Ayo Netizen

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian I): Manifesto Budaya di Balik 11 Kuliner Legendaris Bandung

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Cireng Cipaganti. (Sumber: Cireng Cipaganti)

Penerbitan buku "Ieu Bandung, Lur! 200 Ikon Bandung" oleh Pikiran Rakyat pada tahun 2010 bukan sekadar proyek dokumentasi jurnalistik biasa, melainkan sebuah manifesto budaya di tengah perayaan Hari Jadi ke-200 Kota Bandung. Dalam konteks sejarah, buku ini hadir sebagai refleksi atas pergulatan hebat Bandung melawan arus modernitas yang mengancam sisa-sisa bangunan kolonial serta identitas lokalnya. Sementara dari aspek gastronomi, kurasi 11 destinasi kuliner di dalamnya merupakan upaya "melawan lupa" terhadap agresi waralaba global yang mulai menyeragamkan selera warga.

Dalam kacamata sosiokultural, kuliner menempati pilar fundamental karena berfungsi sebagai penjaga memori kolektif. Tempat-tempat ini bukan sekadar unit bisnis yang mengejar profit, melainkan ruang interaksi di mana narasi sejarah kota diproduksi dan direproduksi setiap harinya. Strategi "glokalisasi" (glocalization) yang diusung tim penulis—yakni memperkuat identitas lokal agar tetap relevan di panggung dunia—menjadi kunci agar warga tidak merasa asing dengan kotanya sendiri.

Berikut adalah bagian pertama dari penelusuran jejak-jejak rasa yang telah mendefinisikan jati diri Uráng Bandung selama dua abad terakhir.

1. Es Cendol Elizabeth: Manis Persahabatan Berbuah Sukses

Es Cendol Elizabeth, kuliner legendaris Bandung sejak 1970-an. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)

Dalam peta minuman tradisional, Es Cendol Elizabeth adalah simbol dekonstruksi kelas. Minuman rakyat yang biasa ditemukan di kaki lima ini berhasil menembus barikade sosial hingga tersaji di meja-meja elite. Sejarahnya dimulai dari ketekunan H. Rohman yang mulai berjualan cendol keliling tahun 1979 dengan rute Tegalega hingga ITB. Titik baliknya adalah persahabatan tulus dengan Ibu Eli, pemilik Toko Tas Elizabeth. Rohman sering membantu membersihkan toko tanpa pamrih, hingga akhirnya diizinkan mangkal di depan toko tersebut.

Keberhasilan ini didorong oleh "branding yang tidak sengaja"—nama "Elizabeth" diberikan oleh pelanggan toko tas yang sering membeli cendolnya. Berlokasi di Jalan Inhoftank No. 64, es cendol legendaris ini dibangun di atas filosofi kemandirian dan komitmen untuk terus menjaga tali silaturahmi.

Meski pendidikan formal sang perintis terhenti di kelas 2 SD, keahlian meracik cendol yang didapatkan secara murni dari warisan keluarga (paman) terbukti menghasilkan kualitas yang luar biasa konsisten. Keistimewaan rasa inilah yang membawa jenama ini melangkah jauh, hingga dipercaya hadir menyuguhkan hidangan di momen-momen penting tokoh nasional, seperti acara mantan Kapolri M. Sanusi hingga prosesi siraman Tommy Soeharto.

2. Lotek Edja: Konsistensi Rasa Melintasi Generasi

Lotek sering dianggap makanan rakyat biasa, namun di tangan Edja, hidangan ini naik kelas berkat konsistensi rasa yang presisi. Berawal dari Jln. Pasundan Gg. Asmita, ilmu meracik bumbu diturunkan kepada anak angkatnya, Nana Nani. Saat ini, usaha dikelola oleh generasi ketiga, Cucu.

Kini berlokasi di Jalan Pasundan (dekat area Fast Food Merdeka), Lotek Edja menyimpan cerita perjalanan yang menarik. Kelezatan racikannya yang legendaris sempat membawa kuliner khas ini mengepakkan sayap hingga membuka cabang di Mempawah, Kalimantan Barat. Namun, setelah melanglang buana, Lotek Edja akhirnya memilih untuk kembali pulang dan fokus merawat akar sejarahnya di tanah Bandung.

