Menjelang azan magrib, lobi Hotel Savoy Homann di Bandung mulai ramai. Para tamu hilir-mudik, sebagian menunggu waktu berbuka puasa. Di salah satu sudut ruangan, empat orang duduk mengitari meja kecil. Percakapan diantara mereka mengalir santai, tentang musik lama, majalah lawas, dan kenangan Bandung sebagai kota yang pernah menjadi pusat kreativitas anak muda.
Di tengah obrolan itu, seniman dan budayawan Bandung Boy Worang membuka cerita tentang masa lalu kota ini. Ia mengingat Bandung pada akhir 1960-an hingga 1970-an, ketika musik, teater, sastra, dan seni rupa tumbuh dengan gairah baru.
“Bandung waktu itu seperti ruang eksperimen,” katanya. “Anak-anak muda mencoba banyak hal.”
Sabtu sore, 28 Februari 2026, kami kembali bertemu di tempat yang sama. Kami berempat, ada seniman dan budayawan Bandung Boy Worang, Agus Wahyudi, Kemal Ferdiansyah, dan Kin Sanubary. Kali ini ada tamu dari Jepang, Ai Takeshita, akademisi yang selama bertahun-tahun meneliti seni dan budaya Indonesia.
Ai tidak datang sendiri. Ia membawa Yudai Hamanaka, mahasiswa asal Jepang sekaligus anak didiknya. Yudai tengah menjalani program tugas belajar selama enam bulan di Subang, Jawa Barat.
Bagi Ai, pertemuan seperti ini lebih dari sekadar bagian dari penelitian akademik. Percakapan langsung dengan para pelaku budaya adalah cara penting untuk memahami kehidupan budaya Indonesia dari dekat.
Ai meraih gelar doktor dari Program Pascasarjana Bahasa dan Masyarakat di Osaka University pada 2011. Kini ia mengajar di Tokyo University of Foreign Studies, dengan fokus kajian pada sastra dan budaya Indonesia kontemporer.

Namun hubungan Ai dengan Indonesia dimulai jauh sebelumnya.
Pada 1995 ia datang ke Jakarta untuk belajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sejak saat itu Indonesia menjadi bagian penting dari perjalanan intelektualnya. Ia rutin datang ke Indonesia, biasanya dua kali dalam setahun, untuk menelusuri berbagai dinamika budaya di Jakarta maupun kota-kota lain.
Perjalanan itulah yang kemudian membawanya ke Bandung.
Menurut Ai, Bandung memiliki atmosfer yang berbeda dari Jakarta. Kota ini menyimpan sejarah panjang dalam perkembangan seni dan musik Indonesia, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih akrab.
“Budaya Sundanya terasa sangat kuat,” katanya. “Orang-orangnya ramah, suasananya hangat.”
Pertemuan Sabtu sore itu merupakan yang ketiga bagi kami. Sebelumnya kami pernah bertemu pada Agustus 2025 dan September 2024, juga di Hotel Savoy Homann.
Pada pertemuan pertama, percakapan berlangsung hampir empat jam, dari selepas Dzuhur hingga menjelang senja. Topiknya melompat dari musik ke sastra, dari sejarah Bandung hingga sosok seniman multitalenta Remy Sylado, serta majalah musik legendaris Bandung, Aktuil.
Percakapan itu terasa belum selesai. Karena itulah setahun kemudian pertemuan kembali terulang.
Kali ini Ai membawa kabar baru. Ia memperlihatkan salah satu tulisannya yang dimuat dalam buku Performing Arts in Contemporary Southeast Asia. Dalam buku tersebut ia menulis esai berjudul “Remy Sylado dan Dua Brouwer: Panggung Bandung 1970-an dan Kenangannya.”
Tulisan itu merupakan bentuk penghormatan Ai kepada Remy Sylado, seniman serba bisa yang meninggalkan jejak panjang dalam sastra, musik, seni rupa, dan kritik budaya Indonesia. Remy, yang wafat pada 12 Desember 2022 dalam usia 78 tahun, dikenal luas sebagai sosok berpengetahuan sangat luas hingga sering dijuluki “ensiklopedia berjalan”.

Selain esai tersebut, Ai juga menulis buku Utopia of Reversal (Genron, 2022). Ia menerjemahkan novel Saman karya Ayu Utami ke dalam bahasa Jepang pada 2007, serta berkontribusi dalam buku Popular Culture in Indonesia (1996) dan Popular Culture in Southeast Asia (2018).
Dalam berbagai penelitiannya, Ai banyak menyoroti perkembangan budaya populer Indonesia, mulai dari musik, film, novel, hingga majalah yang terus berubah mengikuti zaman.
Selama berada di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung, ia aktif bertemu dan mewawancarai berbagai tokoh seni dan budaya. Di antaranya Doel Sumbang, Benny Soebardja, Tatang Ramadhan Bouqie, Seno Gumira Ajidarma, Ermy Kullit, Arthur S. Nalan, Boy Worang, hingga Kimung Burger Kill.
Ia juga mengunjungi berbagai ruang kreatif seperti studio rekaman lama, toko kaset klasik, hingga warung kopi yang menjadi tempat berkumpul komunitas seni.
Salah satu fokus penelitiannya adalah musik pop Indonesia era 1960-1970-an. Dalam konteks itu, majalah Aktuil menjadi perhatian penting. Bagi Ai, majalah tersebut bukan sekadar media musik, melainkan potret gaya hidup urban generasi muda pada zamannya, ruang di mana pengaruh budaya Barat diterjemahkan dan diolah menjadi identitas lokal.
“Saya datang untuk meneliti,” kata Ai, “tetapi selalu pulang membawa rasa rindu. Bandung bagi saya bukan hanya kota riset, tetapi rumah kedua.”
Baca Juga: Mudik kepada 'Basa Lemes'
Senja mulai turun di Bandung. Waktu berbuka tiba.
Kami menutup pertemuan dengan santapan berbuka puasa. Di sudut lobi, Yudai Hamanaka duduk di depan piano. Jemarinya bergerak lincah memainkan beberapa lagu, menghadirkan alunan musik lembut di ruang hotel bersejarah itu.
Percakapan sore itu pun berakhir.
Namun kisah tentang Bandung, tentang musik, majalah, dan persahabatan lintas budaya, tampaknya akan terus berlanjut, bahkan hingga ke ruang-ruang akademik di Jepang. (*)