Sebelum berganti nama, bulan Agustus disebut Mensis Sextilis dalam kalender Romawi Kuno. Dalam bahasa Latin, Sextilis berarti "keenam". Kalender Romawi awal hanya memiliki 10 bulan dan dimulai dari bulan Maret, sehingga Agustus berada di urutan keenam. Pada tahun 8 SM, nama bulan ini resmi diubah untuk menghormati Kaisar Augustus. Senat Romawi memilih bulan ini karena Augustus meraih banyak kemenangan militer besar pada bulan tersebut, termasuk penaklukan Mesir. Langkah ini mengikuti jejak pendahulunya, Julius Caesar, yang mengabadikan namanya pada bulan Juli.
Secara kebahasaan, gelar Augustus atau juga Agosto berasal dari kata Latin yang berarti "yang agung", "yang terhormat", atau "suci". Setelah reformasi kalender oleh Raja Numa Pompilius yang menambahkan bulan Januari dan Februari di awal tahun, posisi Agustus bergeser menjadi bulan kedelapan hingga saat ini. Sedangkan di Negeri Sakura bulan ini disebut 八月yang artinya "bulan kedelapan". Dalam bahasa Jepang klasik, namanya adalah 葉月yang artinya "bulan dedaunan". Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu.
Salah satu peristiwa besar di bulan agustus adalah saat PD II yaitu Sekutu yang merupakan gabungan negara dipimpin Amerika Serikat menghujamkan bom atom di kawasan Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Tepat pada 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Serangan udara tersebut menyebabkan kematian antara 150.000 hingga 246.000 orang, sebagian besar merupakan warga sipil.
Pengeboman ini merupakan satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam konflik bersenjata hingga saat ini. Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus, enam hari setelah pengeboman Nagasaki dan deklarasi perang oleh Uni Soviet terhadap Jepang disusul dengan invasi ke Manchuria. Penyerahan secara resmi dilakukan melalui penandatanganan instrumen penyerahan pada tanggal 2 September 1945, yang menandai berakhirnya Perang Dunia II.

Lewat berbagai kutipan ternyata dampak dari tragedi kemanusiaan ini terbagi ke dalam beberapa aspek utama korban jiwa seketika dan cedera parah kematian massal bom "Little Boy" di Hiroshima menewaskan sekitar 140.000 orang pada akhir tahun 1945, sementara bom "Fat Man" di Nagasaki menewaskan sekitar 74.000 orang.
Luka bakar ekstrem Suhu permukaan tanah saat ledakan mencapai 4.000°C hingga 7.000°C yang menghanguskan tubuh manusia seketika. Hujan hitam turunnya hujan radioaktif pekat setelah ledakan yang meracuni warga penyintas. Lumpuhnya medis di Hiroshima, 90% dokter dan perawat tewas seketika, menyisakan hanya 3 dari 45 rumah sakit yang bisa beroperasi untuk merawat korban luka.
Kerusakan fisik kota infrastruktur Rata, sekitar 70% bangunan di Hiroshima runtuh dan terbakar. Di Nagasaki, area seluas 6,7 kilometer persegi lumat menjadi abu. Radius kehancuran adalah gelombang kejut dan bola api meratakan seluruh struktur bangunan dalam radius hingga 5 mil persegi dari pusat ledakan. Dampak kesehatan jangka panjang. Penyakit radiasi kronis berupa paparan radiasi nuklir memicu lonjakan kasus kanker dan leukemia secara drastis selama bertahun-tahun. Kelainan genetik kerusakan sel akibat zat radioaktif memengaruhi keturunan para penyintas, termasuk cacat lahir fisik dan mental.

Trauma dan stigma para penyintas mengalami trauma psikologis mendalam serta diskriminasi sosial akibat ketakutan masyarakat terhadap efek radiasi. Sementara dampak politik dan global akhir Perang Dunia II Pengeboman ini memaksa Kaisar Hirohito menyatakan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Era senjata nuklir peristiwa kelam ini memicu perlombaan senjata global serta memulai era Perang Dingin antar-negara kekuatan besar. Simbol perdamaian dunia berupa sisa bangunan yang bertahan, seperti Kubah Perdamaian Hiroshima, kini dijadikan situs warisan dunia UNESCO untuk menyuarakan pemusnahan total senjata nuklir.
Di balik tragedi yang sangat memilukan tersebut di atas, ada secercah cahaya kilatan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia setelah tanggal 15 Agustus 1945. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu setelah mengebom Hiroshima dan Nagasari, menjadi momentum emas bagi para Golongan muda untuk meminta kepada Golongan tua yang ikonik dengan Soekarno-Hatta, supaya segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Setelah perbedaaan pendapat antara kedua golongan itu, akhirnya mencapai kesepakatan bahwa kemerdekaan akan segera diwujudkan dan tepat tanggal 17 Agustus 1945 sekital Pukul 10.00 WIB, naskah Proklamasi dibacakan dengan demikian Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. (*)