Ayo Netizen

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Oleh: Nefi Salsabila Hadi
Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Jika mencoba melihat dari kaca mata desainer, saya selalu percaya bahwa sebuah ruang publik tidak pernah benar-benar selesai ketika proses pembangunannya selesai. Justru kehidupan sebuah ruang, baru dimulai ketika manusia mulai menggunakannya.

Senin, 20 Juli 2026, saya datang ke Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang, sekitar pukul tiga sore dengan rasa penasaran yang cukup sederhana. Saya ingin melihat bagaimana sebuah monumen yang pada awalnya dibangun untuk mengenang seorang tokoh besar bangsa, namun akhirnya menjadi salah satu ruang publik yang ramai diperbincangkan di Kabupaten Bandung.

Di media sosial, monumen ini viral.

Tiga ikon utama di monumen Jend. Soedirman: Patung Jend. Soedirman, Helikopter, dan Tank Baja (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Orang-orang datang untuk berfoto bersama patung Jenderal Soedirman, tank baja dan helikopter (sungguahan) yang dipajang di kawasan tersebut. Saya memiliki pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar "mengapa monumen ini viral?"

Saya justru ingin mengetahui, ”mengapa orang memilih berkunjung dan berdiam di sini?”. Karena menurut saya, daya tarik visual hanya mampu mengundang seseorang untuk datang satu kali. Yang membuat seseorang kembali lagi adalah pengalaman ruang yang penggunanya rasakan.

Sore itu saya memilih untuk tidak langsung memotret. Saya duduk, mengamati, dan berjalan mengelilingi kawasan. Lalu berbincang dengan siapa saja yang saya temui. Mulai dari pedagang, juru parkir, hingga para pengunjung. Dan dari percakapan-percakapan sederhana itulah saya mulai memahami bahwa keberhasilan monumen ini ternyata bukan hanya terletak pada patungnya, melainkan pada kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.

Suasana kawasan Monumen Jend. Soedirman ketika mulai akan melakukan wawancara (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Orang pertama yang saya temui adalah Pak Muhammad Yusuf. Beliau merupakan penjual kerang hijau asal Cililin yang setiap sore berjualan di sekitar monumen.

Sambil melayani pembeli, beliau bercerita bahwa kawasan ini biasanya mulai ramai sekitar pukul empat sore hingga malam hari. Menurutnya, cuaca sangat memengaruhi jumlah pengunjung. Ketika sore terasa teduh, hampir semua meja akan terisi. Namun ada satu kalimat beliau yang membuat saya langsung berpikir.

"Biasanya orang-orang habis jajan pada duduk di meja-kursi batu itu”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi seorang desainer, kalimat tersebut pastinya memiliki makna yang besar. Pak Yusuf sebenarnya sedang menjelaskan bahwa keberhasilan dagangannya tidak hanya dipengaruhi oleh rasa makanan yang dijual. Ada peran desain di dalamnya. Keberadaan meja dan bangku batu membuat orang memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Mereka membeli makanan, duduk bersama keluarga, berbincang, kemudian mungkin membeli jajanan lagi. Tanpa sadar, furnitur sederhana itu menjadi penghubung antara ruang publik dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Temuan ini mengingatkan saya pada penelitian William H. Whyte (1980) yang menjelaskan bahwa tempat duduk merupakan salah satu elemen paling penting dalam ruang publik. Tempat duduk bukan sekadar fasilitas untuk beristirahat, tetapi merupakan pemicu munculnya interaksi sosial, aktivitas ekonomi, bahkan kehidupan kota itu sendiri.

Yang menarik, Pak Yusuf juga bercerita bahwa para pedagang di kawasan ini secara rutin membayar iuran kebersihan sekitar Rp. 5.000,- setiap hari. Menurut beliau, kawasan ini relatif tertib karena ada petugas kebersihan yang rutin membersihkan area serta pengawasan dari pengurus wilayah setempat.

