Ayo Netizen

Jampana, Arak-arakan, dan Nikmat Kemerdekaan

Oleh: Ibn Ghifarie
Parade jampana saat melintas di Kampung Cidadap, Desa Padalarang (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Siang yang terik di kawasan Cibiru, Bandung, dan sekitarnya. Sepulang mengikuti Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Agro Edu Park, Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (17/8/2026), ingatan justru melayang jauh ke kampung halaman.

Apel bertajuk “Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur” itu berlangsung khidmat. Para peserta mengenakan pakaian adat dan busana tradisional, seolah-olah ingin mengingatkan Indonesia dibangun dari keberagaman yang saling menguatkan dan melengkapi.

Meneguhkan Kemerdekaan Sejati

Dalam amanat Menteri Agama Nasaruddin Umar yang dibacakan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, kemerdekaan ditegaskan bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap Agustus. Kemerdekaan itu hasil perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu.

Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menyebut bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Kemerdekaan bukan hanya alasan untuk mengibarkan Merah Putih, mengikuti upacara, atau menggelar perlombaan. Justru kemerdekaan itu nikmat yang mesti disyukuri dan amanah yang harus diisi.

Tugas generasi hari ini berusaha meneruskan perjuangan itu melalui ilmu, kerja keras, integritas, inovasi, kerukunan, dan pengabdian. Teknologi boleh berkembang pesat, tetapi etika dan kemanusiaan jangan sampai tertinggal.

Rupanya, makna kemerdekaan siang itu justru terasa hangat, akrab saat membuka pintu rumah. Tak membawa Koran kebanggaan urang Jabar karena libur tanggal merah.

“Bah, Aa mau cerita boleh?” tanya Aa Akil, anak kedua (11 tahun).

Mangga!” jawabku singkat.

Kan tadi Aa ikut karnaval sama teman-teman. Ada jampana. Keliling dari start Lapang Poli HSV, muter ke Masjid Nurul Amal, terus mengelilingi RW 4, diikuti enam RT. Rame banget. Pas makanan di jampana diperebutkan, seru banget!” katanya dengan semangat membara.

Alhamdulillah, rame!” ucapku sambil mengusap-usap kepalanya.

Waktu bocil menjelaskan aktivitas serunya agustusan, entah mengapa, cerita sederhana itu membawa ingatan ke masa 1990-an di kampung halaman, Bungbulang, Garut Selatan.

Pasalnya, setiap Agustus, kampung ibarat mendapatkan (suntikan) napas baru. Jalan-jalan desa berubah menjadi ruang (ajang) perayaan dadakan. Arak-arakan bergerak dari desa masing-masing menuju Alun-alun Bungbulang. Ada karnaval dengan berbagai kreasi khas desa, kesenian, pakaian unik, hingga jampana yang dihias dengan buah-buahan dan hasil pertanian.

Uniknya, setelah mengelilingi Kaum (alun-alun), rombongan bergerak menuju Lapang Sepak Bola Barukaliki, Liunggunung. Di sana, jampana yang sebelumnya menjadi bagian dari tontonan dan penilaian akhirnya berubah menjadi ruang berbagi. Ngalap berkah!

Beragam makanan dan hasil bumi yang dibawa dalam jampana diperebutkan, untuk dinikmati bersama. Balakecrakan di lapang maenbal, istilah urang Garut Selatan untuk makan bersama dalam suasana riang, menjadi penutup yang justru paling membekas.

Di situlah merasakan, kemerdekaan sesungguhnya tidak selalu harus dijelaskan dengan kata-kata besar. Kadang hadir dalam arak-arakan sederhana, dalam tawa anak-anak, saat makanan yang dibagikan, dan suasana kebersamaan warga. Dongdang euy!

