Ibadah Kurban, antara Kesungguhan dan Batas Kemampuan

4 menit baca
Ayatullah Karim
Ditulis oleh Ayatullah Karim diterbitkan
Sapi dan kambing yang akan dikurbankan (Sumber: ayobandung.id)
Sapi dan kambing yang akan dikurbankan (Sumber: ayobandung.id)

Tok! Sidang Isbat pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan Hari Idul Adha 1446 Hijriah jatuh pada hari Jum’at, 6 Juni 2025.

Setiap menjelang hari spesial itu tiba, di media sosial banyak di-share gambar, video atau tulisan perihal semangat berkurban. Seperti pagi itu, status whatsup seorang kawan menampilkan gambar kaos bagian belakang bertuliskan ujaran bernada sindiran, “Kurban: Banyak yang tidak mau, padahal mampu. Poligami: Banyak yang mau, padahal tidak mampu.”

Di lain waktu, salah satu anggota whatsup grup warga komplek membagikan tulisan seorang motivator sekaligus pendakwah. Isi tulisan itu ingin memotivasi orang-orang agar serius memampukan diri untuk berkurban.

Kurban itu bukan soal ada uang atau tidak, tulis sang motivator, tapi upaya memaksa diri. Dengan kata lain, berkurban itu harus dipaksakan. Menurutnya, itulah hakikat berkurban. Tidak berkurban karena alasan nggak ada duit disebutnya cuma akal-akalan dan sama seperti membohongi Allah.

Dari narasinya, sang motivator seperti ingin ‘menghajar’ orang-orang yang tidak berkurban dan bersembunyi di balik dalih tidak mampu. Menuding ketidakseriusan mereka sebagai biang ketidakmampuan.

Tapi benarkah banyak orang yang tidak berkurban itu sebenarnya mampu? Dan apakah benar ibadah itu harus dipaksakan?

Idul Adha memang sebuah kesempatan bagus untuk menunjukkan ketaatan. Kesungguhan menjalankan ibadah kurban tentu sangat dianjurkan, tapi pahamilah pula bahwa dalam Islam perintah ibadah itu telah dikemas secara apik dan indah dalam bingkai kesederhanaan.

Apa itu kesederhanaan dalam ibadah?

Ialah moderat, proporsional dan seimbang, tidak berlebihan, tidak pula menerabas batas kemampuan.

Sebagaimana ibadah lainnya, kurban memiliki aturannya sendiri, artinya ada batas-batasnya. Dari sini bisa dipahami bahwa agama sendiri tidak menghendaki jika ibadahnya dilakukan secara berlebihan, hanya karena perasaan atau semangat yang kebablasan.

Sehebat-hebatnya ibadah kurban, ia hanya diwajibkan atas yang mampu. Itu pun menurut Imam Hanafi saja. Sementara tiga Imam madzhab lainnya yakni Imam Malik, Syafi’i dan Hambali, bersepakat hukumnya sangat dianjurkan (sunnah muakkadah), tidak sampai wajib.

Berkaca pada sejarah, ada fakta bagaimana praktik ibadah secara berlebihan malah dipandang sebagai tindakan tak terpuji. Sikap memaksakan diri dianggap tidak perlu dan bukan hal yang diinginkan agama.

Sebut saja tiga sahabat pada masa Nabi Saw. yang ingin melakukan banyak ibadah. Sahabat pertama ingin shalat sepanjang malam tanpa tidur. Sahabat kedua ingin berpuasa setahun penuh tanpa berbuka. Dan yang ketiga bertekad menjauhi perempuan dan tidak akan menikah.

Cara beribadah yang sekilas tampak heroik dan seolah menunjukkan semangat kesungguhan ini ternyata tidak diapresiasi Nabi. Alih-alih memuji, Nabi malah mengingkari, seraya mengajarkan bagaimana seharusnya ibadah itu dijalani.

