Belakangan ini kegiatan Critical Mass kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sebagian masyarakat menilai kegiatan tersebut menghambat lalu lintas dan merugikan pengguna jalan lain. Di sisi lain, banyak pesepeda memandangnya sebagai cara menyampaikan aspirasi agar keberadaan mereka lebih diperhatikan.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa jalan bukan sekadar ruang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan ruang publik yang digunakan bersama. Karena itu, sebelum menilai apakah Critical Mass tepat atau tidak, penting untuk memahami mengapa gerakan ini muncul dan pesan apa yang ingin disampaikannya.
Mengapa Critical Mass Muncul?
Critical Mass bukanlah perlombaan ataupun bersepeda bersama biasa. Gerakan ini bermula pada 25 September 1992 di San Francisco dengan nama "Commute Clot", ketika sekelompok pesepeda berkumpul dan bersepeda bersama pada Jumat terakhir setiap bulan. Tujuan utamanya sederhana, yakni menunjukkan bahwa pesepeda juga merupakan bagian dari pengguna jalan yang memiliki hak untuk menggunakan ruang publik secara aman.
Dalam jumlah sedikit, pesepeda sering kali kurang terlihat oleh pengguna kendaraan bermotor. Namun ketika mereka bergerak bersama dalam jumlah besar, keberadaan mereka menjadi sulit diabaikan. Dari sinilah lahir gagasan utama Critical Mass: membuat pesepeda terlihat (to be visible).
Gerakan ini kemudian berkembang ke berbagai kota di dunia dan menginspirasi kegiatan serupa di Indonesia, termasuk di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Di berbagai kota tersebut, Critical Mass menjadi media kampanye untuk mendorong transportasi yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Bandung sendiri memiliki potensi besar sebagai kota yang ramah bagi pesepeda. Jarak perjalanan yang relatif pendek membuat banyak aktivitas sehari-hari sebenarnya dapat ditempuh dengan bersepeda. Namun potensi tersebut masih terkendala oleh dominasi kendaraan bermotor, jaringan jalur sepeda yang belum terhubung secara baik, serta rendahnya rasa aman saat bersepeda di jalan raya. Akibatnya, sepeda masih lebih sering dipandang sebagai sarana rekreasi dibandingkan sebagai moda transportasi harian.

Keselamatan Pesepeda dan Keadilan Ruang Jalan
Perdebatan mengenai Critical Mass tidak dapat dilepaskan dari persoalan keselamatan. Pesepeda merupakan kelompok pengguna jalan rentan (vulnerable road users) karena hampir tidak memiliki perlindungan fisik ketika terjadi tabrakan. Berbeda dengan pengemudi mobil yang terlindungi bodi kendaraan, pesepeda menanggung risiko cedera serius bahkan pada kecelakaan dengan kecepatan sedang.
Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 1,19 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia. Lebih dari separuh korbannya merupakan pengguna jalan rentan, termasuk pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara sepeda motor. Sekitar 71.000 di antaranya adalah pesepeda.
Realitas tersebut masih dirasakan di banyak kota. Tidak sedikit pesepeda yang harus berbagi lajur dengan kendaraan berkecepatan tinggi, disalip dengan jarak yang sangat dekat, atau mendapati jalur sepeda yang terputus di persimpangan. Kondisi seperti ini membuat banyak orang enggan menggunakan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari.
Dalam teori keselamatan lalu lintas dikenal konsep safety in numbers, yaitu semakin banyak pesepeda berada di jalan, semakin besar kemungkinan pengguna jalan lain menyadari keberadaan mereka sehingga risiko kecelakaan dapat berkurang. Inilah salah satu alasan mengapa banyak pesepeda merasa lebih aman ketika berkendara secara berkelompok.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa Critical Mass dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna kendaraan bermotor karena arus lalu lintas menjadi lebih lambat. Salah satu contohnya adalah polemik kegiatan Critical Mass pada rangkaian Jogja Last Friday Ride (JLFR) yang ramai diperbincangkan di media sosial dan menunjukkan bahwa penggunaan ruang jalan masih memunculkan perbedaan persepsi. Kritik tersebut merupakan hal yang wajar dalam ruang publik yang digunakan bersama. Namun, kondisi itu juga mengingatkan bahwa ketidaknyamanan sementara yang dirasakan pengendara kendaraan bermotor saat Critical Mass berlangsung merupakan situasi yang selama ini lebih sering dialami pesepeda ketika harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor setiap hari.
Perdebatan tersebut pada akhirnya membawa kita pada isu yang lebih mendasar, yaitu keadilan transportasi. Jalan merupakan sumber daya publik yang terbatas sehingga pembagian ruang jalan selalu mencerminkan pilihan kebijakan. Selama bertahun-tahun, pembangunan transportasi lebih banyak berorientasi pada kelancaran kendaraan bermotor, sementara kebutuhan pejalan kaki dan pesepeda belum memperoleh perhatian yang setara. Dalam konteks inilah Critical Mass dapat dipahami sebagai pengingat bahwa ruang jalan semestinya dapat dinikmati secara adil oleh seluruh pengguna jalan.

Jalan yang Aman Adalah Jalan untuk Semua
Polemik mengenai Critical Mass seharusnya tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang paling berhak menggunakan jalan. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun sistem transportasi yang mampu melindungi seluruh pengguna jalan.
Berbagai negara kini menerapkan pendekatan Safe System, yaitu sistem transportasi yang mengakui bahwa manusia dapat melakukan kesalahan sehingga jalan harus dirancang agar kesalahan tersebut tidak berakibat fatal. Pendekatan ini diwujudkan melalui pengendalian kecepatan kendaraan, penyediaan jalur sepeda yang terproteksi, penataan persimpangan yang lebih aman, serta peningkatan perlindungan bagi pengguna jalan rentan.
Prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan Vision Zero yang menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama. Dalam pendekatan ini, tidak ada kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang dapat dianggap dapat diterima.
Pada akhirnya, Critical Mass bukan sekadar kegiatan bersepeda bersama. Gerakan ini merupakan pengingat bahwa jalan adalah ruang publik yang harus dapat digunakan secara aman, nyaman, dan setara oleh semua orang. Perbedaan pendapat mengenai kegiatan ini mungkin akan selalu ada. Namun jika diskusi diarahkan pada upaya meningkatkan keselamatan dan keadilan transportasi, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Sebab ukuran kota yang maju bukanlah seberapa cepat kendaraan bermotor dapat melaju, melainkan seberapa aman setiap orang—baik pejalan kaki, pesepeda, pengguna angkutan umum, pengendara sepeda motor, maupun pengemudi mobil—dapat tiba di tujuan dengan selamat. (*)