Jakarta merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat salah satu kota metropolitan di Indonesia. Menurut United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA), data urban agglomeration menunjukkan bahwa kepadatan populasi Jakarta mendekati 42 juta jiwa pada 2025. Hal ini juga berbanding lurus dengan volume kendaraan yang terus meningkat, sehingga menyebabkan kemacetan. Oleh karena itu, untuk memudahkan mobilitas masyarakat, pemerintah mengintegrasikan MRT, LRT, KRL Commuter Line dan Transjakarta.
Peristiwa seperti ini sudah terjadi sejak Masa Kolonial dulu yang saat itu Jakarta bernama Batavia. Pada masa itu Batavia menjadi pusat perekonomian dan perdagangan. Agar memudahkan pengangkutan tenaga kerja dan barang pemerintah Kolonial banyak membangun sarana dan prasarana transportasi salah satunya adalah trem.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Trem dapat diartikan kereta yang dijalankan oleh tenaga listrik atau lokomotif kecil, biasanya digunakan sebagai angkutan penumpang dalam kota. Namun pada masa itu trem tidak hanya bertenagakan listrik tetapi ada juga yang bertenagakan kuda dan uap.

Jalur trem kuda pertama di Batavia resmi dibuka pada 1869 dan dikelola oleh perusahaan Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM), Berdasarkan catatan koran kolonial Bataviaasch Handelsblad tahun 1869, trem kuda ini dioperasikan oleh BTM dengan membelah rute sibuk mulai dari Pasar Ikan, Harmoni, hingga berakhir di Meester.
Trem ini memiliki 1 gerbong dengan tarif 10 sen. Namun dikarenakan kemajuan teknologi dan banyaknya kuda yang buang air besar dan kecil dimana saja menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga trem kuda ini digantikan oleh trem uap.

Pada tanggal 18 September 1881 trem uap mulai beroperasi untuk menggantikan trem kuda. Trem ini dikelola oleh Nederlands-Indische Tramweg Maatschappij (NITM). Jalur Rel untuk trem ini, yaitu dari batavia hingga Kampung Melayu, relnya berada di kanan jalan dengan dua rel kembar. Untuk tarifnya beragam karena trem ini memiliki tiga gerbong yang membagi tiga kelas sosial, yaitu gerbong depan untuk orang Eropa dengan tarif 25 sen, gerbong tengah untuk timur asing dengan tarif 20 sen, dan gerbong terakhir untuk masyarakat pribumi dengan tarif 15 sen.
Selain itu gerbong ini juga memiliki gerbong pengangkut barang yang di sebut Pikolanwagen. Dalam pengoperasiannya, trem uap dianggap terlalu bising sehingga mengganggu ketenangan masyarakat dan ketika musim hujan trem sering mogok karena cerobongnya terendam air.

Trem listrik diresmikan pada 10 april 1899 di rute kebun binatang-harmoni dan dikelola oleh Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM). Jalurnya dari Harmoni hingga Vrijmetselaarsweg. Trem ini mendapat pasokan listrik dari perusahaan listrik Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang berada di Meester Cornelis. Tarif dari trem listrik ini termasuk lebih terjangkau dari trem uap dengan orang Eropa 15 sen, timur asing 10 sen, dan pribumi 5 sen. Pada tanggal 23 April 1930 pengelola trem ini disatukan dengan pengelola trem uap (NITM) menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM).
Pada masa Presiden Soekarno transportasi trem ditutup karena dianggap tidak cocok untuk kota Jakarta atau Batavia. Dalam majalah Star Weekly terbitan 29 Maret 1960 yang dengan judul “Trem yang Siap Digusur” mengungkapkan bahwa penghapusan trem adalah untuk mengurangi kemacetan. Namun menurut menurut arsip dari tim arkeologi yang dirilis CNBC Indonesia, alasanya karena terjadi banyak masalah seperti pemogokan kerja, inflasi tinggi, kondisi politik dalam negeri yang belum stabil, dan penumpang gelap. Pada masa itu jalur rel secara bertahap ditutup oleh aspal setinggi 1 meter dari 1960 hingga 1963.
Sejak masa kolonial Batavia hingga Jakarta modern, pemenuhan kebutuhan mobilitas massal selalu bertransformasi, salah satunya melalui evolusi trem yang mendahului sistem integrasi transportasi masa kini. Bermula dari trem kuda pada tahun 1869 yang digantikan karena masalah kebersihan, teknologi ini berkembang menjadi trem uap pada tahun 1881 yang menerapkan pemisahan kelas sosial, hingga akhirnya beralih ke trem listrik yang lebih modern dan terjangkau pada tahun 1899. Namun, seluruh riwayat trem di ibu kota resmi berakhir pada era Presiden Soekarno (1960–1963) ketika jalur-jalurnya ditutup oleh aspal akibat masalah kemacetan, ketidakstabilan politik, inflasi tinggi, aksi mogok kerja, serta maraknya penumpang gelap. (*)
