Ayo Netizen

Kerja Sama Desain Industri Menciptakan Nilai Tambah dan Lapangan Kerja

Oleh: Totok Siswantara Selasa 10 Feb 2026, 09:35 WIB
Hendro Wangsanegara, industrialis dan pendiri PT Pudak sedang menunjukkan komponen machining pesanan PT Kapal Api (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Pelaku proses desain dari kalangan perguruan tinggi (PT) atau dari instansi pemerintah yang mengurusi industri dan ekonomi kreatif perlu bekerja sama dengan industriawan terkait dengan produk yang layak dipasarkan.

Pada saat bulan Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri, bermacam produk banyak bermunculan merebut perhatian konsumen.  Bahkan jutaan pemudik lebaran yang akan berlibur di kampung kelahirannya, tentunya banyak yang membeli produk-produk industri di daerahnya. Baik yang berupa barang kerajinan, alat rumah tangga, hiasan rumah, hingga produk furniture. Sehingga faktor desain industri yang baik sangat menentukan tingkat kepuasan para konsumen yang notabene adalah para pemudik.

Kelayakan proyek desain penting dilaksanakan karena didukung oleh sejumlah informasi, data yang bersifat objektif dan tidak kadaluarsa. Proyek desain produk yang selama ini banyak dilakukan oleh PT dan lembaga pemerintah perlu bekerja sama dengan industri manufaktur.

Manufaktur merupakan proses mengubah bahan baku atau material hingga menjadi produk jadi atau setengah jadi dalam skala besar menggunakan mesin, peralatan, dan tenaga kerja. Bertujuan untuk menciptakan produk bernilai tambah yang tinggi yang kemudian didistribusikan ke konsumen atau produsen lain.

Kerja sama desain industri untuk menciptakan nilai tambah lokal dan memacu industrialisasi daerah perlu bekerja sama dengan para industriawan. Industriawan bukan sekedar pedagang. Industriawan adalah orang yang memiliki, mengelola, atau menjalankan usaha di bidang industri, terutama dalam skala manufaktur dan produksi besar.

Terkait dengan desain industri untuk produk manufaktur, penulis sempat berdiskusi dengan Hendro Wangsanegara, industriawan pendiri perusahaan yang bisa dibilang legendaris di Kota Bandung yakni Pudak Scientific. Sebagai industrialis, kakek yang telah memiliki banyak cucu ini menawarkan kerja sama desain industri kepada para pakar desain produk dari perguruan tinggi maupun lembaga pemerintah.

Hendro Wangsanegara tengah menjelaskan tentang produk alat peraga pendidikan dan praktikum sekolah kepada tamunya dari Kementerian Perindustrian (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Menurut Pak Hendro ini penting lantaran desain produk saat ini sangat menentukan dalam persaingan. PT Pudak sendiri selama ini telah tumbuh menjadi industri peralatan pendidikan, laboratorium sekolah, peralatan praktek vokasi untuk SMK dan mahasiswa, furniture untuk pendidikan dan perkantoran, glassware, implant dan medical equipment, hingga produk komponen untuk pesawat terbang dan alutsista.

 “Perlu stimulus yang bisa dijalankan secara baik agar kerjasama desain industri menjadi produk yang lebih konkrit dan unggul di pasar. Oleh karena itu, sangatlah penting masukan dan pengalaman dari pakar desain produk. Agar gagasan desain ideal untuk dikembangkan,” ungkap Pak Hendro kepada penulis.

Dari kacamata ilmu desain produk, banyak gagasan yang secara sekilas terlihat mencengangkan, namun setelah dicoba untuk direalisasikan, ternyata sangat sulit atau bahkan tidak mungkin direalisasikan menjadi produk yang baik.

Kerja sama desain industri searah dengan komitmen Pemkot Bandung melalui Wali Kota Muhammad Farhan, yang menegaskan terus menyeimbangkan antara pembangunan dan perkembangan ide-ide kreatif. Hal itu pernah disampaikan dalam kegiatan Simposium UNESCO Creative Cities Network (UCCN) City of Design Subnetwork di Gedung Center of Art, Design, and Language (CADL) Institut Teknologi Bandung.  Wali Kota Bandung bertekad memperkuat posisi daerahnya sebagai pusat kreativitas nasional.

Peralatan pendidikan vokasi otomotif hasil desain industri PT Pudak Scientific (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Sinergi Desain Industri dan Manufaktur

Desain industri dan manufaktur di Kota Bandung perlu bersinergi agar bisa berkembang pesat. Kerja sama berfokus pada teknologi presisi, produk kreatif, dan orientasi ekspor. Lembaga pendidikan seperti Polman Bandung dan ITB yang telah menjadi pusat perancangan dan manufaktur alat/mesin memiliki peran yang penting.

