Lembur Jurig, Hiburan Murah Warga Maleer di Tengah Himpitan Ekonomi

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Karang Taruna Maleer berpose sebelum beraksi menakut-nakuti warga dalam wahana Lembur Jurig. (Foto: Indra)
Karang Taruna Maleer berpose sebelum beraksi menakut-nakuti warga dalam wahana Lembur Jurig. (Foto: Indra)

AYOBANDUNG.ID - Belakangan ini, lima ribu rupiah nyaris tak cukup untuk membeli banyak hal. Sepiring makanan saja sering kali tak terpenuhi, begitu pula ongkos perjalanan. Kondisi ini dipicu melemahnya nilai rupiah serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Di tengah situasi tersebut, berlibur menjadi sesuatu yang tak lagi mudah diwujudkan oleh masyarakat menengah ke bawah. Mereka lebih memilih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari.

Namun, di kawasan RW 04 Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, lima ribu rupiah masih memiliki makna berbeda. Uang dengan nominal sekecil itu menjadi tiket menuju lorong yang dipenuhi suara jeritan, tawa, dan sosok-sosok menyeramkan.

Jalan selebar satu mobil yang berdampingan dengan kompleks pemakaman itu berubah wajah pada Sabtu malam, 27 Juni 2026. Lampu dibuat redup, jalan didekorasi agar tampak mencekam, sementara para pemuda berdandan layaknya makhluk dari kisah-kisah horor.

Mereka menamainya Lembur Jurig, sebuah wahana hantu yang dibangun bukan di dalam gedung, melainkan memanfaatkan gang permukiman yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga.

Salah seorang pengunjung, Annisa (38), mengaku kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak stabil akibat naiknya harga bahan pokok dan BBM. Akibatnya, ia dan sang suami harus memutar otak untuk mengelola keuangan, situasi yang cukup membuatnya tertekan.

Apalagi, ia jarang membawa kedua anaknya berlibur ke tempat hiburan. Kehadiran Lembur Jurig di dekat rumah membuatnya tak ingin melewatkan kesempatan mengajak buah hatinya menikmati wahana tersebut.

"Jenuh kita sebagai orang dewasa ya, harga pada naik, BBM juga, jadi harus berhemat. Saya jadi jarang ajak anak bepergian. Pas ada ini [Lembur Jurig] akhirnya saya ajak anak-anak. Lumayan hiburan murah," ucapnya.

Ide menghadirkan wahana horor di kawasan Maleer muncul dari para pemuda Karang Taruna yang melihat lingkungan mereka memiliki karakter berbeda. Alih-alih menutupi keberadaan makam, mereka justru menjadikannya sebagai bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

"Mungkin aspirasi dari teman-teman Karang Taruna. Kebetulan situasi di sini memang kompleks makam juga. Bukan menambah sensasi, tapi supaya pandangan orang jangan sampai takut ke makam," kata Ketua RW 04 Kelurahan Maleer, Djoko Purnomo.

Wahana horor Lembur Jurig di kawasan Maleer, Batununggal, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Wahana horor Lembur Jurig di kawasan Maleer, Batununggal, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menurutnya, nama Kampung Jurig memang terdengar menyeramkan. Namun, pesan yang ingin disampaikan justru sebaliknya, yakni mengubah rasa takut menjadi ruang belajar dan kreativitas.

Lembur Jurig bukan sekadar tempat mencari sensasi. Kegiatan itu juga menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk menunjukkan bahwa kreativitas dapat lahir dari lingkungan sederhana dengan modal terbatas.

Seluruh wahana dibangun secara swadaya. Mulai dari dekorasi, kostum, hingga properti dibuat semampunya oleh warga tanpa dukungan anggaran besar.

"Tadinya pengennya kalau ada stan, yang buka dagangan juga pakai dandanan menyeramkan. Cuman dari anggarannya tidak mendukung, jadi apa adanya dulu kita jalankan," tuturnya.

Panjang wahana horor tersebut sekitar 30 meter. Pengunjung akan disuguhi berbagai sosok menyeramkan, mulai dari pocong, kuntilanak, hingga tuyul. Beberapa adegan kejutan pun disiapkan untuk memacu adrenalin.