”Di sini mah aman, ga ada preman."

Kalimat itu mengingatkan saya bahwa kualitas sebuah ruang publik ternyata tidak hanya dibangun oleh desain fisiknya. Tetapi juga oleh sistem sosial yang menjaganya.

Bahkan juru parkir pun memberikan cerita yang sama. Tak jauh dari sana saya bertemu Pak Agus, seorang juru parkir yang setiap hari berada di kawasan monumen. Menurut Pak Agus, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul empat sore dan biasanya bertahan hingga pukul sembilan malam. Ketika saya bertanya aktivitas apa yang paling sering beliau lihat, jawabannya tidak jauh berbeda, antara lain;

"Jajan", "Nongkrong", "Foto-foto".

Saya kemudian menyadari sesuatu, bahwa; tidak ada yang mengatakan, “orang datang untuk membaca sejarah Jenderal Soedirman.” Sebaliknya, hampir semua orang justru datang untuk menikmati ruang yang tercipta di sekitar monumen tersebut.

Dalam perspektif Jan Gehl (2011), kondisi ini menunjukkan bahwa ruang telah berhasil menciptakan optional activities, yaitu aktivitas yang dilakukan bukan karena terpaksa, tetapi karena seseorang memang ingin berada di sana.

Dan menurut saya, inilah salah satu indikator paling kuat bahwa sebuah ruang publik bekerja dengan baik. Kemudian saya juga bertanya kepada beberapa pengunjung karena ingin memastikan apakah asumsi saya benar. Apakah mereka memang datang karena monumennya? Atau ada alasan lain?

Jawaban pertama datang dari Teh Siska, seorang ibu berusia 30 tahun asal Soreang yang sore itu datang bersama suami dan anaknya yang masih berusia tiga tahun. Beliau mengatakan bahwa ini adalah kunjungan ke-4 nya.

Saya sempat bertanya, "Biasanya ngapain kalau ke sini?"

Beliau menjawab, "Paling ngajak anak main sebentar di tank baja, foto-foto, terus jajan."

Ternyata bukan sekadar melihat patung, bukan juga membaca sejarah, melainkan bermain bersama anak. Ketika saya bertanya mengenai kekurangan tempat ini, jawabannya sangat spesifik. Beliau berharap ada tempat berteduh dan pencahayaan malam yang lebih baik. Karena menurutnya, ketika malam suasana masih terasa cukup remang.

Jawaban itu menurut saya menarik. Karena kritik tersebut justru menunjukkan kecenderungan beliau ingin menggunakan ruang ini lebih lama. Artinya, ruang tersebut sudah diterima sebagai bagian dari aktivitas keluarganya. Mendengar persoalan pencahahayaan lampu tersebut, membuat saya ingin mengamatinya secara langsung.

Suasana kawasan monumen menjelang gelap (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Cerita berikutnya datang dari Teh Linda, seorang ibu berusia 24 tahun asal Cililin yang kebetulan baru pertama kali mengunjungi monumen ini. Saya bertanya bagaimana beliau mengetahui tempat ini. Beliau langsung menjawab, "Dari media sosial." Jawaban singkat itu menjelaskan banyak hal. Dulu sebuah landmark dikenal karena lokasinya, hari ini sebuah landmark juga dikenal karena algoritma media sosial.

Ketika saya bertanya mengapa memilih datang sore hari, jawabannya sederhana; "Karena adem." Beliau juga mengatakan bahwa salah satu hal yang paling membuatnya nyaman adalah banyaknya pedagang makanan di sekitar kawasan. Sebagai pengunjung pertama, beliau merasa tempat ini cukup aman untuk dikunjungi bersama keluarga.

Saya mulai melihat sebuah pola, bukan hanya satu orang yang datang karena media sosial, bukan hanya satu orang yang datang karena kuliner. Fenomena ini berulang.

"Kalau nggak sama anak, biasanya habis Maghrib ke sini."

