Ayo Netizen

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti Selasa 16 Jun 2026, 09:31 WIB
Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)

Dalam diskursus sejarah kuliner Indonesia, khususnya di tanah Pasundan, sosok Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry. Dokumentasi perjalanan hidupnya bukan sekadar catatan biografis, melainkan sebuah artefak strategis bagi industri tata boga nasional untuk memahami bagaimana sebuah kepakaran teknis bertransformasi menjadi institusi pendidikan yang prestisius. Lahir pada tahun 1928 dengan nama Elizabeth Lim Kurnia Awangsih (Lim Kim Wang), ia merupakan putri dari pasangan Liem Teng Hwee dan Kan Tjoen Nio.

Eksistensi Ny. Liem sebagai "Maestro Boga" tidak dapat dilepaskan dari dukungan struktur kekeluargaan yang kokoh. Bersama suaminya, Hardja Gunawan (Liem Hong Goan)—putra dari Liem Ie Mo dan Khoe Tjing San—ia membangun fondasi nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya: Lim Harto, Dr. Med. Hartono Gunawan, dan Henny Hasibuan.

Sosoknya bukan sekadar pengajar, melainkan mercusuar inspirasi yang berhasil menyelaraskan teknik pastry Eropa dengan selera lokal Indonesia. Gairah tulus inilah yang menjadi titik tolak evolusi dari sebuah hobi rumahan menuju pusat edukasi boga yang melegenda.

Jejak Awal Sang Maestro

Perjalanan institusional Ny. Liem bermula dari interaksi sosial yang organik. Sekitar tahun 1966, di kediamannya di Jalan Gandapura, Bandung, ia kerap mendemonstrasikan kemahiran membuat pastry bagi para ibu di lingkungan sekitarnya. Dorongan komunitas yang masif menjadi katalisator bagi Ny. Liem untuk mensistematisasi metode pengajarannya. Pada awal tahun 1971, dengan dukungan dari rekan-rekannya, ia meresmikan kursus pertamanya yang diikuti oleh 50 murid pionir.

Ekspansi fisik menjadi tonggak penting dalam memperkuat legitimasi bisnisnya. Perpindahan ke Jalan Naripan 52 menandai era di mana fungsi edukasi, produksi, dan ritel bahan kue menyatu dalam satu ekosistem.

Seiring dengan pertumbuhan jumlah peminat yang pesat pasca-suksesi kepemimpinan, pada tahun 2008, Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Ny. Liem melakukan perluasan strategis dengan membuka pusat kursus dan toko alat kue yang lebih modern di Jalan Naripan 80. Infrastruktur yang komprehensif ini menjadi landasan bagi pengembangan kurikulum tata boga yang kompetitif dan relevan dengan tuntutan zaman.

LPK Ny. Liem memainkan peran penting dalam menciptakan sumber daya manusia profesional melalui metodologi pengajaran yang teruji. Lembaga ini berhasil melakukan standardisasi teknik boga yang sebelumnya bersifat intuitif menjadi kurikulum yang terstruktur. Fleksibilitas program pendidikan menjadi kunci dalam merangkul berbagai segmen masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga hingga praktisi profesional.

Toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Vina Rostiana)

Resiliensi institusi ini juga teruji melalui adaptasi teknologi selama masa pandemi Covid-19. Dengan beralih ke kursus daring melalui aplikasi Zoom, LPK Ny. Liem tetap menjaga kontinuitas transfer ilmu pada materi-materi populer seperti pembuatan aneka donat (frozen dan crispy) serta roti unyil. Keberhasilan transisi ini merupakan bukti kualitas para pengajar yang merupakan representasi langsung dari standar metodologi sang Maestro.

Menjaga Relevansi Zaman

Keberlanjutan relevansi merek Ny. Liem di pasar kompetitif dijaga melalui suksesi yang profesional. Chendawati (Tjoeng Mei Tjen), istri dari Dr. Med. Hartono Gunawan yang juga mantan murid Ny. Liem, memegang peranan sentral sebagai pengelola LPK sejak tahun 2000. Visi kepemimpinannya membawa LPK Ny. Liem meraih predikat Juara 1 Lembaga Tata Boga Provinsi Jawa Barat serta penghargaan Best Woman Entrepreneur 2008. Dedikasi Chendawati dalam memperbarui keahlian melalui studi luar negeri secara berkala memastikan kurikulum lembaga tetap mutakhir.