Politeknik Manufaktur Bandung (Polman) memiliki keunggulan dalam teknologi manufaktur, dies, moulding, perancangan perkakas presisi, dan mesin khusus melalui Production Based Education. Sedangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat Program Studi Desain Produk menghasilkan ahli yang unggul pada pengembangan produk kreatif dan fungsional.

Pada prinsipnya Desain industri (Industrial Design) berkaitan dengan semua aspek manusia dari suatu produk yang dibuat  secara  masinal  dan  hubungan  antara  manusia  dengan  lingkungan  dimana manusia  itu  berada. 

Desainer  industri mengerjakan  fungsi  enjiniring  faktor manusia  dari produk  yang  bersangkutan  (human  factors  engineering),  keamanan  (safety),  bentuk  (form), warna, pemeliharaan  (maintenance) dan biaya. Desain  Industri berhubungan dengan produk konsumer dan juga produk barang-barang industri.

Agar mencapai tujuan yang diinginkan, desainer  industri  harus  terlibat  di  dalam  empat  aktivitas  riset  dan  pengembangan  yang paling  utama  yaitu:  perilaku manusia  (human  behavior)  perangkat  perantara manusia  dan mesin  (human-machine  interface),  lingkungan  dan  produk  itu  sendiri. Cakupan  area  desain industri  adalah  furniture,  peralatan  rumah  tangga  (housewares),  perangkat  elektronik (appliances), transportasi, perkakas, peralatan kebun, perangkat medis/ instrumen elektronis, human interface, dan peralatan pendukung aktivitas rekreasi.

Desain Industri adalah seni terapan dimana terdapat faktor estetika dan kegunaan (usability) dari  produk  yang  harus  dioptimalisasi  agar  dapat  diproduksi  dan  dijual. 

Peranan  desain industri  adalah menciptakan dan menerapkan  solusi-solusi desain  terhadap permasalahan yang ada pada bagian enjiniring,  faktor penggunaan  (usability), pemasaran, pengembangan merek dan penjualan. Secara  umum,  Desain  industri  adalah  pertemuan  antara  enjiniring mekanis  dengan  seni. Desainer industri mempelajari fungsi dan bentuk dan keterhubungan antara produk dengan penggunanya.  Biasanya  desainer  industri  bermitra  dengan  engineer  dan  pemasar  untuk  dapat mengidentifikasi  kebutuhan-kebutuhan  konsumen  dan  juga  hal-hal  ekspektasi  konsumen lainnya.

Hendro Wangsanegara sedang menunjukkan salah satu desain produksi dari perusahaannya yakni Mini Roaster 100 (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Proses Kreatif untuk Memberikan Nilai Tambah

Dalam konteks profesionalisme, desain industri merupakan layanan profesional dalam menciptakan dan mengembangkan konsep dan  spesifikasi yang akan mengoptimalisasikan  fungsi, nilai-nilai dan penampilan dari produk dan sistem untuk keuntungan bersama antara pengguna dan produsen (manufacturer).

Banyak  desainer  industri  yang menggunakan beraneka macam metodologi dalam proses kreatifnya. Beberapa proses yang sering  digunakan  adalah  riset  pemakai  (user  research),  sketsa,  riset  komparasi  produk, pembuatan  model  (mockup),  pembuatan  purwarupa  (prototyping)  dan  pengujian.  Proses-proses  ini  dapat  secara  kronologis  atau  secara  prediksi  terbaik  yang  dibuat  oleh  desainer dan/atau  anggota  tim  pengembangan  produk  lainnya. 

Desainer  Industri  biasanya menggunakan  piranti  lunak  tiga  dimensi,  CAID  (Computer-aided  industrial  design)  dan  program  CAD  (Computer  Aided  Design)  untuk  merealisasikan  konsep  ke  produksi.

Baca Juga: Merawat Ingatan Kampung Lewat Instagram, Kisah di Balik Homeless Media @cipicungbergerak

Karakteristik produk yang dibuat oleh desainer industri mencakup bentuk keseluruhan dari objek yang dimaksud, detail perletakan  fungsi yang  saling berkaitan, warna,  tekstur,  suara dan  aspek-aspek  yang  terkait dengan  kenyamanan manusia  (ergonomi). Desainer  industri juga dapat ikut memberi masukan tentang proses produksi, pilihan material, dan bagaimana cara produk  tersebut  akan dijual kepada konsumen. Pemanfaatan desainer  industri dalam proses  pengembangan  produk  dapat  meningkatkan  nilai  melalui  peningkatan  cara penggunaan  (improved  usability),  pengurangan  ongkos  produksi  dan  produk  yang  lebih menarik minat.

Itulah sebabnya konsultan desain terkemuka di dunia seperti misalnya IDEO semakin giat mensinergikan SDM yang memiliki latar belakang prodi berbeda. Mulai dari seniman, insinyur mesin dan elektro, ahli material, programer TIK hingga psikolog. Semuanya melakukan proses kreatif untuk memberikan nilai tambah. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam