Ayo Netizen

Self-Reward Anak Muda dan Jebakan Mental Accounting

Oleh: ANGELINA MARSCIANO NOVI ARJANTI
Ilustrasi self reward. (Sumber: Pexels | Foto: Kristina Paukshtite)

Bisa menghitung dan menyusun laporan keuangan orang lain dengan baik tapi keuangan sendiri saja kacau? Kebiasaan yang sering dilakukan ketika ujian berakhir justru langsung muncul pikiran “pergi ke mana ya habis ini?” atau “beli apa ya enaknya?” Tangan yang begitu cepat membuka handphone dan mencari referensi di google atau bahkan membuka platform belanja online yang kemudian melakukan berbagai transaksi dan tanpa sadar sudah banyak kas yang dihabiskan.

Kejadian inilah yang sering kali menjadi sebuah alasan untuk melakukan apresiasi terhadap diri sendiri. Entah dengan cara membeli sesuatu yang disukai setelah ujian, membeli makanan enak atau jajanan yang banyak setelah begadang mengerjakan tugas tugas yang menumpuk, atau bahkan membeli sesuatu yang tidak perlu hanya karena lapar mata. Padahal seharusnya merekalah yang paling paham bagaimana cara mengatur keuangan agar tetap aman terkendali dan stabil. Dari sini, muncul sebuah pertanyaan mengapa self-reward dirasa wajar untuk diterima, bahkan oleh mereka yang seharusnya paling tahu akan akibat terhadap keuangan?

Apa itu Self-Reward dan Kenapa Terasa "Wajar"

Self-reward sendiri memiliki arti dimana itu adalah sebuah bentuk apresiasi yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri karena telah berhasil melalui perjalanan yang berat dalam menyelesaikan pekerjaannya atau karena telah mencapai sebuah target yang diharapkan. Bentuknya sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang dalam bentuk menghabiskan uang seperti membeli barang yang diinginkan, membeli banyak jajanan enak, dan pergi jalan jalan ke tempat tempat hiburan. Ada pula dalam bentuk menghabiskan waktu untuk diri sendiri seperti menonton film dirumah, membaca sebuah buku, atau olahraga.

Dilansir dari artikel KPKNL Samarinda pada website DJKN dimana Devy Kusumaningrum selaku pelaksana pada KPKNL Samarinda mengatakan bahwa self-reward bukan hanya sekadar sebuah bentuk apresiasi saja, tetapi juga cara untuk lebih mencintai diri sendiri.

Di sisi lain, selain untuk manfaat psikologis, self-reward ini dapat dikaitkan dengan budaya hustle culture atau yang biasa kita dengar sebagai istilah gila kerja. Hustle culture adalah kondisi dimana seseorang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja dengan waktu istirahat yang singkat. Hal ini yang kemudian membuat seseorang menggunakan waktu istirahat yang singkat itu dengan bersenang-senang. Adanya konten konten di media sosial yang mendukung atau membenarkan bahwa membeli sesuatu itu bukan pemborosan melainkan apresiasi terhadap diri sendiri untuk menghibur diri sendiri juga mempengaruhi psikologi seseorang sebagai validasi bahwa apresiasi diri adalah hal yang wajar dilakukan kapan pun kita merasa lelah. 

Self-reward yang dilakukan oleh anak muda kebanyakan berasal dari kebiasaan atau pola yang sudah terbentuk sejak lama. Berdasarkan hasil survey yang sempat saya lakukan terhadap 16 responden yang merupakan teman teman saya, kebanyakan dari mereka melakukan apresiasi diri ketika sudah menyelesaikan ujian dan ketika mereka merasa stress atau lelah tanpa alasan yang spesifik, yang di mana kebiasaan ini terkadang direncanakan tapi juga terkadang dilakukan secara spontan. Hal tersebut dapat memperlihatkan bahwa apresiasi terhadap diri sendiri sekarang jadi sulit dibedakan antara yang bener benar untuk diri sendiri atau semata mata hanya karena kalap mata karena dorongan emosional untuk melepas rasa lelah atau stress.

Kata “Self Reward” sudah sangat nyaman dikenal oleh telinga para Gen Z. (Sumber: Pexels/Porapak Apichodilok)

Konsep Mental Accounting

Konsep mental accounting dalam ilmu behavioral accounting, yang dicetuskan oleh ekonom peraih Nobel, Richard Thaler, menyatakan bahwa kebanyakan orang akan melakukan pemisahan atau mengategorikan ke dalam akun-akun yang berbeda berdasarkan sumber dana yang didapatkan dan penggunaan dana tersebut. Menurutnya ada 3 komponen utama, yaitu (1) untung atau rugi yang dirasakan seseorang tergantung pada hasil yang diperoleh dibandingkan harapan awalnya (bukan hanya nominal akhir yang didapatkan). (2) bagaimana seseorang mengelompokkan atau mengategorikan dana yang masuk dan keluar ke dalam beberapa akun yang berbeda berdasarkan sumber dan penggunaannya dan (3) bagaimana seseorang menentukan jangka waktu untuk melakukan evaluasi atas transaksi yang dilakukan.

