Ayo Netizen

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Oleh: Nandar Hernawan Jumat 12 Jun 2026, 09:00 WIB
Illustrasi. (Sumber AI)

Menjadi mahasiswa perantauan sering kali dipandang sebagai fase yang penuh kebebasan dan pengalaman baru. Namun di balik kehidupan kampus yang terlihat dinamis, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi mahasiswa setiap harinya, terutama dalam mengelola keuangan. Bagi banyak mahasiswa di Cirebon, kehidupan merantau berarti harus mampu membagi uang kiriman orang tua untuk membayar kos, membeli makan, memenuhi kebutuhan akademik, hingga biaya transportasi. Dalam kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi salah satu faktor yang menimbulkan kecemasan tersendiri.

Bagi mahasiswa, dampak pertama yang paling terasa adalah meningkatnya biaya mobilitas. Banyak mahasiswa di Cirebon menggunakan sepeda motor sebagai sarana utama untuk pergi ke kampus, mengerjakan tugas kelompok, mengikuti kegiatan organisasi, menghadiri seminar, menjalankan program magang, hingga bekerja paruh waktu. Ketika harga Pertamax mengalami kenaikan hingga mencapai Rp16.250 per liter, pengeluaran untuk transportasi otomatis bertambah. Jika sebelumnya mahasiswa mengisi bahan bakar dengan biaya yang masih dapat dijangkau, kini mereka harus mengalokasikan dana lebih besar hanya untuk mempertahankan aktivitas yang sama.

Namun kenyataannya, persoalan tidak berhenti pada biaya transportasi. Kenaikan BBM sering kali diikuti oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan lainnya. Pedagang makanan di sekitar kampus harus menyesuaikan harga jual karena biaya distribusi bahan baku meningkat. Harga sayur, beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya berpotensi mengalami kenaikan. Bagi mahasiswa yang setiap hari mengandalkan warung makan murah atau kantin kampus, perubahan harga sekecil apa pun dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengeluaran bulanan.

Kondisi ini menjadi semakin berat karena sebagian besar mahasiswa tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Mereka bergantung pada kiriman orang tua yang jumlahnya telah ditentukan sejak awal bulan. Ketika biaya hidup meningkat sementara jumlah uang yang diterima tetap, mahasiswa dipaksa untuk melakukan berbagai penyesuaian. Ada yang mulai mengurangi frekuensi makan di luar, menghemat penggunaan kendaraan, membatasi kegiatan organisasi, bahkan menunda pembelian buku dan perlengkapan kuliah yang sebenarnya dibutuhkan.

Di sisi lain, tidak semua keluarga mahasiswa memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk menambah uang saku anaknya. Banyak orang tua yang juga menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan rumah tangga. Akibatnya, mahasiswa sering kali memilih untuk memendam kesulitan yang mereka hadapi dan berusaha bertahan dengan kondisi yang ada. Mereka belajar hidup lebih hemat, tetapi pada saat yang sama harus menjaga prestasi akademik agar tidak menurun.

Kecemasan yang muncul juga berkaitan dengan masa depan pendidikan itu sendiri. Ketika biaya hidup semakin tinggi, sebagian mahasiswa mulai khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan kuliah dalam jangka panjang. Bagi mahasiswa yang berasal dari daerah jauh dan keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, kenaikan biaya hidup dapat menjadi ancaman terhadap keberlangsungan studi mereka. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Meskipun hal tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, pekerjaan tambahan sering kali mengurangi waktu belajar dan beristirahat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi. Mereka berada pada posisi yang unik: belum memiliki penghasilan tetap, tetapi harus memenuhi berbagai kebutuhan hidup secara mandiri. Ketika terjadi kenaikan BBM, mahasiswa tidak hanya menghadapi kenaikan biaya transportasi, tetapi juga harus berhadapan dengan kenaikan harga makanan, kebutuhan pokok, dan berbagai layanan lainnya yang terdampak oleh meningkatnya biaya distribusi.

Sebagai mahasiswa di Cirebon, kami memahami bahwa kebijakan kenaikan BBM memiliki berbagai pertimbangan ekonomi dan fiskal. Namun demikian, keresahan yang dirasakan mahasiswa juga perlu mendapat perhatian. Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan justru menjadi semakin sulit diakses karena tekanan ekonomi yang terus meningkat. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang rentan, termasuk mahasiswa.

Pada akhirnya, kenaikan BBM bukan hanya soal angka yang berubah di papan harga SPBU. Bagi mahasiswa perantauan, kenaikan tersebut merupakan simbol dari bertambahnya beban hidup yang harus ditanggung setiap bulan. Ketika biaya transportasi meningkat, harga makanan ikut naik, dan kebutuhan akademik tetap harus dipenuhi, kecemasan menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Di tengah perjuangan meraih pendidikan yang lebih baik, mahasiswa berharap agar kondisi ekonomi tetap stabil sehingga mereka dapat fokus belajar tanpa dibayangi kekhawatiran tentang bagaimana cara bertahan hingga akhir bulan. (*)

Reporter Nandar Hernawan
Editor Aris Abdulsalam