Suasana parade jampana saat melintas di Kampung Cidadap, Desa Padalarang (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Icon Helaran Agustusan

Jampana semacam tandu yang dibentuk seperti rumah, isi jampana biasanya bermacam makanan dan buah-buahan. Jampana biasa dipergunakan pada saat ada keramaian, semisal keramaian memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus di desa. (Mamat Sasmita, 2022:213)

Jampana sendiri dalam bahasa Sunda berarti tandu. Pawai jampana merupakan arak-arakan tandu yang biasanya dihias sedemikian rupa. Tandu itu dipikul beberapa orang dan di dalamnya terdapat aneka makanan, hasil bumi, kerajinan, maupun berbagai produk masyarakat.

Untuk di sejumlah daerah Jawa Barat, tradisi ini menjadi bagian dari pesta rakyat. Puluhan jampana dapat diarak bersama-sama, diiringi musik tradisional maupun modern. Setelah sampai di tempat tujuan, isi jampana dibagikan, diperebutkan untuk dinikmati bersama.

Warga akan menyantap bersama-sama isi makanan yang dibawa dalam pawai jampana. Tak heran, bila arak-arakan ini selalu berlangsung meriah dan sangat dinantikan oleh masyarakat Ki Sunda.

Ya, pawai jampana bukan sekadar pesta rakyat semata. Tradisi tahunan ini merupakan bentuk ucapan syukur atas kemerdekaan RI yang diraih dengan penuh perjuangan dari para pahlawan. Tujuannya untuk melestarikan budaya khas Sunda. Dengan adanya pawai jampana, masyarakat Jawa Barat memperkenalkan produk-produk unggulan baik hasil bumi maupun kerajinan tangan. (Kompas 23 Juli 2023: 14.40 WIB)

Arak-arakan (karnaval), yang diselenggarakan untuk memeriahkan suatu acara, misalnya pesta agustusan, ulang tahun daerah, dalam upacara-upacara tradisional seperti hajat laut, hajat lembur, pesta khitanan. Berbagai tetabuhan ditalu sambil berjalan, biasanya dengan tari-tarian dan berbagai atraksi menarik. Helaran menjadi pentas komunal yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, bukan hanya pelaku kesenian, tetapi masyarakat umum.

Helaran dikenal dalam kebudayaan kita sejak dahulu. Pada zaman Kabupatian Sukapura, Helaran selalu dilaksanakan oleh para petinggi kabupaten saat mengkhitan anak, cucunya. Setelah berbagai prosesi upacara adat, anak lelaki yang dikhitan dirias, lalu diusung di atas pelaminan berhias dan diarak keliling kota dengan diiringi permainan dan bunyi-bunyian. Pada malam harinya lalu diadakan pesta yang meriah di alun-alun.

Sekitar tahun 1970-1980-an, acara Helaran menjadi salah satu daya tarik saat agustusan. Yakni, saat masyarakat dari berbagai kampung bersama-sama menuju ke lapang desa tempat upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan.

Sejak jauh-jauh hari masyarakat mempersiapkan diri untuk acara Helaran pada hari tersebut. Berlatih menari, mempersiapkan kostum, membuat beraneka properti untuk mendukung aksi yang akan dilakukan. Adegan perang selalu dihadirkan lengkap dengan dentuman meriam yang dibikin dari bedil lodong berbahan peledak dari karbit, ditaruh dalam gerobak dorong yang telah disulap menjadi tiruan tank baja.

Biasanya kaum muda, ada yang memerankan para pejuang dengan senjata bambu runcing dan memakai ikat kepala merah putih. Sebagian lagi yang memiliki tubuh lebih jangkung berperan sebagai tentara Belanda berpakaian loreng, membawa bedil yang terbuat dari kayu. Tentara Belanda ini selalu diperankan dengan sikap yang kejam. Tak lupa, para pemudi pun terlibat sebagai petugas palang merah berpakaian putih-putih, siap menolong para pahlawan yang terluka.

Adegan perang itu dipertunjukkan di sepanjang jalan menuju ke lapangan upacara. Selain adegan tadi, dipertunjukkan pula berbagai kamonésan (kreativitas) masyarakat. Misalnya untuk mengundang kelucuan, ada yang berpura-pura menjadi pengantin sunat dengan lagak yang artifisial, ada pria memakai pakaian wanita dengan riasan serba berlebihan, berbagai tari-tarian.

