Ayo Netizen

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Oleh: Sri Maryati
Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)

Sungguh ironis jika sentra kerajinan rakyat tidak memiliki lagi pasar yang bisa memudahkan untuk transaksi. Perajin tidak berdaya menghadapi serbuan barang impor. Pemerintah jangan retorika kosong melompong, harus bersungguh-sungguh dengan langkah yang konkrit untuk segera menyelamatkan sentra kerajinan rakyat. Agar usaha rakyat itu tidak hilang ditelan waktu.

Kementerian Koperasi perlu membangun pasar-pasar produk kerajinan lokal yang selama ini tergerus produk impor yang masuk secara resmi maupun ilegal. Aneka macam kerajinan lokal mestinya dikembangkan untuk maju bersama dalam asosiasi gabungan koperasi.

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor. Salah satu produk kerajinan yang berbasis pohon bambu sebetulnya memiliki nilai ekonomi yang luar biasa dan memiliki nilai tambah yang tinggi jika mendapat sentuhan teknologi dan aspek desain industri dan estetika.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyatakan bahwa Tasikmalaya sebagai contoh peradaban tata ruang masa lalu yang memiliki peradaban bambu dan ekonomi kerakyatan sejak dulu. Bahkan Tasikmalaya juga sebagai Kota Koperasi, karena kongres koperasi pertama diselenggarakan di kota ini.

Kewajiban Memakai Alat dan Perabot dari Bambu

Untuk membangkitkan peradaban bambu perlu langkah konkrit. Salah satunya adalah kewajiban bagi instansi pemerintah dan sekolah untuk menggunakan bambu sebagai perabot atau alat sehari-hari. Penggunaan kardus dan plastik untuk makanan saat pertemuan atau acara jamuan, saatnya diganti dengan besek yang berasal dari anyaman bambu, tanaman andong atau serat alam lainnya. Apalagi penggunaan hal tersebut sangat ramah lingkungan.

Sangat keterlaluan jika pengadaan pustaka mainan di sekolah PAUD dan taman-kanak menggunakan mainan impor dari plastik. Mestinya mainan anak dan alat edukasi berbasis bahan baku lokal yang berasal dari bambu dan serat alam.

KDM mesti tegas dan konsisten, bahwa jajaran kantor pemerintah harus menggunakan besek dan perabot makan dari bambu atau kayu. Atau gerabah tanah liat. Begitu juga pengadaan atau belanja alat pendidikan mesti menggunakan produk dari perajin. Dilarang keras menggunakan produk impor yang berbasis plastik dan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan.

Perlu reinventing menjadikan Tasikmalaya dan daerah lain di Jawa Barat memiliki gabungan koperasi perajin berbasis bambu dan serat alam.

Sentra Kerajinan Tusuk Sate di Kampung Randukurung, Kabupaten Bandung. (Foto: Restu Nugraha)

Perlu budidaya tanaman bambu oleh rakyat secara benar. Agar kualitas bambu dan proses produksi kerajinan memiliki desain yang bagus. Untuk ini perlu melibatkan perguruan tinggi atau pendidikan vokasi yang memiliki kompetensi desain produk.

Apalagi pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan bambu menjadi material atau batang bio komposit. Kekuatan batang atau balok bio komposit dari serat pohon bambu ini lebih kuat dan tahan cuaca melebihi kayu jati.

Mesin-mesin produksi untuk membuat bio komposit dari serat pohon bambu perlu ini diadakan di sentra-sentra kerajinan bambu dan dikelola oleh koperasi.

Kursus Desain dan Teknologi Produksi untuk Perajin

Indonesia pernah menempati posisi peringkat ke-12 dunia terkait dengan ekspor produk kerajinan. Namun kini merosot akibat serbuan produk impor, khususnya dari Cina. Hal itu sangat ironis, mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya dan keanekaragaman budaya yang luar biasa. Dengan faktor itu semestinya bisa menempati lima besar eksportir kerajinan dunia.

Meskipun pameran kerajinan sering diselenggarakan dengan upacara yang megah, antara lain penyelenggaraan Inacraft dari tahun ketahun, namun pemerintah pusat dan daerah kurang memiliki strategi dan langkah yang tepat untuk menyelamatkan dan mengembangkan sentra-sentra kerajinan di daerah.

Mestinya Inacraft dan event yang serupa tidak hanya pameran dagang semata, tetapi juga menjadi forum untuk mencari cara bagaimana mentransformasikan sentra kerajinan di daerah agar survive dan mampu bersaing. Forum tersebut diharapkan juga bisa memperbaiki proses kreativitas dan metode produksi yang lebih baik.

Para kepala daerah diharapkan segera membenahi pasar hasil kerajinan yang kiosnya kini banyak yang dalam kondisi menyedihkan. Kini banyak pasar kerajinan di daerah yang kosong dan tidak terurus. Usaha kepala daerah untuk mengatasi pasar kerajinan membutuhkan perombakan teknis bangunan dan sarana pendukung. Sehingga memudahkan masyarakat jika mendatangi kios kerajinan.

Kondisi kios kerajinan yang kumuh dan sepi disebabkan oleh tidak adanya pengaturan klaster perdagangan yang baik. Akibatnya terjadi degradasi suatu produk, stagnasi promosi dan terpuruknya daya saing. Sudah saatnya pemerintah daerah mentransformasikan sentra kerajinan. Sehingga bisa menjadi semacam pameran kerajinan atau handicraft trade fair yang berlangsung setiap hari.

Transformasi pasar kerajinan sebaiknya disertai regulasi atau Undang-Undang yang keberadaannya mampu melindungi perdagangan domestik secara proporsional khususnya di pasar. Selain itu menghilangkan monopoli dan oligopoli yang merugikan rakyat banyak. Salah satu poin penting dalam UU Perdagangan adalah terkait dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Terkait dengan SNI, pasar bisa menjadi sarana penguatan dan sosialisasi. Betapa pentingnya membudayakan standar mutu mengingat arus produk dan jasa di negeri ini semakin tidak terkendali, khususnya produk impor yang sering bermasalah terkait dengan mutu dan menimbulkan berbagai masalah sampingan lain. Pasar merupakan entitas yang efektif untuk membendung serbuan produk impor dengan penerapan SNI.

Untuk memperkuat positioning pasar kerajinan menjadi destinasi wisata dibutuhkan acara kebudayaan. Pentingnya pasar kerajinan dikaitkan dengan pengembangan infrastruktur kota.

Kini para pengrajin masih mengalami keprihatinan. Pasalnya pemerintah daerah kurang melindungi dan memberikan insentif kepada produk kerajinan lokal. Kurangnya agenda aksi yang konkrit di lapangan dan mencarikan solusi teknis terhadap masalah usaha kerajinan.

Perlu memberikan pengetahuan praktis terkait dengan aspek desain industri kepada para pengrajin. Peran strategis desain industri adalah menciptakan dan menerapkan solusi desain terhadap permasalahan yang timbul terkait dengan mutu dan daya saing. Pada prinsipnya desain industri adalah kolaborasi antara teknologi mekanik dengan seni. Desainer industri mempelajari fungsi praktis dan bentuk serta relasi antara produk dengan penggunanya.

Kebijakan pemerintah daerah untuk meningkatkan mutu dan produktivitas produk kerajinan perlu ditingkatkan dan terpadu dengan elemen pasar. Betapa memprihatinkan kondisi entitas kerajinan di negeri ini. Sampai-sampai para pengrajin bambu lokal pun kini terlibas oleh anyaman sintetis dari Tiongkok. (SRI)

Reporter Sri Maryati
Editor Aris Abdulsalam