Peringatan Hari Kartini tahun 2026 ini mengingatkan saya dengan kehebatan Kartini masa kini yang menggeluti panas bumi untuk menghasilkan energi baru terbarukan. Kartini penggerak energi panas bumi bisa kita jumpai di Bandung Raya dan Kabupaten Garut.
Peran wanita dalam proses transisi energi berkelanjutan yakni energi panas bumi atau geothermal cukup signifikan. Peran tersebut kian mempesona karena Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina, merupakan sosok wanita yang menaruh perhatian besar terhadap sumber daya alam (SDA) di daerahnya untuk kesejahteraan rakyat.
SDA panas bumi lengket dengan wanita, tak kurang dari Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, adalah Eniya Listiani Dewi, merupakan Kartini masa kini yang menaruh perhatian besar terhadap energi panas bumi dan getol melakukan penguatan green jobs dan talenta muda yang ahli dalam Renewable Energy (RE).
Indonesia perlu mencetak SDM ahli dan terampil untuk membuat dan merawat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ( PLTP ). Potensi panas bumi di Indonesia sebesar 23,9 Gigawatt (GW). Sayangnya potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 8,9 % atau 2.130,6 MW, masih banyak yang belum dimanfaatkan. perihal ini Pemerintah menargetkan peningkatan pemanfaatan panas bumi menjadi 7.241,5 MW atau 16,8 % di 2025.
Kabupaten Garut yang dikenal seluruh dunia sebagai Swiss Van Java memiliki potensi dan sumber daya yang masih belum dibangunkan dengan proses kreativitas dan inovasi,
Sebagai lumbung energi terbarukan yang kapasitas dan mutunya uap panas bumi ( Geothermal ) yang luar biasa, mestinya semua faktor diatas bisa menjadikan masyarakat Garut hidupnya lebih sejahtera.
Keniscayaan panas bumi bisa memperbaiki tingkat sosial ekonomi masyarakat lokal yang bermukim di sekitar pembangkit Geothermal. Terlebih usaha pemanfaatan panas bumi di Indonesia masih belum banyak menggunakan teknologi yang memakai komponen lokal. Perlu meningkatkan TKDN pembangkit panas bumi. Juga perlu rekrutmen kaum perempuan lokal untuk bekerja sebagai teknisi atau tenaga operasional pembangkit geothermal.

Tingkatkan Jumlah Pekerja Perempuan
Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang menekankan kesetaraan gender perlu diperluas bagi perusahaan energi lainnya. Hal ini antara lain dengan memberikan kesempatan yang luas bagi perempuan agar mampu menjadi penggerak dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia dan bahkan di tingkat global.
Merujuk data PGEO dalam kesetaraan gender di atas tergambar dari peningkatan jumlah karyawan perempuan yang tersebar pada berbagai posisi. Pada tahun 2022, porsi karyawan perempuan di PGEO mencapai 11,91 persen, meningkat dari 11,33 persen di tahun 2020. Sementara, jumlah perempuan pada manajemen top level mencapai 13 persen di tahun 2022, meningkat hingga 3 kali lipat dibanding 2020.
Keniscayaan perusahaan energi panas bumi perlu lebih banyak lagi merekrut tenaga kerja lokal utamanya wanita. Lalu meningkatkan kapasitas karyawan wanita melalui berbagai program pengembangan, baik secara manajerial untuk pengembangan peran kepemimpinan, hingga pengembangan fungsional yang menambah keterampilan dan keahlian.
Di tengah menipisnya produksi dan ketersediaan bahan bakar fosil, perkembangan teknologi di bidang Energi Baru dan Terbarukan (EBT) telah membuat biaya pengembangan Pembangkit EBT terus menurun dan dapat bersaing dengan Pembangkit berbahan bakar fosil. Biaya eksplorasi dan juga biaya modal pembangkit listrik geothermal lebih tinggi dibandingkan pembangkit-pembangkit listrik lain yang menggunakan bahan bakar fosil. Namun, setelah mulai beroperasi, biaya produksinya rendah dibandingkan dengan pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Biaya eksplorasi dan modal pembangkit harus disertai dengan peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Makin tinggi TKDN dalam pengembangan panas bumi diharapkan dapat menurunkan biaya pokok pembangkitan listrik. Di sisi lain peningkatan TKDN akan memberi multiplier efek yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena tiap-tiap jenis industri komponen PLTP merupakan klaster industri yang didukung oleh industri-industri kecil dan menengah. Lembaga riset dan teknologi dalam negeri sudah mampu merancang dan memproduksi sepenuhnya PLTP skala kecil yakni PLTP 3 MW tipe Condensing Turbine.

