Ayo Netizen

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Oleh: Djoko Subinarto
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)

PERSIS tanggal 18 September tahun ini, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) -- yang baheula bernama Fakultas Djurnalistik dan Publisistik (FDP) -- genap memasuki usia enam puluh enam tahun. Capaian usia tersebut datang ketika objek yang selama ini dipelajarinya telah berubah sangat cepat. 

Betapa tidak. Dulu, komunikasi terutama mmbincang tentang manusia yang berbicara kepada manusia. Kemudian, manusia berbicara melalui media kepada manusia lain. Nah, kiwari mulai terbentuk pola nan baru, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, dan mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Yang sekarang berubah adalah posisi mesin dalam keseluruhan proses komunikasi. Mesin tidak lagi saukur alat pengantar pesan seperti kertas, mikrofon atau layar televisi. Dengan kehadiran teknologi akal imitasi (AI), sistem AI dapat membantu menyusun pesan, menerjemahkan, merangkum, membuat gambar dan video, menjawab pertanyaan, memberikan rekomendasi bahkan melakukan serangkaian tugas secara relatif mandiri. 

Karena itu, pertanyaan lama ilmu komunikasi -- siapa komunikatornya, apa pesannya, siapa khalayaknya, melalui saluran apa -- mulai membutuhkan tambahan satu pertanyaan sekarang ini, yaitu seberapa besar mesin ikut menentukan isi dan arah komunikasi?

Kita tentu bisa melihat pergeseran itu dari kehidupan sehari-hari kita. Contohnya, seseorang bertanya kepada chatbot tentang gejala penyakit. Contoh lain, orang meminta AI menyusun surat lamaran pekerjaan. Lalu, sebuah perusahaan menggunakan chatbot untuk melayani pelanggan. Platform digital menggunakan sistem rekomendasi untuk menentukan konten yang muncul di layar pengguna. 

Dalam semua contoh-contoh tersebut, manusia tidak hanya berkomunikasi dengan manusia melalui teknologi. Manusia berkomunikasi pula dengan sistem yang juga memproses dan menghasilkan bahasa. Dan kemampuan mesin pun meningkat dengan cepat. 

Tingkat performa manusia

Stanford AI Index 2026 mencatat bahwa model AI terdepan mengalami kenaikan besar pada berbagai benchmark sepanjang tahun 2025. Pada sejumlah tugas yang sebelumnya digunakan untuk mengukur kemampuan manusia, model AI kini telah mencapai atau melampaui tingkat performa manusia. 

Namun, laporan yang sama juga menunjukkan bahwa kemampuan AI tidak merata. Pada beberapa tugas kompleks, terutama yang membutuhkan penggunaan komputer secara otonom dan penalaran tertentu, masih terdapat keterbatasan. Jadi persoalannya bukan apakah mesin sudah “pinter” atau belum. Persoalannya adalah: pada pekerjaan apa mesin dapat diandalkan, pada bagian mana ia masih harus diawasi, dan bagaimana manusia menilai perbedaannya.

Maka, ilmu komunikasi pun mendapat persoalan baru. Selama ini, komunikator biasanya diasumsikan mempunyai maksud. Wartawan memilih kata, misalnya, karena memiliki pertimbangan tertentu. Politisi menyusun pidato dengan tujuan tertentu. Humas membuat siaran pers dengan kepentingan tertentu. 

Lha, sekarang, bagaimana dengan mesin? Coba saja, AI dapat menghasilkan kalimat yang sangat meyakinkan. Padahal ia tidak memiliki pengalaman hidup, tidak memiliki kepentingan pribadi. Juga tidak memiliki kesadaran seperti manusia. Toh ia dapat menghasilkan pesan tanpa menjadi manusia yang memiliki pengalaman seperti penghasil pesan manusia.

Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)

Perbedaan itu penting lantaran manusia ternyata cukup mudah memperlakukan teknologi yang berbicara seperti manusia sebagai aktor sosial. Hal ini sudah lama dibahas dalam teori Computers Are Social Actors atau CASA. 

Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa teori lama tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja pada semua teknologi. Studi replikasi yang terbit di Scientific Reports pada tahun 2023 silam menemukan bahwa orang tidak lagi secara otomatis memperlakukan komputer desktop seperti manusia, sehingga konteks teknologi dan pengalaman pengguna ternyata ikut menentukan respons sosial terhadap mesin.

Pada AI generatif, persoalannya menjadi lebih menarik karena mesin tidak sekadar menampilkan menu atau memberikan tombol pilihan. Ia menjawab dengan bahasa yang terasa personal. Contohnya, ia bisa berkata “saya memahami” atau “mari kita coba” -- persis seperti manusia. 

Bagi pengguna, percakapan itu terasa seperti interaksi personal. Penelitian terhadap 462 pengguna chatbot layanan pelanggan pada 2024 menemukan bahwa persepsi terhadap sifat manusiawi, empati dan kualitas interaksi berkaitan dengan keberlanjutan kepercayaan pengguna bahkan setelah chatbot melakukan kegagalan layanan.

Artinya, cara mesin berbicara dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan manusia. Ini sudah bukan sekadar persoalan ilmu komputer. Ia menjadi persoalan komunikasi. Mengapa sebuah jawaban terdengar meyakinkan? Mengapa pengguna percaya kepada satu chatbot tetapi curiga kepada chatbot lain? Apakah bahasa yang terlalu manusiawi lantas membuat orang lupa bahwa mereka sesungguhnya sedang berkomunikasi dengan mesin? Dan apakah mesin harus selalu mengingatkan bahwa ia sejatinya adalah mesin?

Pertanyaan tersebut akan semakin penting ketika AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga ikut menyaring informasi. Selama puluhan tahun, kita mengenal editor sebagai gatekeeper, yakni seseorang atau lembaga yang memilih informasi mana yang layak diterbitkan. 

Sekarang algoritma juga berperan sebagai gatekeeper. Tidak percaya? Faktanya, ia memilih berita yang muncul di linimasa, video yang direkomendasikan, iklan yang ditampilkan dan bahkan urutan informasi yang kita lihat lewat akun media sosial kita. Ketika AI semakin terintegrasi dengan mesin pencari dan platform informasi, proses penyaringan itu menjadi semakin sulit dilihat oleh pengguna.

Maka, pola komunikasi yang sederhana—manusia → media → manusia—berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit, yakni manusia → AI → manusia, atau manusia → AI → platform → manusia. 

Dalam sistem yang menggunakan beberapa agen AI, proses antarmesin juga dapat terjadi sebelum manusia melihat hasil akhirnya. Tidak perlu membayangkan robot berbicara satu sama lain seperti dalam film fiksi ilmiah. Cukup melihat bagaimana perangkat lunak dapat menghasilkan output, mengirimkannya ke sistem lain, memprosesnya kembali, lalu memberikan hasil akhir kepada pengguna.

Yang menarik, manusia sering hanya melihat ujungnya. Kita membaca jawaban, bukan seluruh proses yang menghasilkan jawaban. Kita melihat rekomendasi, bukan seluruh pertimbangan algoritmik di belakangnya. Kita menerima ringkasan, bukan seluruh dokumen yang diringkas. Di sinilah muncul persoalan komunikasi yang sangat mendasar, yakni bagaimana memahami pesan jika sebagian proses pembentuk pesan tidak terlihat?

Perlu diperluas

Dalam komunikasi tradisional, kita masih bisa bertanya, seperti siapa penulisnya, medianya apa, sumbernya siapa? Dalam komunikasi berbasis AI, pertanyaan itu perlu diperluas. Data apa yang menjadi dasar? Sistem mana yang menghasilkan jawaban? Apakah sumber primer diperiksa? Apa yang dihilangkan ketika informasi diringkas? Siapa yang bertanggung jawab jika jawaban itu salah? Dan, yang paling sederhana, apakah pengguna tahu bahwa pesan tersebut dibuat atau dimodifikasi oleh mesin?

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sudah mengingatkan persoalan tersebut dalam panduannya mengenai generative AI untuk pendidikan dan penelitian. Lembaga itu menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk perlindungan data, validasi etis dan pedagogis, serta penguatan kapasitas manusia.

Peringatan UNESCO itu masuk di akal karena perkembangan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak lembaga pendidikan untuk membangun aturan penggunaannya.

Karena itu, tantangan Fakultas Ilmu Komunikasi bukan sekadar memasukkan satu mata kuliah “AI” ke dalam kurikulum. Yang lebih mendasar adalah mengajarkan literasi komunikasi dalam lingkungan yang dihuni manusia dan mesin sekaligus. 

Mahasiswa jurusan jurnalistik, misalnya, perlu tahu cara menggunakan AI untuk membantu pekerjaan, tetapi juga harus mampu memeriksa output AI terhadap sumber primer.  Mahasiswa jurusan hubungan masyarakat perlu memahami bagaimana AI dapat mempercepat produksi pesan, sekaligus bagaimana kesalahan mesin dapat menjadi persoalan reputasi. Adapun mahasiswa jurusan komunikasi digital perlu memahami bukan hanya cara membuat konten, tetapi juga bagaimana algoritma menentukan siapa yang kemungkinan melihat konten tersebut.

Boleh jadi kompetensi-kompetensi lama justru bisa kembali bernilai. Wawancara yang baik, observasi lapangan, kemampuan membaca konteks, verifikasi fakta, memahami budaya, mengenali bias dan mengajukan pertanyaan yang tepat tidak menjadi tidak penting hanya karena AI bisa membuat paragraf ciamik dalam tempo beberapa detik. 

Sebaliknya, ketika produksi teks semakin murah, kemampuan menentukan pertanyaan yang layak diajukan bisa menjadi semakin bernilai pula. Mesin dapat membantu menjawab. Tetapi, manusia tetap harus menentukan ihwal pertanyaan apa yang penting dan mengapa pertanyaan itu penting diajukan.

Fakultas Ilmu Komunikasi juga memiliki alasan akademik untuk tidak menyerahkan kajian ini seluruhnya kepada Fakultas Teknik atau Fakultas Ilmu Komputer. AI memang dibangun dengan basis matematika, statistik dan ilmu komputer. Tetapi, dampaknya berlangsung di wilayah manusia, mulai dari kepercayaan, persuasi, identitas, budaya, opini publik, media, organisasi dan kekuasaan. 

Stanford AI Index 2025 menunjukkan hampir 90 persen model AI penting yang dicatat pada tahun 2024 berasal dari industri, sementara akademia tetap menjadi produsen utama penelitian yang sangat banyak dikutip. Ini menunjukkan bahwa ruang universitas bukan semata-mata berlomba membuat model AI terbesar, tetapi juga memahami, menguji dan menjelaskan dampak teknologi tersebut.

Mungkin karena itu, human-machine communication layak dipandang bukan sebagai mode akademik sementara. Bidang ini membuka pertanyaan yang cukup tua dengan objek yang baru, yakni bagaimana manusia memberi makna kepada sesuatu yang bukan manusia tetapi dapat berbicara seperti manusia, bagaimana kepercayaan terbentuk antara manusia dan agen AI, kapan mesin dianggap sekadar alat dan kapan ia diperlakukan sebagai partner komunikasi, bagaimana perbedaan bahasa, budaya dan tingkat literasi digital memengaruhi hubungan tersebut, serta siapa yang bertanggung jawab ketika komunikasi manusia dengan manusia sudah dimediasi oleh mesin yang ikut dalam mengambil keputusan.

Enam puluh enam tahun Fakultas Ilmu Komunikasi Univeristas Padjadjaran karena itu bukan hanya momentum untuk mengenang apa saja yang telah dipelajari. Ia juga kesempatan untuk bertanya ihwal apakah pertanyaan-pertanyaan lama masih cukup untuk membaca dan memahami dunia yang baru, manakala manusia menjadi semakin penting untuk dipahami karena mesin mulai turut berbicara. 

Tentu saja, Fakultas Ilmu Komunikasi tidak perlu berubah menjadi Fakultas Teknologi Komunikasi. Tetapi, ia perlu memahami teknologi cukup dalam untuk mengetahui kapan mesin sedang membantu komunikasi, kapan ia sedang mengubah komunikasi, dan kapan manusia mulai menyerahkan terlalu banyak keputusan komunikasi kepada mesin. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam