Ayo Netizen

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Oleh: Abah Omtris
Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)

Pernahkah kita menghitung berapa kali jempol menggulir layar telepon dalam sehari? Puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali. Bersama setiap guliran itu lewat pula berita tentang begal di Bandung, harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, kasus korupsi, konflik politik, video lucu, promosi belanja, gosip selebritas, hingga meme terbaru. Semuanya meminta perhatian dalam waktu yang bersamaan.

Tidak ada yang benar-benar tinggal lama.

Kita membaca sepintas, memberi tanda suka, mungkin menuliskan komentar, lalu berpindah ke unggahan berikutnya. Informasi datang tanpa henti, tetapi perhatian kita justru semakin pendek. Barangkali inilah salah satu ciri zaman yang jarang kita sadari: kita tidak kekurangan informasi, kita justru mengalami krisis perhatian.

Bandung beberapa waktu terakhir kembali diramaikan kabar begal. Rekaman CCTV beredar di berbagai platform media sosial. Percakapan pun bermunculan. Ada yang menyalahkan aparat, ada yang menyalahkan pelaku, ada yang menyalahkan kondisi ekonomi, bahkan ada yang menjadikannya bahan lelucon. Namun sebelum percakapan itu sempat berkembang menjadi pembahasan yang lebih serius tentang akar persoalannya, linimasa sudah bergerak ke isu berikutnya.

Saya kemudian bertanya, kapan terakhir kali kita benar-benar bertahan cukup lama pada satu persoalan hingga mampu mengawalnya sampai selesai?

Pertanyaan itu mengingatkan saya pada pemikir Prancis, Guy Debord. Dalam The Society of the Spectacle, Debord berpendapat bahwa masyarakat modern tidak selalu dijauhkan dari kenyataan melalui penyembunyian informasi. Justru sebaliknya, realitas dibanjiri oleh begitu banyak citra, peristiwa, dan tontonan sehingga kita kesulitan membedakan mana yang sungguh penting dan mana yang sekadar lewat di depan mata. Debord tentu menulis dalam konteks zamannya, jauh sebelum media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun gagasannya terasa tetap relevan ketika kita melihat bagaimana perhatian publik kini bergerak begitu cepat dari satu isu ke isu lain.

Sudut pandang itu menjadi semakin menarik jika dibaca berdampingan dengan Manufacturing Consent karya Edward S. Herman dan Noam Chomsky. Mereka menunjukkan bahwa pembentukan opini publik tidak selalu berlangsung melalui penyensoran yang keras. Yang sering kali lebih menentukan adalah bagaimana sebuah isu dipilih, dibingkai, diberi ruang, lalu diulang terus-menerus, sementara isu lain perlahan menghilang dari percakapan. Di era media sosial, proses itu tidak hanya berlangsung melalui media arus utama, tetapi juga melalui algoritma yang bekerja berdasarkan perhatian kita sendiri.

Algoritma tidak mengenal benar atau salah. Ia mengenal apa yang membuat orang berhenti menggulir layar, memberi komentar, atau membagikan sebuah unggahan. Dalam logika seperti itu, kemarahan lebih menguntungkan daripada ketenangan, sensasi lebih menarik daripada penjelasan yang panjang, dan sarkasme sering kali lebih mudah menyebar daripada argumentasi yang jernih.

Di sinilah saya melihat sarkasme dari sudut yang berbeda.

Sarkasme bukan musuh demokrasi. Dalam sejarah, satire dan humor justru sering menjadi cara paling ampuh untuk mengkritik kekuasaan. Persoalannya muncul ketika sarkasme berubah menjadi komoditas perhatian. Kritik tidak lagi dinilai dari kemampuannya menjelaskan persoalan, melainkan dari kemampuannya menjadi viral.

Akibatnya, kita memasuki situasi yang paradoks. Kritik tidak pernah sebanyak sekarang, tetapi daya ubahnya terasa semakin kecil. Bukan karena kritik dibungkam, melainkan karena ia harus berebut perhatian dengan ribuan konten lain yang sama-sama meminta untuk dilihat. Sebelum satu persoalan dipahami, persoalan berikutnya sudah datang. Sebelum satu perdebatan selesai, perdebatan lain sudah mengambil alih panggung.

Dalam situasi seperti ini, status quo memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. Bukan semata-mata karena ada pihak yang sengaja mempertahankannya, melainkan karena ruang publik semakin sulit memelihara perhatian dalam waktu yang cukup lama. Persoalan-persoalan yang membutuhkan pengawalan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sering kali hanya memperoleh umur beberapa hari di linimasa.

Tentu saja, dalam setiap ruang publik selalu ada aktor-aktor yang berusaha memengaruhi arah percakapan. Ada yang membangun narasi tandingan, ada yang menyerang pribadi pengkritik, ada yang menggeser fokus pembahasan ke isu lain yang lebih gaduh, dan ada pula yang sekadar mengejar viralitas. Namun semua itu hanya efektif karena bertemu dengan budaya scrolling yang membuat perhatian kita mudah berpindah.

Pada akhirnya, persoalan paling besar bukanlah banyaknya informasi yang kita terima, melainkan sedikitnya waktu yang kita berikan untuk memahaminya.

Sementara kita sibuk berpindah dari satu isu ke isu berikutnya, kehidupan sehari-hari tetap menuntut jawaban. Harga kebutuhan pokok tidak berhenti naik hanya karena sebuah tagar menjadi tren. Kesempatan kerja tidak bertambah hanya karena sebuah video ditonton jutaan kali. Rasa aman warga tidak pulih hanya karena kolom komentar dipenuhi kemarahan.

Demokrasi memang membutuhkan kebebasan berbicara. Tetapi demokrasi juga membutuhkan warga yang mampu mempertahankan perhatian terhadap persoalan yang benar-benar menentukan kehidupan bersama. Tanpa perhatian yang cukup, kritik mudah berubah menjadi sekadar kebisingan. Dan di tengah kebisingan itu, persoalan-persoalan yang paling mendesak justru perlahan menghilang dari pandangan kita.

Mungkin itulah tantangan terbesar zaman ini. Bukan bagaimana membuat lebih banyak orang berbicara, melainkan bagaimana menjaga agar perhatian publik tidak terus-menerus tercerai-berai. Sebab perubahan tidak lahir hanya dari kritik yang ramai, tetapi dari perhatian yang cukup lama untuk berubah menjadi kesadaran, lalu mendorong tindakan. (*)

Reporter Abah Omtris
Editor Aris Abdulsalam