Dinding batu megah berwarna tanah. Tinggi dindingnya antara 35 m hingga 45 m. Semakin mendekat, semakin mengagumkan, dan semakin nyata adanya retakan-retakan yang memanjang, sejajar dengan permukaan lereng gunung, tempat lava itu mengalir. Garis-garis retakannya ada yang sebesar rambut hingga 2 mm. Ketebalan lembaran lavanya beragam, ada yang 3 cm, 4 cm, 8 cm, 20 cm, 40 cm, 50 cm, 120 cm, dan ada yang 2,5 m, pasti lebih, karena tidak diketahui berapa puluh cm lagi yang masih tertutup lava di bawahnya. Demikian juga lebarnya, mulai selebar telapak tangan, hingga sedepa.
Masyarakat menyebutnya batutemplek, batutempel, batu yang biasa ditempelkan menjadi eksterior dinding rumah atau gedung dan pagar.
Sekarang, bekas galian batu ini menjadi tempat wisata alam dan berlatih panjat dinding alami. Lokasi di Kampung Cisanggarung Legok, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Batutempplek ini merupakan lava lembar yang mengalir sejauh 3 km – 6 km dari pusat letusannya, yang berada di sebelah utara. Kalau mengamati ronabuminya, di utara lokasi batutemplek ini setidaknya terdapat dua fosil kaldera gunungapi. Pertama kaldera yang diameternya sekitar lima km. Sebagai penandanya, di lingkaran kalderanya tumbuh kerucut baru yang bernama Gunung Buluh (+1.293 m) di sebelah barat, dan di sebelah timurnya ada Bukit Tunggul (+2.206 m). Kedua, bersebelahan dengan kaldera di sisi baratnya, yaitu kaldera dengan diameter sekitar tiga km. Sebagai penandanya, di lingkaran kalderanya tumbuh kerucut baru yang bernama Bukit Tunggul (+2.206 m) di sebelah barat, dan di sebelah timur tumbuh Gunung Pangparang (+1.957 m), di selatan ada Gunung Patokbeusi (+1.557 m), dan Gunung Palasari (+1.859 m). Lereng gunung yang jatuh ke selatan terpatahkan oleh Patahan Lembang bagian timur. Kedua, gunungapi purba ini lerengnya menurun ke selatan. Bagian utara dari garis patahan, turun hingga mencapai kedalaman 313 m, 375 m, dengan dinding patahan terdalamnya mencapai 411 m. Sejajar dengan garis patahan itu mengalir Ci Kapundung berarah timur – barat hingga di Maribaya, kemudian berbelok ke selatan.
Bila mendalami geomorfologi Bandung utara sisi timur, pastilah tidak akan berkesimpulan bahwa batutemplek ini mengalir dari Gunung Sunda atau Gunung Tangkubanparahu yang jaraknya sekitar 14 km, seperti disampaikan oleh para ahli yang membawa mahasiswanya ke sana. Sebab lava itu bersifat cair, jadi pastilah akan menuju titik terendah dalam pengalirannya. Misalnya, lava dari komplek Gunung Tangkubanparahu ini pastilah hanya mengalir ke selatan melalui aliran Ci Bodas, Ci Hideung, Ci Beureum, Ci Hujung, Ci Kapundung. Dan ke utara mengalir di Ci Kanyere, Ci Muja.
Juga, lava Batutemplek itu bukan mengalir dari Gunung Manglayang (+1.824 m). Karena antara Gunung Palasari (1.859 m) dan Gunung Manglayang dipisahkan oleh lembah yang dalam, dan tidaklah mungkin lava dapat memotong punggungan gunung yang bergelombang ke arah baratdaya, ke arah Batutemplek.
Saya menduga, bahwa lava lembar di Batutemplek Cisanggarung itu berasal dari letusan efusif gunungapi purba yang jejak kalderanya dituliskan di atas.
1,5 km sebelah barat Gunung Palasari, terdapat lengkungan dengan titik tinggi +1.513 m dpl, +1.611 m dpl, +1.575 m dpl, di bagian dalamnya membentuk amblesan selebar 3 km yang lerengnya menurun ke selatan. Inilah bagian hulu dari aliran lava lembar Batutemplek. Sekarang kawasan itu menjadi wilayah Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ronabumi alaminya menurun ke selatan, masuk ke wilayah Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di dua desa itulah terdapat lava lembar yang panjang dan tebal.
Sebagai penanda kawasan, di dua wilayah itu terdapat toponim, di antaranya: Mekarmanik, Lemburlebak, Merakdampit, Tutupan, Cicayur, Pondokbuahbatu, Singkur, Parabonan, Cikawari Tonggoh, Waas, Tareptep, Cikored, Cibanteng, Arcamanik, Cisanggarung Tonggoh, Cisanggarung Legok. Sungai yang mengalir di lembah-lembah di dua desa itu seperti: Ci Paheut, Ci Saranten, Ci Kawari, dan Ci Sanggarung.
Batutemplek itu lava dari letusan efusif, yang terjadi karena kekentalan magmanya rendah, sehingga menjadi encer. Juga tekanan gas di dalam magmanya lemah, sehingga tidak cukup tenaga untuk memicu ledakan besar. Material letusan efusif didominasi oleh lava pijar yang keluar dari kawah kemudian mengalir menuruni lereng.

Batutemplek (sheeting joint atau Platy joint), merupakan retakan melembar yang terbentuk pada saat lava mengalir menuruni lereng, dan penyusutan volume batuan pada saat proses pendinginan. Gaya gravitasi akan menarik masa lava menuruni lereng. Terdapat perbedaan yang menyolok antara bagian luar lava yang cepat mendingin, dan bagian dalam lava yang masih panas. Akibatnya ketika lava panas kental menuruni lereng secara plastis atau lentur, akan terjadi tarikan atau regangan. Regangan geser pada aliran lava merupakan perubahan bentuk pada tubuh lava akibat bagian atasnya mengalir lebih cepat daripada bagian bawah yang tertahan oleh bergesekan dengan lereng. Bila telah melampaui daya elastisitasnya, akan terjadi retak yang memanjang, yang sejajar dengan permukaan lereng. Batutemplek itu berbentuk lembaran berlapis,
Lava melembar atau batutemplek, merujuk pada lembaran-lembaran lava bagian aliran lava paling atas, antara 0 m – 10 m yang paling cepat membatu, sehingga ketebalan lembarannya paling tipis, antara 2 cm – 5 cm. Pada kedalaman ini tekanan vertikalnya nol, sedangkan tekanan horizontal maksimal. Bagian tengah aliran lava antara 11 m – 30 m, membentuk ketebalan lembar lava antara 1 m hingga 5 m. Pada kedalaman ini mulai mendapat tekanan vertikal dari batuan di atasnya, namun efek suhu luar menghilang. Dan kedalaman aliran lava antara 31 m – 50 m, tebal lembar lavanya antar 5 m – 15 m. Tekanan batuan atas sangat tinggi, menahan pemuaian, dan menghentikan pembentukan retakan. Di bawah kedalaman 50 m lavanya masih, tanpa terjadinya retakan.
Bila mengacu pada patokan di atas, dengan ketebalan lembaran batutemplek antara 3 cm sampai 2,5 m, dapat diduga, ketebalan aliran lava Cigarunggang antara 35 m hingga 45 m, atau lebih. (*)