Ayo Netizen

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Dokumentasi kuliner rumahan bukan sekadar penyusunan daftar resep, melainkan upaya memelihara memori kolektif dan identitas budaya yang berkelindan dengan sejarah bangsa. Dalam lanskap gastronomi Indonesia, dapur komunitas Arab-Bogor menawarkan narasi yang kaya akan keteguhan tradisi.

Jangkar autentisitasnya tertanam kuat di sebuah rumah berusia lebih dari 150 tahun di samping Stasiun Bogor. Memasuki rumah tua ini adalah sebuah perjalanan sensorik. Aroma bangunan kuno yang eksotis berpadu harmonis dengan wangi ketumbar sangrai, menciptakan atmosfer yang menggugah indra dan seolah membawa kita melintasi waktu satu setengah abad.

Autentisitas narasi ini makin sah lewat sosok Balqies Batarfie, penjaga nyala dapur keluarga sekaligus pemilik Katering Kenanga. Selama lebih dua dekade, kepiawaian Balqies telah diakui hingga ke lingkaran utama kenegaraan, hingga ia dipercaya melayani kebutuhan konsumsi di Istana Bogor.

Reputasi tersebut memberi dimensi prestise pada setiap resep yang ia bagikan; menghadirkan standar rasa kualitas Istana yang tetap berakar pada kehangatan masakan ibu. Setiap hidangan yang lahir dari dapur ini adalah sebuah pernyataan seni budaya yang matang, dengan kekuatan yang bertumpu pada penguasaan elemen paling fundamental dalam masakan Arab: harmoni rempah-rempah.

Rahasia Bumbu dan Teknik Dasar Masakan Arab

Kompleksitas bumbu dalam masakan Arab tidak sekadar berfungsi sebagai pemberi rasa, melainkan kartu identitas budaya yang membedakan warisan satu keluarga dengan lainnya. Dalam tradisi keluarga Batarfie, bumbu diperlakukan dengan penuh penghormatan melalui penggunaan lumpang besi kuno yang masih dipertahankan hingga kini. Meski teknologi modern menawarkan kemudahan blender, tekanan manual dari lumpang besi diyakini mampu memicu keluarnya minyak esensial rempah secara sempurna. Proses ini menghasilkan aroma yang jauh lebih kaya dan "hidup" tanpa bantuan penyedap rasa buatan.

Keluarga Batarfie mengenal dua jenis racikan bumbu rempah dasar. Racikan pertama menggunakan bahan utama ketumbar sebanyak 200 gram dan kapulaga 40 gram, yang dipadukan dengan cengkih, kayu manis, biji pala, merica, kelabet, serta adas utuh masing-masing 10 gram. Pengolahannya dimulai dengan menyangrai ketumbar di atas api kecil hingga matang, lalu memasukkan rempah tambahan dan menyangrainya kembali selama 10 menit. Setelah itu, campuran ini dihaluskan dan disaring hingga empat kali.

Sementara itu, racikan kedua bertumpu pada 100 gram ketumbar kasar dan 50 gram jintan kasar. Ketumbar disangrai hingga kering tetapi tidak gosong, dilanjutkan dengan memasukkan jintan selama dua menit, lalu dihaluskan dan disaring tiga hingga empat kali. Agar aroma kedua racikan bumbu ini tetap tajam dan tahan lama, rahasianya terletak pada penyimpanan di dalam botol kedap udara yang ditaruh di dalam freezer.

Sebagai pelengkap protein utama, pengolahan daging dan jerohan memerlukan ketelitian teknis yang menjadi pembeda antara juru masak amatir dan ahli gastronomi. Langkah awal dimulai dari pemilihan daging yang berwarna merah jambu, bertekstur kering, dan tidak berbau menyengat. Demi mendapatkan tekstur yang paling empuk, pilihlah kambing Balibul (bawah lima bulan) dengan berat ideal 3,5 hingga 4 kilogram.

Selanjutnya, terdapat satu aturan penting; daging kambing haram hukumnya dicuci dengan air karena hanya akan memicu timbulnya aroma "prengus". Daging cukup dibersihkan menggunakan serbet bersih. Terakhir, lakukan proses perebusan tingkat lanjut dengan memasukkan daging ke dalam air biasa, lalu merebusnya hingga mendidih dan busa terangkat untuk segera dibuang.

Khusus untuk jerohan dan kepala, proses perebusan awal ini wajib dilakukan selama 10 menit, dibuang airnya, dan diulang sebanyak dua kali lagi—sehingga total mengalami tiga kali perebusan demi menjamin kebersihan dan kesegaran rasa. Penguasaan pada teknik dasar dan ketajaman bumbu inilah yang menjadi fondasi utama dalam melahirkan hidangan-hidangan megah khas Arab.

Keagungan Aneka Nasi dan Lauk Pauk Ikonik

Dalam hierarki jamuan Arab, nasi dan daging menempati posisi sentral sebagai simbol kemurahan hati tuan rumah. Porsi yang melimpah bukan sekadar urusan memuaskan selera, melainkan bentuk penghormatan tertinggi bagi para tamu yang berkunjung.

Kehangatan jamuan ini dihidupkan oleh aneka olahan nasi yang khas. Ada Nasi Mandhi yang menjadi primadona lewat teknik pengasapan arang diperciki minyak samin, serta sentuhan akhir taburan saffron yang memberi rona kuning keemasan yang elegan.

Nasi Mandhi Spesial Arab dari Kenanga Catering menghadirkan kelezatan Timur Tengah untuk acara tematik. (Sumber: www.kenangacatering.com)

Lalu ada Nasi Tomat yang menawarkan keseimbangan rasa asam dan gurih dari perpaduan pasta tomat serta tomat segar halus. Tak ketinggalan Nasi Kebuli sebagai varian paling kaya rasa, di mana beras basmati dimasak bersama santan atau susu cair demi mencapai tingkat kegurihan maksimal yang menyatu sempurna dengan racikan bumbu rempah dasar.

Keagungan hidangan nasi tersebut makin lengkap saat bersanding dengan aneka olahan lauk berempah. Pilihannya mulai dari Marag, sup kambing berkuah hangat yang kaya jahe dan kunyit, hingga Gulai Kambing yang menawarkan tekstur pekat berkat paduan santan kental dan daun kare.

Bagi pencinta tekstur yang lebih padat, Kambing Oven beroleskan margarin dan kecap manis menyajikan sentuhan gurih-manis yang menggugah selera. Untuk menyeimbangkan pekatnya olahan daging, keluarga Batarfie selalu menyajikan Acar Zalatah yang unik dengan campuran nanas, atau Acar Putih yang segar berkat perasan jeruk nipis.

Seni Kudapan: Manis dan Gurih dalam Tradisi Arab-Bogor

Kudapan dalam tradisi Arab-Bogor merupakan bentuk adaptasi budaya yang cerdas, tempat bahan-bahan lokal Bogor bertaut erat dengan filosofi kuliner Timur Tengah. Penggunaan rempah seperti jintan hitam (habbatussauda) dan adas manis tidak hanya hadir sebagai penguat rasa yang khas, tetapi juga membawa nilai fungsional untuk menjaga kesehatan tubuh.

Keunikan tradisi ini tercermin jelas dari proses pembuatan setiap kudapannya. Salah satunya adalah Ka’ak, kue kering berembus aroma rempah hangat dari adas manis dan cengkih. Pembuatannya menuntut dedikasi tinggi karena adonan harus diistirahatkan selama 8 hingga 10 jam sebelum dibentuk menggunakan jepitan khusus. Ada pula Kamir, kue bertekstur empuk berbahan dasar tape yang memanfaatkan jintan hitam untuk memberi nilai tambah bagi kesehatan. Adonannya didiamkan selama 30 menit hingga mengembang sempurna sebelum dipanggang di atas cetakan loyang khusus.

Sentuhan adaptasi lokal makin terasa pada Asidah, sebuah mahakarya "Arab-Bogor". Jika di tanah asalnya Asidah diolah menggunakan sari kurma, dapur Batarfie menggantinya dengan gula merah lokal tanpa sedikit pun mengurangi tekstur kenyal-lembutnya yang khas. Kebanyakan jamuan ini kemudian ditutup dengan paduan rasa gurih dan manis yang seimbang melalui Samosa berbumbu rempah dasar yang padat daging, serta Kue Kurma yang menyajikan manisnya buah kurma di dalam balutan adonan renyah.

Diplomasi Meja Makan: Minuman Rempah dan Tradisi Menjamu

Pengalaman kuliner di kediaman Batarfie mencapai puncaknya pada filosofi menjamu tamu yang luar biasa hangat. Di rumah ini, siapa pun yang datang—baik sanak saudara maupun tamu asing—selalu dipersilakan makan tanpa perlu janji temu terlebih dahulu. Meja makan mereka bak panggung kedermawanan yang selalu siap sedia sepanjang tahun.

Sebagai pelengkap kehangatan jamuan, disajikan aneka minuman rempah khas yang berkhasiat. Ada Susu Rempah/Adas, perpaduan susu panas, jahe, dan adas manis sangrai yang ditujukan untuk memulihkan stamina sekaligus mengusir masuk angin. Lalu ada Kopi Bumbu, racikan kopi hitam yang direbus bersama spektrum rempah lengkap untuk memberikan kehangatan instan. Tak ketinggalan Manisan Jahe, olahan jahe yang dimasak berulang hingga mengental, menjadi teman sempurna saat disandingkan dengan teh pahit di sore hari.

Nilai nostalgia jamuan ini makin kental berkat penggunaan peranti makan warisan. Teko dan cangkir-cangkir kuno koleksi keluarga Ahmad Batarfie tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga menambah wibawa estetika pada setiap sajian yang dihidangkan.

Kesan mendalam tentang tradisi ini turut diabadikan oleh Balqies Batarfie dalam bukunya, 30 Resep Masakan Arab Rumahan (Gramedia Pustaka Utama, 2014):

"Salah satu tradisi keluarga yang tetap dipertahankan hingga saat ini adalah tradisi menjamu tamu. Sejak penulis kecil dulu, jelas terekam dalam ingatannya, betapa ayah bundanya akan mempersilakan siapa pun yang datang ke rumahnya untuk makan. Siapa pun, baik sanak saudara dan handai taulan yang datang tanpa membuat perjanjian sebelumnya. Semua dipersilakan mengambil sendiri makanan yang disediakan tanpa dijatah dalam piring. Ini berlaku setiap waktu, sepanjang tahun, teristimewa saat bulan Ramadhan."

Dapur keluarga Batarfie pada akhirnya bukan sekadar tempat mengolah bumbu, melainkan sebuah benteng tradisi yang terus merawat ingatan dan kehangatan lintas generasi. Dari dentang lumpang besi kuno hingga keaslian rasa yang terjaga di meja makan, setiap olahan rempah menegaskan bahwa warisan kuliner Arab-Bogor adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan gastronomi Nusantara. Menjaga nyala api di dapur ini berarti terus memelihara identitas, menghormati sejarah, dan memastikan bahwa kedermawanan khas rumah tua di samping Stasiun Bogor itu tetap hidup melintasi zaman. (*)

Referensi:

  • Batarfie, Balqies. 2014. 30 Resep Masakan Arab Rumahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam