Kemilau surya pagi menyapa lembut kemegahan Hari Raya Iduladha 1447 H yang bertepatan dengan 27 Mei 2026. Takbir terus berkumandang dari berbagai sudut wilayah tempat dilaksanakan salat Iduladha, menyelinap ke relung sukma. Anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka dan para orang tua tersenyum penuh syukur karena mampu melaksanakan saum Arafah bahkan ada sekaligus dapat berkurban. Dalam suasana tersebut, ada hal yang selalu menghadirkan segenap haru setiap tahun yaitu pengorbanan dan ketulusan orang-orang yang berkurban kambing atau sapi.
Dalam Iduladha bukan sekadar perayaan, tetapi adalah pelajaran tentang kasih sayang, keikhlasan, dan kemanusiaan. Di balik seekor hewan kurban yang disembelih, ada perjuangan panjang yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Ada seseorang yang menabung diam-diam selama berbulan-bulan, selama satu tahun. Ada keluarga yang rela mengurangi kebutuhan pribadi demi bisa berbagi kepada sesama. Ada pula orang-orang yang mungkin hidup sederhana, tetapi memiliki hati seluas langit untuk membantu mereka yang kekurangan. Selain tentu saja orang yang mampu secara harta punya kecukupan untuk selalu berkurban.
Tahun ini, saat Iduladha 1447 H, rasa terima kasih itu terasa tambah dalam. Saat kehidupan sekarang yang tidak selalu mudah, masih banyak orang yang memilih untuk berbagi. Ketika harga kebutuhan melambung, ketika beban hidup terasa memberat, masih ada tangan-tangan tulus menebarkan kepedulian kepada orang lain yang masih kekurangan. Mereka tidak meminta pujian serta tidak mengharapkan balasan, meski pengorbanan mereka membuat banyak hati tersentuh dan senyum yang kembali mengembang.
Banyak keluarga yang hanya dapat menikmati daging dengan puas setahun sekali melalui momentum Iduladha. Bagi sebagian orang, pembagian daging kurban terlihat biasa saja. Namun bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, itu adalah kebahagiaan yang luar biasa. Ada anak-anak yang bersorak gembira ketika bapak atau ibunya membawa pulang sebungkus daging kurban. Kemudian keluarga sederhana hari itu bisa makan nikmat bersama dengan penuh suka cita dan para lansia yang mencucurkan air mata bahagia sebab masih mendapatkan perhatian dari orang-orang sekitarnya. Semua kebahagiaan itu lahir dari ketulusan para orang yang melaksanakan kurban.
Seekor kambing yang mereka serahkan dengan ikhlas ternyata mampu menghadirkan harapan bagi banyak orang. Seekor sapi yang mereka kurbankan ternyata mampu mempererat persaudaraan di tengah masyarakat. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan menyembelih rasa egois dalam diri manusia. Kurban mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati yang tertinggi tidak berasal dari rasa memiliki, tetapi dari tindakan memberi.
Bersama gema takbir Iduladha, sesungguhnya ada doa-doa yang mengalir untuk orang yang berkurban. Doa tulus dari orang-orang yang menerima daging kurban. Doa dari hati mereka yang bening sebab merasa diperhatikan. Kemudian doa dari orang-orang kecil yang mungkin tak mampu membalas apa pun selain ucapan doa tulus serta harapan kepada Allah SWT agar seluruh amal orang yang berkurban diterima sebagai ibadah yang mulia dan menjadi ladang luas pahala mereka.

Terima kasih kepada para orang tua yang mengajarkan anak-anaknya arti berbagi melalui kurban. Terima kasih kepada para pekerja keras yang menyisihkan rezekinya demi kebahagiaan orang lain. Terima kasih kepada para dermawan yang diam-diam membantu masyarakat tanpa ingin dikenal. Dan terima kasih kepada siapa saja yang menjadikan Iduladha bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum untuk menebarkan kasih sayang.
Sesungguhnya, pengorbanan selalu memiliki bahasa yang dapat menyentuh kalbu manusia. Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya untuk berkurban, ia sedang menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah lebih besar daripada cinta kepada dunia. Ia sedang membuktikan bahwa iman bukan hanya ucapan, melainkan tindakan nyata yang membawa manfaat untuk sesama. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menjadi dasar ibadah kurban mengajarkan tentang kepatuhan dan keikhlasan tanpa tepi. Nilai itulah yang selalu menyala terang ketika Hari Raya Iduladha. Para orang yang berkurban hari ini telah menjadi bagian dari warisan keteladanan tersebut.
Di banyak tempat, suasana pembagian kurban selalu menghadirkan pemandangan yang menyentuh. Warga berkumpul dengan wajah penuh harap. Para panitia tua dan muda, laki-laki dan wanita bekerja tanpa lelah sejak pagi. Semua bersatu dalam kebersamaan yang jarang ditemukan di hari-hari biasa. Tidak ada perbedaan kaya atau miskin. Momen seperti inilah yang membuat Iduladha terasa begitu istimewa. Ia menghadirkan sisi kemanusiaan yang kadang terlupakan di tengah kesibukan hidup modern. Kurban mengingatkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita saling membutuhkan, saling menguatkan, dan saling memberi.

Ucapan terima kasih mungkin terdengar sederhana. Namun dari kalbu yang tulus, ucapan itu membawa makna yang sangat megah. Kepada seluruh orang yang berkurban Iduladha 1447 H. Ketahuilah bahwa pengorbanan anda semuanya menjadi alasan banyak orang tersenyum gembira. Anda mungkin tidak melihat semua kebahagiaan yang terwujud, tetapi Allah Maha Mengetahui setiap niat baik dan setiap ketulusan yang tersembunyi.
Semoga setiap tetes keringat dalam mencari rezeki menjadi pahala. Semoga setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kurban menjadi jalan keberkahan hidup. Semoga setiap niat tulus dibalas Allah SWT dengan kesehatan, kelapangan rezeki, ketenangan hati, dan kebahagiaan dunia akhirat. Peristiwa Iduladha mengajarkan bahwa hidup yang paling indah bukanlah hidup yang dipenuhi kemewahan, tetapi hidup yang mampu memberi manfaat bagi masyarkat lain, orang yang berkurban telah menunjukkan makna itu dengan nyata.
Anda semuanya telah membuktikan bahwa keikhlasan dalam memberi masih hidup di tengah dunia yang sering dipenuhi kepentingan pribadi. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kurban, melimpahkan keberkahan kepada anda dan keluarga, serta menjadikan Iduladha tahun ini sebagai pengingat bahwa cinta, pengorbanan, dan kepedulian adalah nilai yang akan selalu dibutuhkan manusia sepanjang zaman. Memberi adalah tindakan yang derajatnya lebih tinggi daripada rasa memiliki, terima kasih! (*)