Ada tari yang gerakannya meniru gerakan petani mencangkul, disertai penari perempuan berkebaya membawa bakul. Tarian yang disertai nyanyian lagu Rayak-Rayak ini lazim disajikan oleh para petani itu sendiri, dan bukan oleh seniman tari. Semata-mata sebagai hiburan dan menunjukan kecintaan mereka kepada pekerjaan sebagai petani.

Pada era Orde Baru, keberhasilan para petani selalu ditonjolkan dalam acara semacam ini. Bukan hanya lewat tarian, tetapi hasil pertanian seperti pisang, singkong, padi geugeusan, jagung, dan lain-lain, dibawa dalam pikulan, atau menjadi hiasan jampana; yakni usungan yang berbentuk miniatur rumah yang dihiasi beragam hasil bumi, penganan khas, yang dipanggul oleh empat orang pria.

Jampana ini bisa disebut ikon dari Helaran agustusan. Fungsinya sebagai tempat untuk membawa hasil pertanian agar lebih menarik untuk dilihat, untuk menyimpan berbagai penganan dan makanan kecil seperti opak, ranginang, wajit, dan lain-lain, yang ditata sedemikian rupa, hingga membentuk hiasan.

Pada bagian dalam jampana, menjadi tempat untuk menyimpan congcot (tumpeng kecil dibungkus daun pisang), atau tumpeng dan nasi kuning. Selepas upacara bendera, isi jampana ini akan menjadi konsumsi para peserta Helaran.

Kesenian seperti réog, kuda lumping, angklung, pencak silat, terebangan, kasidah rebana, calung, bebegig, dan lain-lain, kerap menjadi bagian dari kemeriahan Helaran agustusan. Di sepanjang jalan setiap grup beraksi menabuh waditra yang dibawa masing-masing.

Di lapangan upacara, segala bunyi-bunyian dipersilakan untuk dimainkan selama sepuluh hingga lima belas detik, saat jam menunjukkan pukul 10 pagi. Sepertinya, bunyi-bunyian tersebut sebagai pengganti suara meriam yang biasa dibunyikan saat upacara peringatan proklamasi di tingkat kabupaten hingga tingkat negara.

Bisa dibayangkan keriuhan yang tercipta, saat semua tetabuhan dibunyikan. Apalagi di lapangan yang hadir bukan hanya peserta Helaran dari satu kampung, tetapi dari beberapa kampung yang menjadi bagian dari wilayah desa di mana upacara tersebut dilaksanakan.

Masyarakat dari berbagai kampung memang selalu berusaha menjadi yang paling menonjol dalam Helaran ini. Bermacam-macam kesenian dan atraksi disajikan. Semua itu dilakukan dengan sukarela setiap tanggal 17 Agustus, baik saat dalam perjalanan maupun setelah tiba di lapangan upacara. Tanpa harus ada perintah (instruksi) dari pemerintah.

Helaran, arak-arakan biasa dilakukan saat kenduri khitanan. Dulu, bahkan kemeriahan Helaran menjadi penanda dari ‘tingginya' status sosial sebuah keluarga. Karena hanya orang yang berada saja yang mampu menyelenggarakan Helaran saat mengkhitan anaknya, karena untuk Helaran ini sohibul bait mengeluarkan biaya untuk membayar grup kesenian, misalnya kesenian kuda rénggong, kesenian kuda lumping, angklung, dan lain-lain, yang dilibatkan dalam Helaran.