Berdasarkan hasil survei yang saya lakukan terhadap 16 teman saya, mayoritas dari mereka memilih “ya” sebanyak 68,8% yang dimana mereka memperlakukan uang secara berbeda tergantung sumbernya, adapun sebanyak 18,8% yang memilih “mungkin” dan sebanyak 12,5% memilih “tidak” yang berarti mereka tidak melihat dari mana sumber uang itu berasal dan memperlakukannya sama saja. Hal ini membuktikan bahwa teori mental accounting memang terjadi di kalangan anak muda zaman sekarang. Kebanyakan dari mereka melakukan pengategorian terhadap uang yang didapat meskipun tidak menutup kemungkinan terhadap celah untuk melakukan self-reward secara impulsif. Bagaimana mereka memutuskan untuk melakukan pembelian lah yang menjadi penentunya.

Tahu Teori tapi Gagal Praktik

Adanya kesenjangan antara teori serta praktik nyata ini memiliki istilah sendiri dalam kajian behavioral economics, yaitu knowledge-behavior gap yang merupakan kondisi di mana ada ketidaksesuaian antara wawasan yang mencukupi atau memadai akan tetapi dalam menjalankan praktik nyatanya sangat berbeda. Padahal mereka tau apa yang seharusnya dilakukan, tetapi cara mereka bertindak tidak sesuai dengan apa yang sudah mereka pelajari di perkuliahan.

Hal tersebut semakin terlihat jika diteliti lebih dalam, tidak sedikit dari mereka yang mempelajari teori akuntansi, tetapi belum melakukan pencatatan secara rutin atas transaksi yang mereka lakukan. Kondisi tersebut menunjukan bahwa knowledge-behavior gap dapat terjadi di kalangan anak muda dalam kasus ini adalah anak akuntansi. Meskipun mereka diajari tentang bagaimana mengelola pencatatan keuangan dengan baik, justru mereka tidak menerapkannya kebiasaan tersebut kepada keuangan mereka sendiri.

Adapun dari hasil survei lainnya yang saya lakukan yang menunjukan bahwa mayoritas memilih kalau mereka melakukan apresiasi pada dirinya sendiri minimal sekali dalam setiap bulannya, ada yang dalam 1 bulan dapat melakukannya lebih dari 1x atau bahkan hampir setiap minggu melakukannya. Jika digabungkan secara keseluruhan, hampir 68,8% responden melakukan self-reward lumayan rutin di setiap bulannya. Hal tersebut menunjukan bahwa seberapa seringnya frekuensi yang dilakukan memperlihatkan kebiasaan yang dilakukan bukan hanya sekedar di momen atau kondisi yang istimewa melainkan kebiasaan rutin minimal sebulan sekali. Hal ini diperkuat pada temuan sebelumnya bahwa kebiasaan yang dilakukan kebanyakan ketika mereka merasa stress atau lelah tanpa alasan yang spesifik.

Dapat kita lihat bahwa sebenarnya yang membuat self-reward menjadi impulsif karena adanya dorongan dari faktor psikologis seperti rasa lelah atau stres yang dirasakan yang dapat mengalahkan keputusan finansial rasional seseorang. Contohnya adanya tekanan dari teori hustle culture yang kemudian membuat self-reward terasa bebas dilakukan dan emosional sementara untuk melepas rasa lelah dan stress yang kemudian memunculkan knowledge-behavior gap. Inilah yang perlu direnungkan secara pribadi dengan lebih dalam dan teliti supaya kelak ketika kita dihadapkan oleh tanggung jawab finansial dan konsekuensi yang jauh lebih besar, kita sudah memiliki kebiasaan disiplin dalam mencatat dan mengelola keuangan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini membuktikan bahwa ilmu akuntansi yang dipelajari di ruang kelas tidak serta-merta membuat seseorang rasional secara finansial, karena yang dibutuhkan bukan hanya sebuah wawasan yang memadai, melainkan kesadaran untuk mempraktikannya dalam kehidupan nyata. Sebab, tidak ada artinya jika kita dapat mengelola keuangan orang lain dengan baik jika tidak dapat diterapkan pada diri sendiri. (*)

Reporter ANGELINA MARSCIANO NOVI ARJANTI
Editor Aris Abdulsalam