Rahasia utama Lotek Edja terletak pada komposisi bumbunya yang selalu "pas"—sebuah takaran yang tetap dipertahankan dan tidak berubah meski zaman berganti. Namun, Cucu mengakui bahwa jalur ini mulai sepi peminat di kalangan internal keluarga; anak-anak keturunan Edja kini lebih memilih jalur bisnis lain atau menjadi karyawan kantoran. Ini mencerminkan pudarnya minat generasi muda pada kuliner tradisional yang menuntut ketahanan fisik luar biasa dalam pengolahannya.

3. Bubur Ayam PR: Identitas di Balik Nama Besar

Bubur Ayam PR adalah contoh nyata bagaimana "aura" lokasi asli tidak bisa dipindahkan. Didirikan oleh Mikro pada tahun 1982 dan dilanjutkan oleh anaknya, Ondi, nama "PR" merujuk pada kantor Pikiran Rakyat di Jln. Asia Afrika. Meski tidak ada hubungan bisnis resmi, nama PR telah menjadi aset branding yang melekat kuat di benak pelanggan luar kota. Upaya membuka cabang di kawasan Japati sempat dilakukan, namun gagal karena animo pembeli tidak sekuat di lokasi aslinya—sebuah bukti bahwa pengalaman menyantap Bubur PR adalah paket lengkap antara rasa dan atmosfer pusat kota.

Bertempat di Jalan Asia Afrika 77, tepat di depan kantor Pikiran Rakyat, kuliner malam ini menjadi salah satu primadona yang selalu diburu pelanggan. Jika dulu gerobak ini hanya beroperasi singkat dari jam 19.00 hingga 22.00 karena dagangannya langsung ludes dalam waktu 3 jam, kini jam operasionalnya telah diperpanjang hingga pukul 02.30 dini hari demi mengakomodasi para pencinta kuliner malam. Tingginya antusiasme pembeli terlihat jelas pada malam Minggu, di mana tempat ini mampu menghabiskan hingga 7 liter beras untuk memenuhi permintaan yang melonjak.

4. Cireng Cipaganti: Dari Pinggir Jalan ke Gerai Pesta

Sejak 1990, Cireng Cipaganti, si kudapan sederhana berbahan tepung tapioka ini telah menjelma menjadi sajian legendaris Kota Bandung. (Sumber: Cireng Cipaganti)

Kisah Praemi Sanggiani (Iyan) bersama mendiang suaminya, alm. Dodi Purwadi, adalah manifesto tentang mobilitas vertikal melalui kuliner. Memulai usaha sebagai guru honorer dengan upah hanya Rp80.000 per bulan pada tahun 1990, Iyan berhasil membawa aci-acian—makanan yang dulu dianggap marginal—naik kasta. Momen puncaknya adalah saat cireng buatannya disajikan di sebuah pesta pernikahan mewah di Bandung Utara, bersanding dengan hidangan internasional.

Keunggulan teknisnya terletak pada penggunaan tangan manual dalam mengaduk adonan (bukan mixer) dan bumbu kacang tumbuk yang mengeluarkan minyak alami, menjaga tekstur tetap kenyal meski dingin. Berlokasi di depan Kantor Pos Cipaganti, kuliner legendaris ini sukses memikat pelanggan lewat inovasi menu yang variatif, mulai dari isian kacang, keju, abon, hingga kornet.

Di balik kelezatan menunya, bisnis ini dipayungi oleh komitmen kuat dalam memegang teguh filosofi "berakit-rakit ke hulu". Atas dasar prinsip tersebut, sang pemilik dengan konsisten menolak godaan sistem waralaba (franchise) demi mempertahankan kontrol kualitas produk yang autentik di tangan sendiri.

5. Ceu Mar: Magnet Interaksi dan Simbol Pergaulan

Di pusat hiruk-pikuk malam Bandung, Ceu Mar berdiri sebagai "ruang ketiga" bagi warga. Warung ini bukan sekadar tempat makan, melainkan pusat interaksi sosiokultural di mana musisi indie hingga pengusaha kelas atas duduk bersama di atas bangku plastik. Daya tarik utamanya adalah keramahan khas Sunda melalui sapaan "kasep" (tampan) dan "geulis" (cantik) yang menciptakan kedekatan emosional.

Menyajikan menu makanan rumah (prasmanan) yang sederhana, Ceu Mar telah bertransformasi menjadi simbol pergaulan. Bahkan muncul mitos urban bahwa anak muda Bandung belum dianggap "gaul" sepenuhnya jika belum pernah menghabiskan malam di warung ini. Warung Nasi Ceu Mar beralamat di Jln. Terusan ABC No. 21, Bandung. (*)

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam