Umat Hindu menyakini perayaan hari Nyepi 1948 Saka yang jatuh pada 19 Maret 2026 itu harus menjadi momentum yang tepat untuk menebar dan mengaktualisasikan nilai-nilai Dharma, membangkitkan kesadaran persaudaraan dan persatuan guna mewujudkan keberagaman yang toleran, rukun, damai dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.
Pasalnya, segenap umat Hindu berkeyakinan persaudaraan, keharmonisan dan perdamaian merupakan segenap berkah terpenting dalam pergantian Nyepi.

Satu Bumi, Keluarga
Ini terlihat dari menetapkan tema utama perayaan Nyepi 2026 bertajuk "Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju” yang diangkat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
Bimas Hindu Kementerian Agama RI menjelaskan tema ini menjadi ikhtiar bersama untuk menekankan pentingnya persaudaraan, toleransi, serta menjaga keseimbangan alam dan kehidupan bersama.
Semuanya ini dilakukan sebagai upaya memperkuat nilai persaudaraan universal dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam pembinaannya, Pembimas Hindu Jawa Barat, Eko Prasetyo, S.Ag, menekankan ihwal tema Vasudhaiva Kutumbakam mengandung makna mendalam bahwa seluruh umat manusia merupakan satu keluarga besar yang hidup di satu bumi yang sama.
”Oleh karena itu, umat Hindu diharapkan mampu menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan menjaga kerukunan, baik antarumat seagama maupun dengan masyarakat luas,”
Dengan mendorong terwujudnya pura yang ramah anak, ramah lansia, dan ramah disabilitas, sehingga pura dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan yang inklusif dan memberikan rasa aman, nyaman bagi seluruh umat.
Ketua Panitia Nyepi Tahun Baru Saka 1948, I Komang Ardana, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pembimas Hindu Jawa Barat dan seluruh umat yang hadir saat Dharma Tula ini sebagai wujud kebersamaan umat Hindu dalam menyambut Hari Suci Nyepi.
Ketua PHDI Kabupaten Bekasi, Kombes Pol (Purn) Dr. Drs. I Made Pande Cakra, M.Si, menegaskan nilai Vasudhaiva Kutumbakam hendaknya menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu, khususnya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama umat dan masyarakat sekitar, guna menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan tenteram.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan merawat harmoni di tengah keberagaman.
Mengingat perayaan Nyepi tahun ini terasa istimewa karena berlangsung dalam suasana bulan suci Ramadan serta berdekatan dengan Idulfitri 1447 H. Pasalnya, pertemuan dua momentum keagamaan ini menjadi simbol kuat nilai kebersamaan lintas iman.
“Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pengingat bahwa kita berada dalam satu semangat Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga,"
Perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan untuk mempererat persaudaraan sebagai bangsa. Nilai itu, tercermin dalam ajaran Catur Brata Penyepian yang dijalankan umat Hindu saat Nyepi.
Melalui Amati Geni, umat diajak memadamkan api dalam diri seperti amarah dan egoisme. Amati Karya menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari aktivitas fisik dan melakukan introspeksi. Amati Lelungan mengajarkan untuk tidak bepergian, memberi kesempatan bagi alam untuk beristirahat dan memulihkan keseimbangan. Amati Lelanguan mendorong umat melepaskan hiburan duniawi demi menemukan kejernihan batin.
“Dengan menjalankan Nyepi, umat Hindu sesungguhnya sedang memberikan jeda kepada alam semesta. Jika kita memuliakan alam, maka alam pun akan memuliakan harkat kemanusiaan kita,”
Semangat Vasudhaiva Kutumbakam akan terus mendorong umat Hindu berperan aktif dalam menjaga kerukunan dan memperkuat kohesi sosial di Indonesia. (RRI, 15 Mar 2026 12:55 WIB, www.jabar.kemenag.go.id., www.kemenag.go.id)
Sejatinya perayaan tahun baru saka yang bertepatan pada tanggal satu bulan ke sepuluh (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah Tilem Kasanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra) yang diresmikan sejak penobatan raja Kaniskha dari dinasti Kushana suku bangsa Yuehchi pada tahun 78 (79) masehi ini mesti menjadi modal utama dalam membangun kehidupan bersama yang damai, rukun, toleran dan harmonis di bumi persada ini.
Kendati, dalam catatan Negarakertagama, dahulu pada masa kerajaan Majapahit pergantian tahun saka dari bulan Caitra ke Waisaka ini dirayakan secara besar-besaran. Beragam cara ritual dilakukan oleh umat Hindu.

Berkah Nyepi Terdalam
Ingat, perayaan Nyepi harus dilakukan melalui tahapan ritual; Melasti (pertobatan), Tawur (mengembalikan keseimbangan alam, manusia), Catur Brata Nyepi (empat ritual puasa; Amati geni/tidak menyalakan api; Amati Karya/tidak melakukan pekerjaan sehari-hari; Amati Lelungaan/tidak bepergian; Amati Lelanguan/tidak menghibur diri, hingga tidak boleh memasak dan juga tidak memakai lampu penerangan) dan Ngembak Geni (melakukan dharma santi/ibadah sosial berupa silaturahmi pada sanak, kerabat, tetangga).
Cita-cita agung dari perayaan ini untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan kebenaran (satyan), kesucian (siwam), dan keharmonisan dan keindahan (sundaram).

Modal Keragaman Nusantara
Menurut Swami Vivekananda dalam pidatonya tanggal 26 September 1893 di depan Sidang Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago, Amerika Serikat menguatkan kembali kebenaran tesis Tantular tentang Bhineka Tunggal Ika, menyatakan, "Agama Hindu tidak dapat hidup tanpa Agama Budha, demikian pula sebaliknya agama Budha tidak bisa hidup tanpa Agama Hindu. Menyadari apa yang diperlihatkan oleh perpisahan ini kepada kita, adalah bahwa orang-orang Budha tidak tahan tanpa otak dan filsafat orang Hindu, sebaliknya orang-orang Hindu tidak bisa hidup hidup tanpa nurani orang-orang Budha. Perpisahan antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Budha adalah penyebab kehancuran India." (Swami Vivekannda;1993:51).
Jadi pengingkaran terhadap kekuatan dari "keragaman" membawa konsekuensi melemahnya perekat persatuan kita sebagai bangsa dan persatuan kita sebagai sesama penghuni "bumi yang satu ini", yang bermuara pada disintegrasi, kehancuran bangsa, bahkan dunia ini. (Jimmy B. Oentoro, 2010: 109).
Indonesia sebetulnya memiliki perekat ampuh untuk merangkum semua perbedaan serta keberagaman etnik-kultural dan religi. Perekat itu adalah pancasila.
Tantangan fundamental muncul di kemudian hari bersamaan dengan rontoknya rezim yang pernah membajak pancasila menjadi alat persatean, bukan persatuan. Tantangan fundamental Indonesia saat ini adalah bahwa epistemologi perbedaaan dan keberagamaan etnik-kultural dan religi ternyata belum selesai.
Karena persoalan yang satu itu belum diselesaikan secara tuntas, bangsa ini pun sakit. Ini kini dilanda demam tinggi "kita-mereka"; "kita-mereka menjadi garis demarkasi yang tegas dan tebal itu antaretnik-kultural dan religi. Sudah pasti, demam tinggi "kita-mereka" ini berdampak buruk bagi bangsa dan negara yang masyarakatnya terdiri dari ragam etnis, kultur dan religi ini.
Saking tingginya demam "kita-mereka" ini pun gampang dikipas-kipasi menjadi semakin memuncak pada upaya meniadakan dan membisukan yang lain. Terbukti, demam tinggi, "kita-mereka" telah membakar Maluku, Poso, Sampit dan Sambas. Selain keempat tempat ini, juga membisukan penganut agama tertentu, misalnya penyegelan gereja; membisukan penganut aliran keagamaan tertentu seperti Ahmadiyah. (Yudhis M. Burhanuddin, 2008: 27-28).
“Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, udāracaritānāṁ tu vasudhaiva kutumbakam.” Maha Upanisad (VI.72)
Bila orang sempit pikir menganggap ‘ini saudara, itu bukan, bagi mereka yang berhati luhur seluruh dunia adalah satu keluarga Konsep persaudaraan dalam Hindu yang menekankan kasih sayang, kesetaraan, dan keharmonisan antar sesama manusia serta alam semesta.
Konsep Vasudhaiva Kutumbakam menekankan bahwa perbedaan bangsa, agama, maupun latar belakang tidak boleh menjadi sekat pemisah. Semua makhluk hidup, termasuk manusia dan alam semesta, adalah bagian dari keluarga besar ciptaan Tuhan.
Prinsip ini mengajarkan nilai kasih sayang, kesetaraan, dan rasa kemanusiaan. Setiap orang didorong untuk menghormati dan membantu satu sama lain sebagaimana saudara dalam keluarga.
Vasudhaiva Kutumbakam menjadi dasar untuk menciptakan harmoni, toleransi, dan perdamaian dunia. Ketika kita menyadari bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga, sekat-sekat perbedaan lenyap. Kita tidak lagi melihat siapa yang berbeda keyakinan, warna kulit, atau asal bangsa, melainkan yang terlihat hanyalah sesama ciptaan Tuhan yang layak dikasihi, dihormati, dan dijaga.
Baca Juga: Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi
Inilah makna sejati dari Vasudhaiva Kutumbakam, persaudaraan universal yang menuntun kita menuju kedamaian dan harmoni kehidupan. “Dengan semangat Vasudhaiva Kutumbakam, kami memohon agar dunia ini hidup dalam kasih, persaudaraan, dan kedamaian” (www.tegal.kemenag.go.id)
Mari kita jadikan perayaan Dharma Santi ini sebagai momentum penyadaran diri, perekat persaudaraan dalam menjaga keutuhan bangsa secara bersama-sama untuk menumbuh suburkan kegairahan dan kesejukan dalam setiap pemeluk (pemuka) agama guna menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bahagia dengan cara menebarkan sikap cinta kasih, damai, menghargai orang dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan pancasila.
Walhasil, Nyepi mengajarkan kita pada sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan yang rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan. Selamat Hari Raya Nyepi 1948. Semoga semua makhluk berbahagia. (*)