Ayo Netizen

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Oleh: Feyza Mahfuda Kamis 11 Jun 2026, 19:47 WIB
Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Surya Kencana Bogor atau biasa disebut dengan Surken Bogor ini merupakan tempat kuliner yang populer di Kota Bogor. Tapi sebelum menjadi tempat kuliner yang populer seperti sekarang, Surya Kencana Bogor ini menyimpan banyak sekali kisah sejarah yang menarik.

Dulu daerah ini berawal dari Jalan Pos yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808. Kemudian berubah menjadi kawasan pecinan yang akan menjadi asal mula Surya Kencana seperti sekarang.

Sebelum ramai oleh para pedagang dan pengunjung, dulunya merupakan bagian jalur darat (Anyer-Panarukan) yang dibangun oleh Herman Willem Daendels semasa jabatannya sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1808.

Di Buitenzorg atau bogor sendiri, jalur ini membentang dari Jalan Ahmad Yani kemudian berlanjut hingga ke Jalan Jenderal Sudirman, membelok ke Jalan Juanda dan bersambung ke Surya Kencana hingga ke Ciawi. Jalur ini dibangun sebagai solusi karena jalur laut pada saat itu tidak bisa diandalkan tapi dalam pembangunannya, jalan ini juga memakan korban ribuan pekerja pribumi yang mati karena dipekerjakan secara paksa dan keji.

Alasan dibuat jalur darat ini karena komunikasi lewat laut terhambat oleh penutupan akses yang dilakukan Inggris. Jalur inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengirim surat dan pesan antar wilayah di Pulau Jawa, oleh karena itu jalan ini dikenal dengan nama Post Weg atau Jalan Pos. 

De Grote Postweg Buitenzorg (Sumber: KITLV)

Seiring berjalannya waktu, Buitenzorg mengalami perubahan tata ruang karena hadirnya penduduk Eropa dan beberapa penduduk asing lainnya seperti Tionghoa, dan Arab. Faktor lainnya, sejak terjadinya tragedi Pembantaian Tionghoa tahun 1740 di Batavia yang membuat pemerintah Hindia Belanda membentuk kebijakan Wijkenstelsel pada tahun 1835 dan baru mulai diberlakukan secara intensif di tahun 1845 di Buitenzorg.

Kebijakan Wijkenstelsel adalah peraturan yang memerintahkan agar orang timur asing harus bertempat tinggal di daerah tertentu menurut ras dan komunitasnya, tujuannya untuk memudahkan kontrol pemerintah kolonial terhadap setiap etnis serta membatasi pengaruh antar etnis.

Dengan adanya aturan ini tercipta permukiman etnis atau tempat tinggal etnis, Orang-orang Tionghoa berada sepanjang jalan Surya Kencana yang dahulunya bernama Chineesche Wijk (Kampung Tionghoa), orang Eropa berada di wilayah Pabaton, Ciwaringin, dan Cikeumeuh, orang Arab berada di wilayah Empang dan Pribumi menetap di wilayah pinggiran seperti Tanah Baru, Babakan, dan Ciheuleut.

Chinese kamp te Buitenzorg (Sumber: KITLV)

Handelstraat atau yang sekarang dikenal sebagai Surya Kencana  merupakan bagian dari Chineesche Wijk (kampung Tionghoa),  Handelstraat sendiri berasal dari bahasa Belanda yang secara harfiah artinya adalah jalur peniagaan, penamaan ini juga secara harfiah sudah menggambarkan tujuan utamanya ialah sebagai urat nadi dan pusat transaksi ekonomi utama.

Pada tahun 1905 dinamakan Handelstraat karena pada zaman belanda etnis Tionghoa tidak diperbolehkan memiliki tanah di perdesaan yang membuat mereka harus berdagang untuk memenuhi kebutuhan. Proses pergantian nama dari Handelstraat menjadi Surya Kencana ini terjadi secara bertahap  dari tahun 1950 hingga tahun 1970, tujuannya untuk menghapus jejak kolonial dan menggantikannya dengan nama-nama pahlawan atau simbol kebanggaan lokal.

Nama ini diambil dari tokoh legendaris Pangeran Suryakencana, yang dalam berbagai versi babad dan legenda Sunda, diyakini sebagai putra dari Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) atau tokoh kasepuhan penting lainnya yang terkait erat dengan Kerajaan Pajajaran.

Pemilihan nama ini bukan hanya sekadar penghormatan, melainkan sebuah penegasan identitas Sunda di pusat kota yang telah lama didominasi oleh nuansa Tionghoa dan Belanda. Ini adalah upaya simbolis untuk menghubungkan Bogor masa kini dengan keagungan dan akar sejarah Kerajaan Pajajaran.

