Setiap tanggal 2 Mei, linimasa media sosial selalu ramai oleh ucapan "Selamat Hari Pendidikan Nasional". Foto Ki Hadjar Dewantara kembali berseliweran, lengkap dengan kutipan-kutipan inspiratif tentang pentingnya belajar. Sekolah mengadakan upacara, para siswa mengenakan pakaian adat, sementara para pejabat menyampaikan pidato tentang masa depan pendidikan Indonesia.
Namun setelah itu, sering kali semuanya kembali berjalan seperti biasa.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar penanda kalender. Harus ada sesuatu yang benar-benar meningkat setiap tahunnya. Kalimat sederhana itu terasa relevan hingga hari ini.
Sebab kenyataannya, persoalan pendidikan memang seolah tidak pernah selesai. Dari perubahan kurikulum yang terus berganti, standar pendidikan yang kerap berubah arah, hingga kesenjangan kualitas sekolah di berbagai daerah. Pendidikan sering menjadi proyek besar yang sibuk dibahas, tetapi pelaksanaannya masih menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Belum lagi polemik sistem zonasi yang sejak awal memunculkan perdebatan panjang. Di satu sisi, zonasi diharapkan menghapus label sekolah favorit dan membuka akses pendidikan yang lebih merata. Namun di sisi lain, banyak orang tua dan siswa merasa kebijakan ini masih menyisakan ketimpangan kualitas antar sekolah. Akibatnya, zonasi kerap dianggap belum sepenuhnya menyelesaikan akar persoalan pendidikan yaitu pemerataan mutu pengajaran dan fasilitas.
Perdebatan juga muncul dalam program MBG atau Makan Bergizi Gratis yang belakangan ramai diperbincangkan. Ada yang melihat program ini sebagai langkah penting untuk membantu pemenuhan gizi anak sekolah, terutama di daerah yang rentan stunting dan kekurangan nutrisi. Tetapi tak sedikit pula yang mempertanyakan kesiapan anggaran, distribusi, hingga pengawasannya agar benar-benar tepat sasaran. Sebab pada akhirnya, pendidikan memang tidak hanya berbicara soal ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana negara menjamin anak-anak dapat belajar dengan sehat dan layak.

Di tengah semua itu, guru tetap datang paling pagi ke sekolah. Murid-murid tetap membawa harapan lewat seragam yang mereka kenakan. Orang tua tetap bekerja keras demi biaya pendidikan anak-anaknya. Ada perjuangan sunyi yang terus berjalan setiap hari.
Pendidikan bukan hanya soal angka rapor, nilai ujian, atau deretan kurikulum baru. Pendidikan adalah tentang membentuk cara berpikir, menjaga rasa ingin tahu, serta menumbuhkan keberanian untuk bermimpi. Dan yang paling penting, pendidikan harus mampu memberi kesempatan yang adil bagi siapa pun.

Jangan sampai Hari Pendidikan Nasional hanya berhenti sebagai perayaan tahunan. Sebab pendidikan tidak cukup diperingati dengan spanduk dan seremoni. Ia harus hidup dalam perhatian, kebijakan, dan keberpihakan yang nyata.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Semoga pendidikan di negeri ini tidak hanya ramai diperingati, tetapi juga sungguh-sungguh diperjuangkan. (*)