Bedanya, Helaran dalam acara semacam hajat lembur, hajat laut, lebih bersifat ritual. Kemeriahan bercampur dengan kekhusyukan, karena biasanya diselenggarakan sebagai upacara adat yang mempunyai beberapa aturan yang harus ditaati oleh peserta Helaran. (Nunu Nazarudin Azhar, 2023: 98-103)

Serunya parade jampana saat melintas di Kampung Cidadap, Desa Padalarang (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Merawat Ingatan, Merakayan Kebersamaan

Ingat, yang paling menarik bukanlah soal siapa mendapatkan makanan paling banyak. Melainkan semangat berbagi, peduli di baliknya. Segala hasil bumi yang ditanam petani, makanan yang dibuat warga, dan kreativitas masyarakat tidak berhenti menjadi pajangan di atas tandu. Semuanya kembali kepada masyarakat untuk dinikmati bersama.

Jampana itu bak metafora tentang kehidupan. Apa yang kita miliki tidak akan pernah benar-benar bermakna bila hanya disimpan sendiri. Berbagi dengan yang membutuhkan, Nulung kanu keur butuh, nalang kanu keur susah (menolong kepada orang yang membutuhkan dan membantu orang yang kesusahan).

Begitu pula dengan kemerdekaan. Bukan sekadar status sebagai bangsa yang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan menjadi anugerah, kesempatan untuk menikmati hasil perjuangan dan tanggung jawab untuk memastikan nikmat itu dapat dirasakan bersama-sama.

Dulu, arak-arakan hanya diikuti warga dengan pakaian sederhana. Jampana dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di kampung. Hasil kebun dan makanan rumahan menjadi hiasannya. Kini, wajah karnaval semakin beragam. Ada kostum kreatif, kendaraan hias, pengeras suara, koreografi, hingga berbagai tema pembangunan dan kebudayaan.

Ya, zaman boleh berubah. Bentuk perayaan boleh berganti. Tapi substansinya semestinya tetap sama, mulai berkumpul, bersyukur, berbagi, bergembira, mempererat persaudaraan, hingga berusaha mengenang perjuangan para pendahulu.

Arak-arakan bukan hanya tentang berjalan bersama menuju satu tempat. Justru menjadi tanda (simbol) ihwal perjalanan bangsa ini harus ditempuh bersama-sama. Jampana bukan hanya tandu berisi makanan. Melainkan wajah atas nikmat kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada segelintir orang, tetapi dibagikan dan dirasakan berjamaah.

Karnaval bukan hanya keramaian di jalan kampung, tapi ruang (ekspresi) kegembiraan, keseruan alakadarnya cara rakyat berkata. Syukur, alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati kemerdekaan.

Sungguh, agustusan 2026 terasa istimewa. Cerita Aa Akil tentang jampana siang itu seakan-akan membawa pada makna kemerdekaan yang sederhana, tetapi begitu dekat dengan kehidupan.

Di usianya yang baru 11 tahun, tentu belum sepenuhnya memahami panjangnya sejarah kemerdekaan. Belum mengerti bagaimana darah, air mata, pengorbanan, dan doa para pendahulu mengantarkan Indonesia sampai hari ini.

Yang diketahui hanyalah berjalan bersama teman-temannya, melihat jampana, berkeliling kampung, tertawa, lalu ikut berebut makanan bersama warga.

Dari kesederhanaan itu kita masih bisa berkumpul, berjalan bersama, tertawa bersama, dan menikmati hasil bumi bersama karena ada kemerdekaan yang diwariskan oleh generasi sebelum kita.

Walhasil, agustusan bukan sekadar perayaan, tapi menjadi momentum guyub yang penuh warna, ceria, dan asyik. Ruang tempat anak-anak belajar tentang kebersamaan, warga merawat persaudaraan, dan tradisi terus diwariskan.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, arak-arakan, jampana, dan karnaval kampung menjadi cara sederhana untuk meneguhkan (mengokohkan) identitas, kebudayaan, dan semangat kemerdekaan.

Dengan demikian, kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk disyukuri, dirawat, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Termasuk, bagi Aa Akil, kemerdekaan hari ini cukup sederhana, bisa berjalan bersama, tertawa terbahak-bahak, dan makan balakecrakan. Alhamdulillah, itulah nikmat kemerdekaan yang perlu disyukuri. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam