Di tengah derasnya arus media sosial yang dipenuhi beragam cerita, kisah sederhana tentang keluarga justru sering mencuri perhatian. Bukan karena kemewahan atau sensasi, melainkan karena menghadirkan kehangatan, kebersamaan, humor, dan hubungan antargenerasi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satunya adalah kisah Mamah Bule bersama cucunya, Berliana Pradhella Guntara, yang akrab disapa Kang Ian. Keduanya dikenal melalui akun media sosial Bridgia Adhella, nama yang diambil dari nama cicit Mamah Bule, putri kesayangan Kang Ian.
Di Facebook dan Instagram, kebersamaan mereka hadir lewat percakapan ringan, saling menggoda, tingkah lucu, hingga berbagai kejadian spontan dalam keseharian. Tidak ada kesan dibuat-buat atau membutuhkan konsep yang rumit. Justru suasana natural itulah yang membuat konten mereka terasa dekat dan menghibur.
Mamah Bule memiliki nama asli Adellina Ganda Prawira. Ia lahir di Bandung, 26 September 1941.
Di balik sosoknya yang ceria dan akrab di media sosial, tersimpan kisah keluarga dengan perjalanan sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan riwayat yang diwariskan dalam keluarga, Mamah Bule disebut memiliki hubungan keturunan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, tokoh Belanda yang dikenal sebagai orientalis dan memiliki peran penting dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Dalam riwayat keluarga tersebut disebutkan, Snouck Hurgronje pernah menikah dengan Sangkana, putri Raden Haji Mohammad Ta'ib, seorang penghulu di Ciamis. Dari pernikahan itu lahir beberapa anak, salah satunya Raden Oemar Ganda Prawira.
Riwayat keluarga kemudian menyebutkan bahwa Mamah Bule merupakan putri dari Oemar Ganda Prawira.
Silsilah tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan keluarga Mamah Bule. Namun, untuk memastikan hubungan genealogis secara lebih rinci, tentu diperlukan penelusuran terhadap arsip keluarga dan dokumen sejarah yang dapat diverifikasi.
Mengenal Snouck Hurgronje
Christiaan Snouck Hurgronje (1857–1936) merupakan orientalis, ahli bahasa Arab, dan sarjana Islam asal Belanda yang menempuh pendidikan di Universitas Leiden.
Ia dikenal melalui penelitian mengenai Islam dan masyarakat Muslim. Pada 1884–1885, Snouck berada di Jeddah dan Makkah. Pengalamannya kemudian dituangkan dalam karya terkenalnya, Mekka, yang menggambarkan kehidupan masyarakat dan jamaah di kota suci tersebut.
Pada 1889, Snouck datang ke Hindia Belanda dan kemudian menjadi penasihat pemerintah kolonial dalam persoalan Islam dan masyarakat pribumi.
Namanya juga sangat berkaitan dengan Perang Aceh. Pengetahuannya mengenai masyarakat, ulama, serta jaringan sosial-keagamaan Aceh digunakan pemerintah kolonial dalam menyusun strategi menghadapi perlawanan di wilayah tersebut.

Karena itu, warisan sejarah Snouck Hurgronje tergolong kompleks. Ia merupakan ilmuwan yang memiliki kontribusi penting dalam kajian Islam dan masyarakat Muslim, tetapi pengetahuan yang dimilikinya juga dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintahan kolonial.
Pada 1906, Snouck kembali ke Belanda dan melanjutkan karier akademiknya di Universitas Leiden.
Kehidupan pribadinya di Hindia Belanda juga meninggalkan jejak tersendiri. Ia pernah membangun keluarga dengan perempuan pribumi dan memiliki anak. Riwayat inilah yang kemudian menjadi bagian dari cerita mengenai garis keturunan yang diwariskan dalam keluarga Mamah Bule.
Ada satu peninggalan yang memiliki arti khusus dalam perjalanan keluarga Mamah Bule, yakni sebuah surat bertahun 1907 yang ditulis ayahnya kepada kakeknya.
Menurut cerita keluarga, keberadaan surat tersebut kemudian diketahui kembali melalui sebuah email yang datang dari Leiden.
Bagi keluarga, surat berusia lebih dari satu abad itu bukan sekadar dokumen lama. Ia menjadi semacam jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan kehidupan orang-orang yang telah lama berlalu.
Dalam kisah yang diwariskan keluarga, terdapat pula cerita mengenai kerinduan keturunan dari garis tersebut untuk bertemu dengan keluarga di Belanda. Bahkan, disebutkan adanya larangan keras untuk menggunakan nama Hurgronje.
Benar atau tidaknya seluruh detail genealogis tersebut tentu masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui arsip keluarga dan dokumen sejarah. Namun, bagi keluarga Mamah Bule, surat tahun 1907 tetap menjadi peninggalan berharga karena menyimpan jejak perjalanan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kini, kisah keluarga tersebut bertemu dengan kehidupan yang jauh berbeda: dunia media sosial.
Mamah Bule tinggal bersama cucunya, Kang Ian, di kawasan Padasuka Park, Pasir Layung, Kota Bandung. Dari rumah inilah banyak cerita keseharian mereka bermula.
Kebersamaan nenek dan cucu itu kemudian berkembang menjadi bagian dari aktivitas Mamah Bule sebagai kreator konten digital. Obrolan sehari-hari, humor, ulasan produk, promosi, hingga berbagai momen keluarga dikemas menjadi konten yang ringan dan menghibur.
Kang Ian menjadi pasangan interaksi yang membuat suasana semakin hidup. Perbedaan usia yang cukup jauh justru menjadi kekuatan tersendiri.
Mamah Bule membawa pengalaman, spontanitas, dan gaya komunikasi dari generasinya. Sementara Kang Ian hadir dengan karakter generasi yang lebih akrab dengan dunia digital.
Dari perbedaan itulah lahir percakapan yang spontan. Kadang lucu, kadang sederhana, tetapi justru terasa apa adanya.

Di luar aktivitasnya di media sosial, Mamah Bule juga dikenal memiliki kegemaran membaca surat kabar, salah satunya Pikiran Rakyat.
Kecintaannya terhadap koran tersebut bahkan pernah mendapat perhatian dari pihak Pikiran Rakyat. Mamah Bule pernah dikunjungi Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Satrya Graha, bersama tim. Dalam kesempatan tersebut, ia memperoleh sejumlah suvenir sekaligus kesempatan berlangganan koran secara gratis selama tiga bulan.
Mamah Bule juga mengikuti berbagai informasi olahraga dan sepak bola. Persib Bandung termasuk salah satu yang menjadi perhatiannya dan kerap menjadi bahan obrolan dalam keseharian.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas digital Mamah Bule berjalan berdampingan dengan kegemarannya membaca dan mengikuti perkembangan berita.
Kehadiran Mamah Bule di media sosial menjadi contoh bahwa dunia digital bukan hanya milik generasi muda.
Dengan pembawaan yang ceria, spontan, dan natural, ia terus membuat konten sekaligus berinteraksi dengan para pengikutnya. Aktivitas tersebut bahkan berkembang menjadi berbagai bentuk kerja sama, mulai dari ulasan produk, promosi, hingga endorsement.

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.
Pada akhirnya, kisah Mamah Bule dan Kang Ian bukan sekadar cerita tentang Facebook atau Instagram. Ini adalah kisah tentang dua generasi yang menemukan cara sederhana untuk menikmati kebersamaan, berbagi canda, dan mengubah keseharian menjadi cerita yang menghibur banyak orang.
Dari rumah di Bandung, mereka menunjukkan bahwa kebersamaan dalam keluarga, meski sederhana, selalu memiliki daya tarik tersendiri. Semoga Mamah Bule senantiasa sehat walafiat, tetap ceria, dan terus berkarya serta berkreasi bersama Kang Ian. (*)