Membuka kembali lembar demi lembar majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Aroma kertas yang telah menua seakan membawa ingatan berkelana ke masa lalu. Kali ini, saya kembali menikmati Majalah Variasari edisi Juli 1970, sebuah terbitan yang menjadi saksi perkembangan dunia hiburan Indonesia lebih dari setengah abad silam.
Sampul depannya menampilkan sosok penyanyi muda asal Kota Kembang, Annie Rae. Parasnya yang menawan dan pesonanya sebagai pendatang baru membuat namanya tengah menanjak di blantika musik pop Indonesia. Annie Rae bahkan termasuk penyanyi yang beruntung karena mendapat kesempatan melakukan rekaman sekaligus tampil di Singapura, sesuatu yang pada masa itu menjadi prestasi yang membanggakan.
Pada era yang sama, nama Titiek Sandhora juga sedang berada di puncak popularitas. Dengan karakter vokal yang lantang, bening, dan khas, ia berhasil memikat pendengar dari berbagai kalangan. Deretan lagu hit yang dibawakannya menjadikan Titiek salah satu penyanyi perempuan paling bersinar pada zamannya.
Kesuksesan Titiek semakin lengkap lewat duetnya bersama Muchsin Alatas. Kekompakan mereka di atas panggung maupun di studio rekaman melahirkan banyak lagu yang hingga kini masih dikenang para pencinta musik lawas. Kedekatan keduanya bahkan sempat memunculkan berbagai spekulasi, sebelum akhirnya benar-benar berlabuh ke pelaminan.
Tidak hanya mengulas musik, Variasari juga menyajikan perkembangan dunia perfilman nasional. Salah satunya adalah film Bernapas Dalam Kubur produksi PT Serenade Film yang disutradarai Turino Djunaidy. Film ini mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia 1970 di Jakarta dan berhasil meraih penghargaan untuk ilustrasi musik terbaik berkat aransemen maestro biola Idris Sardi.

Dunia film nasional juga diramaikan oleh Nyi Ronggeng, sebuah film berwarna berformat Cinemascope produksi DPFN. Dibintangi Chitra Dewi, Dicky Zulkarnaen, dan Sandy Sardi, film garapan Alam Surawijaya ini mengangkat kisah seorang ronggeng yang mendambakan kehidupan rumah tangga yang tenteram di tengah konflik percintaan.
Bagi pencinta cerita silat, nama Naga Sasra Sabuk Inten tentu tidak asing. Karya klasik S.H. Mintardja yang sebelumnya terbit sebagai cerita bersambung di harian Kedaulatan Rakyat akhirnya diangkat ke layar lebar oleh PT Tidar Film milik aktor Dicky Suprapto. Kehadirannya menjadi bukti bahwa genre silat telah memiliki penggemar yang kuat sejak awal dekade 1970-an.
Ada pula film semi-dokumenter Honey Money DF '70 garapan Misbach Yusa Biran, yang diproduksi PT Kartika Bina Prima. Film ini mendokumentasikan semarak Jakarta Fair 1970 sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakat ibu kota. Sejumlah artis ternama seperti Connie Sutedja, Mike Widjaja, Ratno Timoer, Ismet Noor, Tan Tjeng Bok, hingga penyanyi Titiek Sandhora, Muchsin Alatas, Ellya Khadam, dan Waldjinah turut ambil bagian.
Rubrik olahraga tak kalah menarik. Variasari memberitakan sengitnya Grand Prix d'Indonesie 1970 di Sirkuit Pantai Binaria, Jakarta. Nama Benny Hidayat tampil sebagai juara di beberapa kelas, bersaing dengan pembalap-pembalap terbaik Indonesia seperti Beng Suswanto, Susilo S.A., Hendra Tirtasaputra, dan Tjetjep Hariyana.
Bagi pembaca setia, rubrik cerita pendek selalu menjadi sajian favorit. Edisi ini memuat Kota Semakin Kelam karya Kelik Diono, Kerudung Putihku karya Windarko Megawijaya, Di Jendela Hatimu Aku Menunggu karya Handrawan Nadesul, Suamiku Abnormal karya NN, serta Iblis Penyebar Maut karya Ching Ping.
Selain itu, hadir pula rubrik-rubrik tetap seperti Numpang Dikit, Kontak Variasari Youth Club (VSYC), Ramalan Bintang, Konsultasi & Observasi, Humor, Sajak, hingga Teka-Teki Silang, yang menjadi hiburan sekaligus teman setia para pembaca pada zamannya.

Membaca kembali majalah lawas seperti Variasari bukan sekadar membuka arsip lama. Setiap halaman menyimpan potongan sejarah, menghadirkan kembali wajah-wajah yang pernah bersinar, karya-karya yang pernah berjaya, dan berbagai peristiwa yang pernah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.
Semoga ulasan sederhana ini dapat mengajak kita kembali menikmati romantisme masa lalu, sekaligus mengingat bahwa majalah-majalah lawas bukan sekadar bacaan, melainkan juga dokumentasi budaya yang sangat berharga bagi perjalanan sejarah bangsa. (*)