Kalau dilihat dari kata kunci yang dipakai, ketiga media menggunakan kata yang hampir sama. Contohnya seperti “Mi Nyemek Jogja”, “Rasa Rendang”, “Hype Abis”, dan “Warmindo Bu Siti”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka ingin membuat publik langsung ingat dengan ciri khas produk tersebut. Website resmi lebih fokus menjelaskan inovasi produknya. Instagram lebih fokus membuat audiens tertarik lewat visual dan kesan yang kekinian. Sedangkan media online menjelaskan informasi produk dengan lebih lengkap dan jelas. Menurut saya, penggunaan kata kunci yang sama membuat promosi ini terasa lebih terhubung antara satu media dengan media lainnya.
Dari sisi teknik penulisan, website dan media online sama-sama memakai teknik piramida terbalik. Artinya, informasi paling penting ditaruh di awal paragraf. Contohnya, mereka langsung menjelaskan bahwa Indomie mengeluarkan produk baru dengan konsep mi nyemek khas Jogja rasa rendang. Setelah itu baru dijelaskan detail tambahan seperti rasa, inspirasi produk, dan kolaborasinya. Teknik seperti ini membuat pembaca langsung mengerti inti berita sejak awal.
Sedangkan di Instagram, teknik penulisannya lebih singkat dan santai karena tujuannya untuk menarik perhatian orang dengan cepat lewat video dan caption pendek.

Selain teknik penulisan, gaya bahasa yang dipakai juga cukup konsisten. Ketiga media sama sama menunjukkan kesan modern, kreatif, dan dekat dengan anak muda. Website resmi memakai bahasa yang formal tetapi tetap mudah dipahami. Instagram menggunakan bahasa yang lebih santai dan mengikuti gaya media sosial supaya terlihat lebih relate dengan audiens muda. Media online tetap memakai gaya berita yang formal, tetapi masih menampilkan kesan inovatif dari produk Indomie tersebut. Menurut saya, walaupun gaya bahasanya berbeda, identitas brand Indomie tetap terasa sama di semua media.
Konsistensi pesan dalam berbagai media menjadi salah satu faktor penting dalam membangun citra dan kepercayaan publik terhadap organisasi maupun merek. Menurut Verčič dan Špoljarić (2020), integrasi komunikasi melalui berbagai platform digital memungkinkan organisasi menyampaikan pesan yang seragam sekaligus memperkuat identitas merek di mata publik. Sejalan dengan itu, Porcu et al. (2020) menyatakan bahwa persepsi konsistensi komunikasi pemasaran di berbagai saluran berpengaruh positif terhadap hubungan konsumen dengan merek, termasuk kepercayaan, komitmen, dan loyalitas. Berdasarkan temuan tersebut, publikasi Indomie Hype Abis Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang menunjukkan adanya keselarasan informasi pada website resmi, media sosial, dan media online sehingga mendukung terbentuknya identitas merek yang kuat serta komunikasi yang efektif kepada publik. (*)
- Tkalac Verčič, A., Verčič, D., Čož, S., & Špoljarić, A. (2024). A systematic review of digital internal communication. Public Relations Review, 50(1), 102400. https://doi.org/10.1016/j.pubrev.2023.102400
- Porcu, L., Del Barrio-García, S., Alcántara-Pilar, J. M., & Crespo-Almendros, E. (2020). How can perceived consistency in marketing communications influence customer–brand relationship outcomes? European Management Journal, 38(2), 335–343. https://doi.org/10.1016/j.j.emj.2019.08.011