Sebagai Nabi dan orang paling bertakwa, ibadah beliau ternyata tetap proporsional; berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam tapi juga tidur, beribadah tapi juga menikahi wanita.  Dan yang tidak kalah penting, Nabi menegaskan bahwa bersikap moderat adalah bagian dari ajarannya, termasuk dalam ibadah. Jangan sampai semangat beramal justru memberatkan diri dan malah menyelisihi ajaran Nabi.

Baca Juga: Mirip Bentuk Tanda Baca Apostrof dan Petik Tunggal, Gunanya Ternyata Beda

Gambaran lainnya ada pada seorang sahabat bernama Abu Darda. Istrinya jadi malas bersolek karena menganggap suaminya itu tak lagi menyukainya. Abu Darda dinilainya terlalu sibuk beribadah. Abu Darda memang dikenal sangat rajin berpuasa dan shalat sepanjang malam.

Salman Al-Farisi pun mengingatkannya, “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, keluargamu memiliki hak atasmu, maka tunaikanlah setiap hak tersebut pada tempatnya!” Setelah mengetahui hal itu, Nabi Saw. kemudian bersabda, “Salman benar!”

Kedua hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari ini menjelaskan kepada kita sikap Nabi yang justru tidak menghendaki ibadah yang berlebihan yang malah mendatangkan mudarat dan mengabaikan kewajiban lain yang seharusnya ditunaikan.

Kata Ulama

Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Pedagang menjajakan hewan kurban di Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani menegaskan bahwa ajaran untuk tidak ibadah berlebihan bukan tidak ingin menghebatkan ibadah, tapi agar tidak menimbukan rasa berat yang akibatnya ibadah itu kemudian ditinggalkan.

Sementara Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menyusun satu bab khusus berjudul Al-Iqtishad fi al-Ibadah, yakni sederhana dalam beribadah. Menurutnya, ibadah sesuai kemampuan akan menjadikan ibadah itu dilakukan dengan mudah dan nyaman. Sebab Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan mereka.

Perhatikan pula pesan penting dalam Surat Al-Hajj ayat 37: “Tidak akan sampai kepada Allah daging (hewan) itu dan tidak pula darahnya, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah takwa dari kalian.” Takwa itu kata Nabi adanya di dalam hati.

Jadi biarlah hati yang bicara. Jika ada yang sebenarnya mampu tapi abai, biarlah dia yang menangggung akibatnya. Namun percayalah, tidak semuanya begitu.

Tidak adil ‘mencurigai’ orang-orang yang tidak berkurban sebagai tidak bersungguh-sungguh memampukan diri. Tidak bijak menghakimi mereka yang tak mampu sebagai mengakali dan membohongi Allah.

Tulisan ini tentu bukanlah upaya demotivasi ibadah kurban, tapi sebuah kesadaran untuk mengembalikan ajaran agama pada timbangannya yang proporsional, tidak mengabaikan tidak pula memaksakan. Memberikan perspektif yang berimbang agar syari’at ini tidak tercerabut dari asasnya yang seringkali dilupakan, menginginkan kemudahan tak menghendaki kesukaran. Bukankah keseimbangan dan kesederhanaan itulah yang menjadikan agama ini indah dan ramah.

Baca Juga: Pembangunan untuk Siapa? Antara Kota Maju dan Desa yang Tertinggal

Bagi mereka yang teramat sangat ingin berkurban tapi tak jua punya kemampuan, semoga tulusnya gemeretak hati bisa mewakili ketaatan yang tak tersanggupi. Berusaha dan berdoalah semoga tahun depan ada rezeki.

Agama ini memahami bahwa selalunya akan ada batas-batas kemampuan yang tak sanggup dilampaui, meskipun sangat ingin. Berterimakasihlah kepada Sang Nabi yang telah memaklumi bahwa tidak semua umatnya mampu berkurban. Maka inilah sabdanya yang menjadi bukti cintanya untuk mereka yang tak mampu.

“Bismillah, wallahu akbar, inilah kurban dariku        

dan dari umatku yang tidak berkurban.”

(HR. Ahmad dan Abu Daud) 

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ayatullah Karim
Tentang Ayatullah Karim
Menulis untuk Berpikir

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)