Saat memasuki area, pengunjung harus melewati kain hitam yang berfungsi sebagai pintu masuk. Setelah itu, mereka akan menyusuri gang yang telah disulap menjadi wahana hantu dengan suasana gelap dan mencekam.

Pada beberapa titik, pengunjung akan dikejutkan oleh sosok-sosok yang tiba-tiba muncul. Untuk menambah keseruan, penyelenggara juga menyiapkan misi berupa menyalakan lilin.

Meski sederhana, antusiasme masyarakat terus mengalir. Pengunjung cukup membayar Rp5.000 untuk menyusuri lorong sepanjang puluhan meter yang dipenuhi kejutan dari para pemeran hantu.

Harga tiket itu sengaja dibuat serendah mungkin agar semua kalangan dapat menikmati hiburan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

"Di tiket, tiketnya Rp5.000 per orang," kata Djoko.

Hasil penjualan tiket pun tidak berhenti sebagai pemasukan sesaat. Seluruhnya dikelola kembali untuk membiayai kegiatan Karang Taruna agar para pemuda memiliki ruang berkarya tanpa terus bergantung pada bantuan pihak lain.

"Kebetulan komitmen dari anak Karang Taruna dikelola untuk kepentingan Karang Taruna, untuk kegiatan-kegiatan lainnya. Seperti 17-an biar tidak ngamen," ujarnya.

Di balik suasana horor itu, tersimpan pula harapan untuk menghidupkan kembali perputaran ekonomi warga. Sebelum pandemi COVID-19, kawasan tersebut dikenal memiliki banyak pelaku UMKM yang tumbuh pesat melalui penjualan daring, meski sebagian kini telah berhenti berusaha.

Karena itu, Djoko berharap Lembur Jurig ke depan tak hanya menghadirkan wahana horor, tetapi juga deretan stan yang menjual makanan dan produk buatan warga. Gang tersebut diharapkan menjadi ruang bertemunya hiburan dan aktivitas ekonomi.

"Kalau sudah ada stan, pengennya yang jualan juga berdandan seram. Jadi dari gedung serbaguna sampai ke sini nuansanya horor semua," harapnya.

Antusiasme warga Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung menjajal wahana gang hantu, Sabtu (27/6). (Foto: Indra)
Antusiasme warga Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung menjajal wahana gang hantu, Sabtu (27/6). (Foto: Indra)

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari pencetus Lembur Jurig, Indra Lesmana. Setelah lebih dulu menghadirkan konsep serupa di Kiaracondong, ia melihat Maleer memiliki karakter yang sulit ditemukan di tempat lain karena berada tepat di samping kompleks pemakaman.

"Konsep kita memang pengennya di dalam gang. Biar beda dari rumah hantu yang biasanya di dalam ruangan. Gang yang ada kita sulap jadi benar-benar gang seram," ujarnya.

Bagi Indra, suasana horor hanyalah pintu masuk untuk menghadirkan pengalaman yang terus berubah. Setiap dua pekan, tema cerita dan jalur permainan akan berganti agar pengunjung selalu menemukan sesuatu yang baru saat kembali datang.

Kali ini tema yang diusung bertajuk "Astana Murka". Astana merupakan bahasa Sunda untuk menyebut pemakaman, sementara Murka berarti amarah. Dalam ceritanya, hantu-hantu yang bergentayangan marah karena pengunjung melanggar aturan yang berlaku.

"Jadi peserta berperan sebagai orang-orang atau sekelompok orang yang melanggar aturan dari tempat ini, mengambil sesuatu, akhirnya membangkitkan amarahnya si jurig-jurig di sini.

Makanya misi dari peserta ini kan yang pertama itu mengembalikan kembali barang. Kalau sekarang misinya adalah untuk menyalakan lilin," tuturnya.

Di tengah tekanan ekonomi yang membuat hiburan semakin terasa mahal, Lembur Jurig menunjukkan bahwa kreativitas dapat lahir dari keterbatasan. Warga Maleer membuktikan rasa takut bisa diolah menjadi ruang kebersamaan sekaligus secercah harapan bagi ekonomi masyarakat sekitar.

"Ini hiburan di tengah tekanan ekonomi yang di mana nilai rupiah turun, harga bensin naik. Ini hiburan murah yang bisa didapatkan oleh seluruh kalangan masyarakat," ucapnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)