Tingkatkan Komponen Lokal PLTP
Seluruh tahapan dan proses Engineering Procurement and Construction (EPC) sampai dengan manufaktur komponen pem-bangkit dilakukan oleh industri dalam negeri. Dalam pelaksanaannya, melibatkan beberapa industri sebagai mitra kerja, antara lain PT Rekayasa Industri untuk pekerjaan engineering design, PT Nusantara Turbin dan Propulsi untuk manufaktur turbin, PT Pindad manufaktur generator, PT. Boma Bisma Indra (BBI) untuk komponen-komponen separator, condenser, jet ejector dan komponen pendukungnya.
TKDN diperhitungkan berdasarkan barang dan jasa produk yang digunakan. Berdasarkan data-data dari hasil survei dari setiap perusahaan yang memproduksi komponen utama,Komponen pendukung yakni steam turbine generator, SAGS (Steam Above Gathering System) Electrical Balance of Plant (BOP) Sementara untuk Cooling Tower, Condenser, Gas Extraction SystemPiping, Civil, Instrumentation & Control. Untuk komponen piping, Civil, Instrumentation and Control seluruh jasanya bisa 100 persen berasal dari kandungan dalam negeri.
Geothermal merupakan energi baru dan terbarukan yang bisa menghasilkan tenaga Listrik yang ramah lingkungan. Potensi sumber daya geothermal di Indonesia selain volumenya yang sangat besar juga ditambah lagi dengan mutu baku termodinamika yang sangat bagus. Kebanyakan reservoir geothermal di Indonesia dari sisi geokimia memiliki kualifikasi panas bumi dengan indikasi steam heated springs atau sangat dominan uap, dengan PH 3-4, dan komposisi Cl dan Si0 rendah (di bawah 5 ppm). Spesifikasi itulah yang membuat lapangan geothermal tidak terlalu banyak tercium bau belerang sehingga sangat ideal untuk diproses menjadi tenaga listrik.
Pengusahaan geothermal sangat menguntungkan secara bisnis. Namun usaha itu sering menimbulkan sengketa antara pihak investor atau kontraktor dengan pihak pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Kompleksitas pengusahaan geothermal perlu dicarikan solusinya secara adil. Tidak bisa dimungkiri bahwa pengusahaan geothermal selama ini mengandung ironi, seperti terlalu murahnya harga uap atau energi geothermal, kerusakan lingkungan dan sosial, minimnya kontribusi kepada masyarakat sekitar serta rendahnya penggunaan jasa dan komponen lokal.

Potensi sumber daya geothermal di Jawa Barat cukup besar. Secara ekonomis sangat menggiurkan karena mutu baku termodinamika yang sangat bagus. Dari aspek geokimia memiliki kualifikasi panas bumi dengan indikasi steam heated springs atau sangat dominan uap, dengan PH 3-4, dan komposisi Cl dan Si0 rendah.
Spesifikasi itulah yang membuat lapangan geothermal tidak terlalu banyak tercium bau belerang sehingga sangat ideal untuk diproses menjadi tenaga listrik. Reservoir geothermal itu memiliki tekanan rata-rata 35 bar, dengan suhu rata-rata 250 derajat celcius. Spesifikasi tersebut menunjukkan reservoir tergolong entalpi tinggi. Hal ini membuat pemanfaatan panas bumi tersebut tidak rumit.
Sebagai gambaran tentang bagusnya kualitas reservoir bisa dilihat di PLTP Kamojang yang terbukti dengan adanya sumur yang masih berproduksi dengan baik meskipun telah 20 tahun beroperasi. (*)