Di sisi lain, Lenny Limiyati memberikan dimensi global pada ekosistem Ny. Liem. Kiprahnya di dunia kuliner diperkuat oleh fondasi akademis internasional yang kuat, salah satunya melalui sertifikasi dari institusi boga ternama dunia, Le Cordon Bleu di Prancis pada tahun 1996. Setahun setelah kelulusannya, tepatnya sejak tahun 1997, ia mulai mengembangkan toko kue "Nessa" yang berlokasi di Jalan Cicendo 11, Bandung.

Langkah Lenny dalam memperluas cakrawala keilmuannya terus berlanjut ke berbagai belahan dunia. Kredibilitasnya semakin kukuh setelah ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Grain PRDI di Cina pada tahun 2003, yang kemudian diikuti dengan sertifikasi dari Suzuki Gakuen Shizuoka di Jepang pada tahun berikutnya.

Tidak berhenti di situ, pada tahun 2004 Lenny juga memperdalam keahliannya di UFM Thailand, serta menimba ilmu dari Liu Rong Hua dan US Wheat di Taiwan. Seluruh rekam jejak internasional ini, ditambah dengan pelatihan intensif bersama pakar kuliner Hanny Sison di Filipina, menjadikan sosoknya sebagai pilar modern yang membawa warisan rasa Ny. Liem ke level dunia.

Sebagai upaya preservasi warisan intelektual, dokumentasi resep dalam format literatur menjadi pencapaian yang sangat signifikan. Buku "500 Resep Kue & Masakan yang Paling Diminati" karya Chendawati merupakan manifestasi kodifikasi tradisi lisan dan praktek langsung Ny. Liem ke dalam bentuk karya tulis permanen.

Diproduksi dengan format eksklusif (hardcover dan artpaper), buku setebal 564 halaman ini memastikan bahwa rahasia kelezatan sang Maestro tetap dapat diakses oleh generasi mendatang, sekaligus menjadi parameter kualitas industri.

Melampaui Batas Bisnis

Dunia kuliner Indonesia berduka saat Ny. Liem wafat pada 13 Juli 2018. Meskipun sang pionir telah tiada, wafatnya justru mengkristalkan sebuah legacy yang tak tergoyahkan. Kepergiannya menandai selesainya tugas seorang guru besar, namun sekaligus menjadi awal dari babak baru di mana resep-resep klasiknya terus dihidupkan melalui ribuan tangan murid-muridnya di seluruh penjuru negeri.

Warisan (legacy) Ny. Liem melampaui batas-batas komersial, menyentuh aspek pemberdayaan sosial yang substansial. Di bawah payung pusat pendidikan boganya, pengaruh institusi ini telah mencetak lebih dari 10.000 alumni yang tersebar hingga ke luar Pulau Jawa. Skala pengaruh yang masif ini menjadikannya salah satu episentrum pendidikan tata boga dengan sebaran lulusan terluas di Indonesia.

Dalam peta sejarah kuliner, institusi ini diakui sebagai otoritas utama yang memiliki spesialisasi teknis tinggi, khususnya dalam pembuatan roti dan kue gaya Eropa dengan sentuhan estetika yang presisi. Standar tinggi inilah yang kemudian diwariskan kepada para murid, sehingga menciptakan tolok ukur baru dalam industri pastry tanah air.

Semangat pemberdayaan tersebut kini diteruskan melalui aksi filantropi strategis oleh Chendawati. Melalui berbagai inisiatif tanggung jawab sosial, nilai-nilai kemanusiaan Ny. Liem dihidupkan kembali dengan memberikan kursus gratis bagi murid-murid SLB sekota Cimahi, penghuni panti asuhan, anak-anak berkebutuhan khusus di Bandung, hingga ibu-ibu Dharma Wanita. Langkah ini menegaskan bahwa kemahiran tata boga di ekosistem Ny. Liem bukan sekadar bisnis, melainkan alat untuk kemandirian sosial.

Hingga hari ini, reputasi Ny. Liem sebagai sosok yang belum tersaingi dalam keselarasan rasa dan keindahan visual kue tetap kokoh. Ia adalah representasi sempurna dari bagaimana dedikasi pada sebuah profesi, jika dikelola dengan integritas dan semangat berbagi, dapat menciptakan dampak sosial yang abadi bagi peradaban kuliner bangsa. (*)

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam