Dunia pekerjaan bukan sebatas dominasi laki-laki, melainkan peranan perempuan yang terlibat di dalamnya. Situasi ini bukan sekadar menyadarkan kita bahwa perempuan memiliki peran penting di setiap sektor pekerjaan, juga di lingkup kepolisian.
Stigma perempuan tidak bisa masuk ke ruang yang maskulin, ternyata dapat dibantahkan. Tahun 1948 tepatnya tanggal 1 bulan September, merupakan sejarah yang tidak dapat terhapuskan. Lahirnya polisi wanita atau Polwan. Senyatanya merujuk pada kedaruratan pada situasi perang saat itu. Kebutuhan operasional yang mengharuskan adanya wanita untuk bergabung.
Ketika masa perang, polisi laki-laki kesulitan untuk melakukan cek fisik, yang memang diharuskan kehadiran wanita untuk tahanan berbeda gender. Maka dibutuhkanlah wanita terlibat di dalamnya.
Terdapat usulan dari organisasi wanita agar keikutsertaan wanita dapat mempermudah dan memberi alternatif, sehingga hadirlah pionir dari enam wanita, di antaranya Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher.
Melalui enam wanita inilah cikal sejarah terbentuknya polisi wanita. Berdasar catatan museumpolri.org menjelaskan bahwa pada tanggal 19 Juli 1950 ke enam calon inspektur polisi wanita kembali dilatih di SPN Sukabumi. Selama pendidikan ke enam calon inspektur polisi wanita mendapat pelajaran mengenai ilmu-ilmu kemasyarakatan, pendidikan dan ilmu jiwa, pedagogi, sosiologi, psikologi, dan latihan anggar, jiu jit su, judo, serta latihan militer.
Dari proses tersebut, enam calon inspektur polisi wanita menjadi tonggak sejarah bagi dunia kepolisian Indonesia. Polisi wanita memprakarsai betapa kehadiran wanita di dunia kepolisian sangat membantu dan menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting.
Perjalanan sejarah ini kemudian beralih seiring berkembangnya dunia kepolisian dan relevansinya dengan dunia digital saat ini. Polisi wanita memiliki tugas pokok dan fungsi yang notabene tidak mudah.
Justru dari tupoksi polisi wanita ini pula terbentuk bahwa polisi wanita memiliki daya saing tinggi dan memberi kesadaran kepada kita semua bahwa polisi wanita juga setara dalam semua aspek pekerjaan di dunia kepolisian.
Bahkan tahun 1991, telah terpilih jenderal bintang satu pertama di Indonesia sebagai polisi wanita pertama yaitu Brigjen Purn Jeanne Mandagi. Jenderal Mandagi juga pernah menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Polri.
Menariknya setelah Jenderal Mandagi, muncul penerusnya Irjen Pol Purnawirawan Sri Handayani dan Brigjen Pol Purn Ida Oetari Poernamasasi yang pernah menjabat sebagai Wakapolda Kalimantan Tengah.
Semangat ini pula yang menjadikan cerminan bahwa polisi wanita memiliki rekam jejak tertinggi di dunia kepolisian. Positifnya, polisi wanita ini pula memberikan reaksi dari masyarakat, terdapat figur polisi wanita yang memberikan contoh terbaik dengan rekam jejak yang mumpuni dan berdedikasi tinggi.
Lantas kita patut memberi pertanyaan tentang bagaimana polisi wanita menghadapi dunia ketidakpastian dengan maraknya aksi-aksi negatif yang menyasar perbuatan kriminal dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Peran Strategis Polisi Wanita
Di situasi yang serba instan, polisi wanita memiliki peranan strategis di dunia kepolisian, keberadaan warga binaan perempuan yang membutuhkan pendampingan baik dari sisi hukum, psikologis, dan pemenuhan hak dasarnya, polisi wanita menyiapkan diri agar terlibat secara aktif dan obyektif.
Warga binaan perempuan ini kemudian didampingi polisi wanita secara transparan dan memberikan hak lainnya sehingga perannya polisi wanita sangat krusial.
Sejauh itu, polisi wanita tidak sekadar melaksanakan melainkan mendapatkan amanah yang cukup besar, dari perspektif pekerjaan, polisi wanita ini menyandang pekerjaan yang sangat mulia.
Sejatinya, keutamaan polisi wanita ini berbanding lurus dengan perannya sebagai fitrahnya perempuan. Tidak terputus dari sekadar gender, menghapuskan segala hal stigma negatif, sebab perannya yang sangat strategis dalam membawa nama baik kepolisian.
Terutama di era digital sekarang, perannya pun mengharuskan agar memiliki keterampilan digital. Digitalisasi di setiap sektor, memiliki pengaruh terhadap kebutuhan pekerjaan. Polisi wanita pun tidak kalah tanggap, sigapnya pun sangat proporsional dan berdampak.
Keberhasilan atas peran strategis ini, polisi wanita menjadi profesi yang patut mendapat penilaian positif dan dapat menginspirasi bagi seluruh perempuan di Indonesia untuk mengejar cita-citanya.
Pelayanan dan Pendidikan
Dua sisi yang bersinggungan. Pelayanan humanis polisi wanita menjadi garda terdepan untuk citra polisi di mata publik dengan baik dan presisi. Sesungguhnya pelayanan ini mengedepankan kepercayaan dan kepedulian. Emosi dan empati meletakkan dasar utamanya, dan polisi wanitalah yang mampu memerankan dengan spesifik.
Maka dari hadirnya pelayanan tersebut, pendidikan bagi polisi wanita ini menggambarkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama. Pendidikan yang tinggi serta memilih profesi polisi merupakan kesempatan besar mengangkat harapan keluarga.
Ketika perempuan dihadapkan pilihan tentunya pendidikanlah saat ini sebagai fase utama yang wajib dipilih. Perempuan mesti menganggap bahwa pendidikan adalah milik semua warga. Maka di saat menjadi polisi wanita diperlukan integritas yang tinggi.
Sebab pengaruh dari suatu pekerjaan, memerlukan manajemen emosi. Perempuan harus berpikir kritis. Oleh keputusan dari pekerjaan, pendidikan wajib diutamakan.
Hadirnya polisi wanita di tengah-tengah masyarakat, memberikan nuansa kepolisian sebagai pelayan masyarakat yang humanis, berprinsip kerakyatan, mengayomi, dan memberikan edukasi ketertiban bernegara dan antusias menjaga iklim keamanan yang kondusif.
Sejujurnya, inilah pandangan yang wajib diketahui oleh perempuan di Indonesia yang ingin mengenal lebih dekat tentang peran polisi wanita. Tidak sekadar tahu, melainkan memahami betul apa dan bagaimana seharusnya menjadi polisi wanita.
Lebih tegasnya, polisi wanita menggeser stigma yang kurang arif di sebagian publik. Polisi wanita mendasari bahwa perempuan juga mampu dan memiliki peluang yang sama. Keadilan atas pekerjaan di dunia kepolisian.
Tanggung jawab polisi wanita erat kaitannya secara spesifik dengan masyarakat yang membutuhkan pelayanan, pendampingan, dan pembinaan. Maka perempuan-perempuan di Indonesia harus memandang bahwa pekerjaan sebagai modal utama membangun kepercayaan.

Hadirnya polisi wanita menuansakan bahwa perempuan wajib memiliki integritas, solid, dan kepercayaan diri. Hal itu menggambarkan bahwa dunia pekerjaan tidak boleh bergantung pada personal, melainkan menyemaratakan terkait tujuan dari sebuah pekerjaan.
Di hari polisi wanita ini, perempuan harus hadir menggalang semangat bernegara, menyiapkan diri menghadapi situasi di era digital. Membela negara dengan menjadi polisi wanita merupai semangat dari enam perempuan pertama sebagai polisi wanita.
Sejak itu pula, kita meyakini bahwa perempuan berdaya memberi dampak signifikan di masyarakat, polisi wanita adalah satunya. Kita memandang pentingnya polisi wanita menyuarakan tentang perempuan yang digambarkan di dalam logo polisi wanita bernama Esti Bhakti Warapsari. Pada waktunya, perempuan hadir sebagai matahari, ia yang memberi kehangatan dalam jiwa, kehidupan yang bertumbuh, dan ketentraman yang abadi. (*)