Ayo Netizen

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Oleh: Tannessa Ziankha Jasmine
Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)

Kalau kita lihat sekilas, julukan “Jogja 2” yang disematkan pada Buahdua mungkin terdengar seperti istilah biasa saja bahkan bisa jadi dianggap berlebihan. Tapi justru dari situ muncul rasa penasaran. Kenapa Buahdua? Kenapa bukan daerah lain? Dan, apa benar perannya sampai bisa dibandingkan dengan Yogyakarta, yang jelas-jelas punya posisi penting sebagai ibu kota pada masa awal kemerdekaan?

www.goodnewsformindonesia.id menyatakan bahwa seringkali pertanyaan ini muncul sebenarnya tidak bisa dijawab secara instan. Perlu kita lihat konteksnya, terutama situasi Indonesia saat terjadi Agresi Militer Belanda II. Pada masa itu, kondisi negara bisa dibilang tidak stabil. Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan mengalami tekanan besar, bahkan sempat diduduki oleh Belanda. Dampaknya bukan hanya pada struktur pemerintahan, tetapi juga pada jalannya komunikasi, koordinasi, dan strategi perjuangan secara keseluruhan.

Dalam kondisi seperti itu, negara tidak mungkin hanya cukup bergantung pada satu pusat. Mau tidak mau, muncul banyak titik baru yang mengambil alih sebagian fungsi, meskipun tidak selalu secara resmi. Di sinilah peran daerah menjadi penting termasuk Buahdua di wilayah Sumedang.

Jika kita pikir, peran daerah seperti Buahdua ini justru sering luput dari perhatian. Dalam buku sejarah yang umum diajarkan, fokusnya biasanya tetap pada pusat: Yogyakarta, Jakarta, atau tokoh-tokoh besar. Sementara daerah-daerah pendukung hanya disebut sekilas, seolah-olah perannya tidak terlalu signifikan. Padahal, dalam situasi darurat, justru fleksibilitas daerah menjadi kunci.

Buahdua kemungkinan besar berfungsi sebagai salah satu titik strategis entah sebagai tempat perlindungan, jalur komunikasi, atau bahkan basis pergerakan seperti salah satu pernyataan yang dikemukakan dalam laman artikel www.goodnewsformindonesia.id memang tidak semua aktivitas tersebut tercatat secara rinci. Tapi justru di situ letak menariknya. Ada ruang kosong dalam sejarah yang perlu diisi dengan penelusuran lebih lanjut.

Di sisi lain, tandabaca.id membeberkan munculnya julukan “Jogja 2” juga tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memaknai sejarah mereka sendiri. Ini bukan hanya soal fakta, tapi juga soal ingatan. Masyarakat lokal cenderung memberi makna pada peristiwa yang mereka anggap penting, lalu mengekspresikannya dalam bentuk simbol atau istilah tertentu.

Dalam hal ini, “Jogja 2” bisa dilihat sebagai bentuk makna mendalam. Seolah-olah Buahdua ingin diposisikan sebagai pengganti sementara Yogyakarta dalam konteks tertentu. Tapi, tentu saja, ini tidak berarti perannya benar-benar sama persis. Ada kemungkinan bahwa istilah ini lebih bersifat interpretatif daripada faktual.

Di titik ini, jadi agak dilematis. Di satu sisi, julukan itu penting sebagai identitas lokal. Ia membantu masyarakat mengingat bahwa daerahnya pernah berperan dalam sejarah nasional. Tapi di sisi lain, jika tidak dikaji secara kritis, bisa saja terjadi penyederhanaan seolah-olah semua daerah bisa disamakan dengan pusat, karena memiliki peran tertentu.

Maka dari itu, penting melihat ini dari dua sudut pandang. Pertama, sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Kedua, sebagai objek kajian sejarah yang perlu diuji dengan sumber-sumber yang lebih ada atau benar nyatanya.

Kalau ditarik lebih jauh, fenomenaseperti ini tidak hanya terjadi di Buahdua. Banyak daerah di Indonesia yang memiliki “versi lokal”dari Sejarah nasional. Hanya saja, tidak semuanya terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, ada ketimpangan dalam narasi Sejarah yang besar semakin terlihat, yang kecil semakin terlupakan.

Padahal, justru dari daerah-daerah seperti inilah kita bisa melihat bagaiman perjuangan berlangsung secara nyata. Tidak selalu terstruktur, tidak selalu rapi, tapi tetap berjalan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, bisa jadi lebih efektif karena tidak terlalu terikat aturan formal.

Kembali ke Buahdua, julukan “Jogja 2” bisa dipahami sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah yang lebih dalam. Bukan untunk membandingkan secara mutlak dengan Yogyakarta, tapi untuk memahami bahwa ada dinamika yang terjadi di luar pusat kekuasaan.

Mungkin, yang lebih penting bukan soal julukan itu “benar” atau “tidak”, tapi bagaimana kita memaknainya. Apakah kita melihat sebagai fakta serjarah yang harus dibuktikan? Atau sebagai bagian dari cara masyarakat mengingat masa lalu?

Monumen Perjuangan Jogja II, di Desa Darongdong Kec. Buahdua (Sumber: Youtube : @petualangan_sikembu, 06 Nov 2020. | Foto: Petualangan Sikembu)

Di kutip dari laman artikel inimahsumedang.com pada tanggal 10 November 1949, di lapang Darongdong yang ketika itu masih berupa sawah atau tegalan, dilakukan Upacara Kemerdekaan Penyematan Bintang Gerilya, pada tentara Siliwangi yang hijrah dari Jogjakarta ke Buahdua. Pertama kalinya dilakukan Republik Indonesia setelah kurang lebih 5 tahun bergelut dalam revolusi fisik. Turut hadir dalam peristiwa tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta komandan tertinggi Terotorium III Pasukan Siliwangi, Kolonel Sadikin.

Karena peristiwa tersebutlah, Buahdua khususnya, dan Sumedang umumnya, mendapat Julukan Jogja Dua. Setelah revolusi berakhir, Indonesia kembali dalam bentuk negara kesatuan. Hingga kini, Napak Tilas Siliwangi yang dihadiri kalangan sipil dan militer dari berbagai kesatuan rutin dilakukan setiap tahunnya.

Dari terasa bahwa sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tapi juga tentang bagaimana sesuatu pada masa lampau di ceritakan kembali proses penceritaan itu, selalu ada kemungkinan perubahan makna.

Pada akhirnya, memahami Buahdua sebagai “Jogja 2” bukan sekadar menerima sebuah label. Tapi lebih dari itu, ini adalah upaya untuk melihat sejarah dari sudut yang lebih luas dan tidak hanya dari pusat, tetapi juga dari pinggiran. Dari tempat-tempat yang mungkin tidak terlalu terlihat, tapi punya kontribusi yang tidak bisa di abaikan juga. (*)

Reporter Tannessa Ziankha Jasmine
Editor Aris Abdulsalam