguk (babi hutan), Ciharegem (harimau), Cikidang (kijang), Ciruangbadak (badak), Ciung (burung ciung), Gunung Maung (harimau), Lebakbadak (badak), Legokbadak (badak), Pasir Heulang (burung heulang), dan Pasir Pamoyanan (harimau).
Tom Dale dan Vernon Bill menulis dalam bukunya Topsoil and Civilisation: “Manusia beradab hampir selalu berhasil menguasai alam untuk sementara waktu. Kesulitan yang dihadapi terutama bersumber pada fikirannya, bahwa kekuasaan yang bersifat sementara itu dikiranya abadi. Dia menganggap dirinya ‘menguasai seluruh dunia’, padahal dia tak mampu mengetahui hukum alam sepenuhnya. Manusia, baik biadab maupun beradab, adalah anak alam, bukan tuan yang menguasai alam. Kalau dia mau mempertahankan kekuasaannya atas alam, dia harus menyesuaikan diri pada hukum-hukum alam. Jika mengelak, lingkungan yang mendukung hidupnya akan merosot, maka peradabannya akan memudar pula. Pada garis besarnya, sejarah manusia beradab yang berjalan di muka bumi meninggalkan padang pasir di jejak kakinya.”
Baca Juga: Toponimi Gandasoli
Wiranto Arismunandar, Rektor ITB periode 1991-1996, dalam diskusi pembangunan Jawa Barat Selatan (9/11/2007) menyebutkan, pembangunan Jawa Barat harus berpangkal dari pembangunan hutan. Kesejahteraan masyarakat akan membaik bila pembangunan kehutanannya berhasil. Wiranto berkeyakinan, tidak perlu tenaga nuklir bila hutan benar-benar dibangun kembali dan terjaga.
Kini, hutan-hutan di sekeliling Cekungan Bandung, demikian juga di Provinsi Jawa Barat, sudah sangat mengkhawatirkan. Kehancuran hutan sama dengan hilangnya tanah pucuk yang sangat subur, disusul urug, tanah longsor, yang dapat menyengsarakan masyarakat di sana, menimbun persawahan, penimbun permukiman, memutus jalan, dan banjir besar dengan segala akibat, dan hancurnya nilai kemanusiaan. Hilangnya hutan akan menghilang air yang semula tersimpan di akar-akar pohon. Karena hutan merupakan danau air jernih yang tak nampak. Krisi air akan terjadi meluas dan dalam waktu yang lama.
Air tanah dalam di dasar Cekungan Bandung saat ini, boleh jadi itu merupakan air meteorik yang tercurah di hutan puluhan ribu tahun yang lalu, yang saat ini tersimpan di dalam bumi Cekungan Bandung, yang sedang disedot habis-habisan.
Betulkah para pemimpin dan masyarakat di Cekungan Bandung dan di Jawa Barat mencintai lemah cai-na, tanahairnya? Saatnya dibuktikan! (*)