Ayo Netizen

Mencari Bahagia Bersama Ibnu Rusyd: Pelajaran dari Sang Filsuf Andalusia

Oleh: Muhammad Raihan Averoes
Lukisan Ibnu Rusyd (Averroes) (Sumber: Wikipedia)

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang mengidentikkan kebahagiaan dengan kekayaan, jabatan, atau popularitas. Media sosial memperlihatkan kehidupan yang tampak sempurna, sehingga ukuran kebahagiaan sering kali bergeser menjadi pencapaian materi dan pengakuan sosial. Namun, benarkah kebahagiaan hanya sebatas memiliki banyak hal?

Lebih dari delapan abad yang lalu, seorang filsuf Muslim dari Andalusia, Ibnu Rusyd (Averroes), telah menawarkan pandangan yang menarik tentang makna hidup bahagia. Pemikir yang lahir di Cordoba pada tahun 1126 M ini dikenal sebagai seorang filsuf, hakim, dokter, sekaligus komentator terbesar atas karya-karya Aristoteles. Pemikirannya tidak hanya memengaruhi dunia Islam, tetapi juga menjadi salah satu fondasi perkembangan filsafat di Eropa.

Bagi Ibnu Rusyd, kebahagiaan tidak dapat dipisahkan dari penggunaan akal dan pengembangan kebajikan. Ia meyakini bahwa manusia dianugerahi kemampuan berpikir untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Karena itu, kebahagiaan sejati tidak lahir dari pemuasan hawa nafsu semata, melainkan dari kemampuan manusia mengaktualisasikan potensi intelektual dan moral.

Pandangan ini dipengaruhi oleh konsep Eudaimonia dari Aristoteles, yakni kebahagiaan sebagai kondisi "hidup yang baik". Dalam perspektif tersebut, manusia mencapai kebahagiaan ketika ia menjalani hidup secara rasional, berbuat baik, dan menjalankan fungsi kemanusiaannya dengan sebaik-baiknya. Kebahagiaan bukanlah emosi sesaat, melainkan keadaan hidup yang bermakna dan penuh kebajikan.

Ibnu Rusyd juga menekankan pentingnya keseimbangan antara akal dan agama. Menurutnya, keduanya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam mengarahkan manusia menuju kebenaran dan kebahagiaan. Akal membantu manusia memahami realitas, sedangkan agama memberikan petunjuk moral agar kehidupan berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan.

Pandangan tersebut terasa sangat relevan pada masa kini. Banyak orang mengalami kecemasan, stres, dan perasaan hampa meskipun secara materi telah berkecukupan. Hal itu menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan kepemilikan harta. Seseorang dapat memiliki segalanya, tetapi tetap merasa kehilangan makna hidup.

Di era yang dipenuhi kompetisi dan budaya konsumtif, pesan Ibnu Rusyd menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan yang dapat dibeli, melainkan kondisi yang dibentuk melalui cara berpikir dan cara menjalani hidup.

Hidup bahagia ala Ibnu Rusyd bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk menjalani kehidupan secara rasional, bermoral, dan bermakna. Kebahagiaan sejati lahir ketika manusia mampu berdamai dengan dirinya sendiri, memanfaatkan akalnya untuk kebaikan, dan menjadikan kebajikan sebagai jalan hidup. (*)

Reporter Muhammad Raihan Averoes
Editor Aris Abdulsalam