Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?
Pertanyaan ini mungkin terdengar nyeleneh. Masa iya manusia—yang disebut sebagai makhluk paling mulia—harus belajar dari binatang? Namun jika direnungkan lebih dalam, pertanyaan ini justru membuka ruang kesadaran: bahwa kebenaran dan hikmah bisa datang dari mana saja, termasuk dari makhluk yang sering kita anggap lebih rendah.
Tulisan ini lahir dari pengamatan sederhana di rumah, tentang empat ekor kucing betina: Boli, Moli, Ice Cream, dan Cimol. Mereka bukan kucing ras mahal, bukan pula hewan peliharaan yang sejak awal dirawat secara khusus. Mereka hanyalah kucing kampung yang datang, tinggal, lalu menjadi bagian dari kehidupan kami.
Namun dari merekalah, pelajaran besar itu muncul.
Boli adalah yang pertama melahirkan. Empat anak kucing lahir dengan warna yang beragam—ada yang bermata seperti panda, ada yang belang, ada pula yang abu-abu. Semuanya tampak sehat dan menggemaskan.
Namun beberapa hari setelah melahirkan, Boli mengalami luka serius akibat perkelahian dengan kucing lain. Luka itu membuatnya menyendiri di sudut rumah dan tidak lagi menyusui anak-anaknya.
Kami mencoba mengambil alih peran itu. Dengan dot kecil dan susu formula, anak-anak kucing itu kami rawat. Tidak mudah—mereka menolak di awal, namun perlahan belajar menerima.
Sayangnya, alam memiliki caranya sendiri. Satu per satu anak Boli tidak bertahan. Hingga tersisa dua ekor saja.
Dari sini saja, sudah ada pelajaran tentang keterbatasan manusia. Bahwa sebaik apa pun usaha menggantikan peran alami, tetap ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya kita ambil alih.
Di tengah situasi itu, muncul kejadian yang tak terduga.
Ice Cream, yang saat itu juga sedang hamil, mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ia mendekati saya, mengeong seolah ingin “berbicara”, lalu menunjukkan tempat yang ia pilih untuk melahirkan—sebuah rak buku bagian bawah.
Setelah kami siapkan dengan kain, ia masuk dengan tenang. Ada ekspresi yang sulit dijelaskan—seolah ada rasa lega, bahkan seperti “ucapan terima kasih”.
Keesokan harinya, Ice Cream kembali mendekat. Kali ini ia seperti meminta izin untuk membawa dua anak Boli ke tempatnya.
Dan benar saja. Dua anak kucing itu ia pindahkan, lalu ia melahirkan dua anaknya sendiri.
Kini, ia merawat empat anak sekaligus—dua anaknya, dan dua anak “keponakannya”.
Apakah ini kebetulan? Atau ada naluri empati yang bekerja?
Kita mungkin tidak punya jawaban pasti. Tapi yang terlihat jelas adalah: ia mengambil tanggung jawab yang bukan miliknya.
Kisah berikutnya datang dari Moli.
Seperti Ice Cream, Moli juga “memberi tanda” saat akan melahirkan. Setelah disiapkan tempat, ia melahirkan empat anak dengan lancar.
Beberapa hari kemudian, giliran Cimol.
Namun berbeda dari kebiasaan kucing yang mencari tempat tersembunyi, Cimol justru mendekati kotak tempat Moli berada. Ia mengeong, seolah meminta izin.
Setelah “diizinkan”, ia masuk dan mendekati Moli. Yang terjadi kemudian sungguh menarik: Moli menjilati tubuh Cimol, seakan membantu proses persalinannya.
Tak lama, Cimol melahirkan empat anak.
Satu kotak, dua induk, delapan anak.
Mereka berbagi tempat. Berbagi peran. Bahkan berbagi tanggung jawab sebagai “orang tua”.
Dari empat kucing ini, kita belajar banyak hal sederhana namun dalam:
Tentang empati—ketika Ice Cream merawat anak yang bukan miliknya.
Tentang tanggung jawab—ketika peran yang kosong diisi oleh yang lain.
Tentang etika—ketika Cimol “meminta izin” sebelum masuk ke ruang orang lain.
Tentang kerja sama—ketika Moli membantu proses kelahiran saudaranya.
Nilai-nilai yang justru semakin mahal dalam kehidupan manusia modern.
Di tengah kehidupan hari ini, kita sering menyaksikan hal yang berbanding terbalik.
Orang membuang sampah sembarangan, seolah lingkungan bukan tanggung jawab bersama.
Empati menjadi tipis, tergantikan oleh kepentingan pribadi.
Bantuan seringkali dihitung untung-rugi.
Bahkan hal sederhana seperti mempermudah urusan orang lain pun terasa berat.
Ungkapan seperti “tidak ada makan siang gratis” atau “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” seolah menjadi prinsip hidup sebagian orang.
Belum lagi kisah-kisah penyerobotan lahan, konflik kepemilikan, hingga praktik yang mengabaikan keadilan—semua menunjukkan bagaimana manusia bisa kehilangan nurani.
Padahal sejatinya, saling membantu adalah fitrah.
Menariknya, di saat manusia kadang kehilangan arah, binatang justru menunjukkan naluri dasar yang “lurus”.
Kita sering mendengar kisah anjing yang merawat anak kucing, atau lumba-lumba yang menolong manusia di laut. Bahkan dalam keseharian, hewan hanya mengambil seperlunya untuk bertahan hidup—tidak serakah, tidak berlebihan.

Bandingkan dengan manusia: ketika kesempatan terbuka, seringkali bukan sekadar mengambil yang dibutuhkan, tetapi mengambil sebanyak mungkin yang bisa diambil.
Di sinilah letak ironi itu.
Al-Qur’an telah mengingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 179:
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memilik hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh) dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”
Ayat ini bukan merendahkan manusia, tetapi justru mengingatkan: kemuliaan manusia terletak pada bagaimana ia menggunakan hati, akal, dan inderanya.
Jika semua itu tidak digunakan, maka derajat itu bisa jatuh—bahkan lebih rendah dari binatang.
Refleksi awal bulan Mei ini menjadi pengingat sederhana:
Bahwa kebaikan tidak selalu datang dari tempat yang kita duga.
Bahwa empati tidak selalu diajarkan lewat teori, tetapi lewat pengamatan.
Dan bahwa menjadi manusia seutuhnya bukan hanya soal berpikir, tetapi juga tentang merasa dan peduli.
Empat ekor kucing di rumah itu mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka sedang “mengajar”.
Namun dari mereka, kita diingatkan kembali tentang arti menjadi manusia. (*)