Kalimat itu disampaikan Teh Nova seorang ibu berusia 34 tahun asal Cibaduyut. Beliau dan suaminya memang cukup sering menghabiskan waktu di daerah Soreang karena menyukai suasana yang masih sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun hari itu, alasan mereka datang sangat sederhana, yaitu; anaknya ingin bermain. Saya kemudian bertanya bagian mana yang paling sering digunakan. Beliau langsung menunjuk meja batu.

”Di sini enak buat nongkrong. Anginnya enak, dekat sawah, ga banyak kemacetan dan tentunya banyak jajanan juga.”

Kalimat tersebut menurut saya menjelaskan sesuatu yang sering dilupakan dalam dunia desain. Kadang-kadang yang membuat sebuah ruang berhasil bukanlah objek utamanya, melainkan kualitas ruang di sekelilingnya. Di sini; sawah, angin, langit sore, jarak pandang yang luas, suasana yang tidak padat. Semuanya ikut membentuk pengalaman ruang.

Namun beliau juga menyampaikan sebuah paradoks yang menarik. Menurutnya, tidak adanya atap memang menyulitkan ketika hujan. Tetapi justru karena ruangnya terbuka begitu saja, angin dapat berembus bebas sehingga suasana menjadi lebih sejuk. Artinya, satu keputusan desain dapat menghasilkan dua pengalaman yang berbeda, tergantung pada situasi penggunaannya.

Ruang ini ternyata juga menjadi ruang sosial bagi para ibu. Menjelang sore saya bertemu 5 orang ibu yang baru selesai berolahraga. Bu Yeti, Bu Yanti, Bu Deda, Bu Sonya, dan Bu Tita berasal dari kawasan Keramat Mulya yang letaknya tidak jauh dari monumen. Mereka bercerita bahwa kawasan ini bukan hanya menjadi tempat wisata keluarga. Lebih dari itu, tempat ini juga sering menjadi titik pertemuan mereka. Kadang setelah olahraga, kadang bersama keluarga, kadang sekadar ingin menikmati suasana.

Ketika saya bertanya mengapa mereka senang datang ke sini, hampir semua memberikan jawaban yang sama; karena pemandangannya, karena suasananya, karena banyak jajanan. Namun mereka juga berharap suatu hari nanti meja-meja yang ada dapat dilengkapi dengan payung atau peneduh agar tetap nyaman digunakan ketika matahari terik maupun hujan. Saat mendengar itu, saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Ke-5 ibu tersebut tidak sedang membicarakan sebuah monumen. Justru mereka sedang membicarakan ruang hidup.

Dan mungkin di situlah letak keberhasilan Monumen Jenderal Soedirman sebagai ruang publik. Monumen ini memang dibangun untuk mengenang sejarah, tetapi kehidupan yang tumbuh di sekitarnya telah melampaui fungsi awal tersebut. Kini ia menjadi tempat anak-anak bermain, keluarga menghabiskan waktu, pedagang mencari nafkah, komunitas berkumpul, hingga orang-orang dari luar Soreang sengaja datang karena melihatnya di media sosial.

Malam itu saya pulang dengan kesimpulan sederhana: ”desain yang berhasil bukanlah desain yang membuat orang berhenti untuk sekadar melihat, melainkan desain yang membuat orang ingin tinggal.” Dan hari itu, Monumen Jenderal Soedirman tidak hanya berhasil menjadi sebuah ikon, tetapi juga berhasil menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. (*)

Daftar Pustaka

  • Gehl, J. (2011). Life between buildings: Using public space (6th ed.). Island Press.

  • Lynch, K. (1960). The image of the city. MIT Press.

  • Whyte, W. H. (1980). The social life of small urban spaces. Project for Public Spaces.

  • Project for Public Spaces. (2007). What makes a great place? https://www.pps.org/article/grplacefeat

Reporter Nefi Salsabila Hadi
Editor Aris Abdulsalam