Hok Tek Bio, Chinese tempel te Buitenzorg (Vihara Hok Tek Bio 1920) (Sumber: KITLV)

Jalan Surya Kencana yang orang orang kenal sekarang bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Surya Kencana merupakan hasil dari perjalanan panjang, mulai dari jalur darat yang dibuat Daendels hingga menjadi  zona perdagangan etnis Tionghoa  dan sekarang menjadi kawasan kuliner yang tidak pernah tidur.

Jejak-jejak perjalanan Surya Kencana masih bisa kita lihat hingga sekarang, mulai dari Vihara Hok Tek Bio yang masih berdiri kokoh di ujung jalan, dan deretan bangunan tua yang berarsitektur Tionghoa. Surya Kencana juga bukan sekadar tempat untuk mengisi perut tetapi ia adalah ruang hidup yang menyimpan cerita dari  segala lapisan waktu dan setiap langkah kaki disana adalah perjalanan menembus sejarah. (*)

Daftar pustaka:

  • Ahyar, W. N., & Sunjayadi, A. (2022). Karsten plan: Peran Ir. Thomas Karsten dalam pengembangan pemukiman Eropa di Buitenzorg 1903–1942. HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 5(1), 157–166. https://doi.org/10.17509/historia.v5i2.50941
  • Darmawan, H. W., & Movanita, A. N. K. (2025, 8 Desember). Menyelisik kota Paris di Bogor: Jejak permukiman kolonial yang tak lagi. Kompas. https://megapolitan.kompas.com/read/2025/12/08/06431241/menyelisik-kota-paris-di-bogor-jejak-permukiman-kolonial-yang-tak-lagi
  • Jannah, M. R. (2023, 19 November). Kisah Jalan Suryakencana, surga kuliner Kota Bogor di lintasan jalur Anyer-Panarukan. Tempo. https://www.tempo.co/hiburan/kisah-jalan-suryakencana-surga-kuliner-kota-bogor-di-lintasan-jalur-anyer-panarukan-119127
  • Muhammad, E. (2023, 9 Agustus). Kebijakan wijkenstelsel: Aturan kolonial yang membagi wilayah berdasarkan etnis. Harapan Rakyat. https://www.harapanrakyat.com/2023/08/kebijakan-wijkenstelsel-aturan-kolonial-yang-membagi-wilayah-berdasarkan-etnis/
  • OSKM18_16618189_Irfan Naufal. (2018, 8 Agustus). Menilik sejarah dan keunikan Jalan Pecinan Suryakencana Bogor. Budaya Indonesia. https://budaya-indonesia.org/Menilik-Sejarah-dan-Keunikan-Jalan-Pecinan-Suryakencana-Bogor
  • Pusparini, F. D. (2022). Alun-alun Empang Bogor: Dinamika tata ruang pemerintahan tradisional Bogor pada masa kolonial. Rustic: Jurnal Arsitektur, 2(2), 11–22. Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan.
  • Rudi, A., & Meiliana, D. (2021, 20 Desember). Sejarah pembangunan Jalan Raya Pos berawal dari blokade laut Inggris. Kompas. https://nasional.kompas.com/read/2021/12/20/11400051/sejarah-pembangunan-jalan-raya-pos-berawal-dari-blokade-laut-inggris
  • Santosa, R. A. (2024, 28 Oktober). Mengulik sejarah terbentuknya kawasan Surya Kencana dan Empang. Jawa Pos. https://bogor.jawapos.com/teras-bogor/2555246420/mengulik-sejarah-terbentuknya-kawasan-surya-kencana-dan-empang
  • Tanpa nama. (Tanpa tanggal). Jantung kota lama Bogor: Misteri nama Jalan Suryakencana, mengupas sejarah dan simbol naga di pusat perdagangan. Lovely Bogor. https://lovelybogor.com/blog/2025/11/27/jantung-kota-lama-bogor-misteri-nama-jalan-suryakencana-mengupas-sejarah-dan-simbol-naga-di-pusat-perdagangan/
  • Tanpa nama. (Tanpa tanggal). Kawasan Pecinan Chinesche Champ. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Surabaya. https://disbudporapar.surabaya.go.id/adinda/portaldata/cagarbudaya/detail/kawasan-pecinan-chinesche-champ
  • Tanpa nama. (Tanpa tanggal). Periode kolonialisme. Bumi Parawira. https://bumiparawira.id/periode-kolonialisme/
Reporter Feyza Mahfuda
Editor Aris Abdulsalam