#Cerita pendek
Hujan reda hampir sejam lalu, tetapi genangan air masih saja enggan pergi. Arga menurunkan helmnya di depan kios cukur kecil itu. Jalanan Purwokerto masih memantulkan cahaya lampu toko dan lampu merah yang berubah pelan seperti mata orang mengantuk. Air menetes dari kabel yang semrawut, jatuh satu demi satu ke trotoar yang tak pernah ramah difabel. Malam di sini selalu terasa seperti mesin tua–terus bekerja meski bautnya mulai longgar menimbulkan bunyi yang mencemaskan penghuninya.
Di bawah papan kusam bertuliskan: Pangkas Rambut Tampan dengan gambar amatiran otodidak kepala lelaki bercambang rapi, kipas angin tua berputar lambat. Udara bercampur aroma talek, minyak rambut, dan hujan yang tertinggal di pakaian pelanggan. Bima, tukang cukur sekaligus pemiliknya, sedang menyapu rambut di lantai ketika Arga masuk.
“Buka sampai malam ya?” tanya Arga.
“Yang pasti kamu akan menjadi orang terakhir hari ini.”
“Karena itu sebelum pergi aku mesti bertengkar dulu dengan istri.”
“Kamu tak berubah, selalu kerepotan dalam urusan betina.” Bima pura-pura tak acuh pada pelanggan lamanya itu. Matanya kemudian menyipit dan kemudian tersenyum. “Untuk dosen yang rambutnya mulai kalah oleh umur, kiosku tak pernah berani tutup cepat.”
Arga tertawa pendek. Lima belas tahun lalu mereka lulus SMA. Waktu menambahi garis tipis di wajah mereka seperti retakan halus pada tembok tua bangunan sekolah mereka. Arga kini mengajar sosiologi di sebuah universitas berplat merah di Kalimantan. Dia pulang setahun 2 kali, Lebaran dan setiap akhir tahun untuk memperingati hari kematian ibunya. Dua momen momen itulah yang selalu membuatnya dapat bertemu dengan Bima. Cara bicaranya tetap tenang, sedikit berat dan tebal. Ia tampak seperti orang yang terlalu lama mendengar keluhan dan kekecewaan orang tentang dunianya.
Bima tetap di Purwokerto ini, meneruskan usaha kios cukur peninggalan ayahnya. Tubuhnya padat dan geraknya hemat. Ia bukan tipe lelaki yang banyak bicara, tetapi tangannya mengenal kepala orang seperti petani mengenal tanah. Ada ketelitian yang sabar dalam caranya memegang gunting. Dia adalah gitaris band SMA. Jika ada membuatnya sekarang tampak sangat berbeda adalah kepala botaknya yang selalu bertopi.
Arga duduk di kursi. Agak canggung mulanya karena merasa kursi itu tampak kurang kokoh menopang berat badannya. Kain penutup dipasang pelan menutupi dadanya. Di luar, kendaraan melintas dengan suara seperti ombak jauh.
“Kamu mengajar teori perubahan sosial?” tanya Bima selagi menyemprotkan air ke rambut Arga.
“Kenapa?.”
“Dunia berubah?”
Arga memandang wajah sahabatnya di cermin depan.
“Cepat sekali berubah. Kita tidak sempat memahami dirinya sendiri.”
Bima mengangguk kecil. Gunting mulai bekerja. Bunyi ceklek-ceklek memenuhi ruangan seperti jam kecil yang sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat. Mereka lama diam. Keheningan di antara mereka bukan canggung. Ia seperti bangku tua di halte bus depan sekolah yang keropos dan lapuk, tapi tetap setia menyangga.
“Dengar kabar Deni?” tanya Bima akhirnya.
Arga menghela napas tipis sebelum diikuti sebuah anggukan lemah.
Beberapa hari lalu berita itu muncul di media daring lokal. Tautan itu tersebar di banyak grup WA. Teman seangkatan mereka disebut menjadi perencana sekaligus eksekutor perampok gudang toko tempatnya bekerja malam hari. Ia membawa kabur uang dan rokok, lalu tertangkap sebelum sempat keluar Purwokerto.
“Dulu dia paling takut dipanggil guru,” kata Arga.
“Karena bapaknya galak.”
“Karena hatinya lembut.”
Bima berhenti, membersihkan gunting dengan sisir. “Orang lembut juga bisa pecah.”
Di luar, suara sirene ambulans melintas cepat lalu hilang ditelan gedung-gedung. Arga mengingat Deni semasa sekolah. Anak kurus dengan sepatu selalu bersih. Ia sering meminjam komik, sering tertawa terlalu keras pada hal-hal sepele. Tidak ada yang tampak berbahaya darinya. Tapi Purwokerto ini telah menggiling manusia seperti arus sungai menelan daun kering—pelan dan tanpa suara.
“Kudengar istrinya sakit,” ujar Arga.
“Sakit menahun, dua kali setiap bulan rawat jalan di rumah sakit.”
“Ya.” Bima kembali mencukur.
“Orang kalau lama terjepit,” katanya pelan, “kadang mulai percaya bahwa pintu keluar harus dibobol.” Arga menatap wajah sahabatnya di cermin ingin menangkap ekspresi di mata lawan bicaranya.
Bima tidak pernah kuliah. Tetapi ada ketajaman yang tumbuh dari mengamati orang bertahun-tahun lewat pantulan kaca. Tukang cukur mendengar lebih banyak rahasia dibanding ustadz atau pendeta. Orang-orang duduk diam di kursi, melihat diri sendiri, lalu perlahan merasa perlu bicara.
“Menurutmu dia jahat?” tanya Bima.
Arga berpikir lama sebelum menjawab. “Tidak semua kriminal lahir dari kebencian. Banyak yang lahir dari putus asa.”
“Bedanya?”
“Kebencian ingin melukai. Putus asa hanya ingin keluar.”
Bima tersenyum samar. “Kamu bicara seperti buku.”
“Dan kamu tetap bicara seperti orang yang sudah memegang kepala semua orang di dunia.”
Mereka kembali diam. Lampu kios berwarna kekuningan membuat ruangan terasa seperti potongan waktu yang tertinggal dari Purwokerto. Di luar sana, apartemen tumbuh tinggi, kafe buka dua puluh empat jam, layar iklan menyala seperti mata raksasa. Tetapi di kios kecil ini, hidup berjalan pelan. Rambut jatuh ke lantai seperti daun-daun kering.
“Rudi?” tanya Bima lagi.
Arga mendecakkan lidah pelan. Rudi adalah ketua OSIS mereka dulu. Pintar, rapi, penuh percaya diri. Sekarang bekerja di kantor pemerintahan. Dua minggu lalu namanya terseret kasus korupsi proyek pembangunan pasar Purwokerto.
“Dia selalu ingin jadi orang penting sejak dulu,” kata Arga.
“Sekarang jadi berita penting.”
Tidak ada tawa setelah kalimat itu. Bima menipiskan rambut di belakang kepala Arga dengan hati-hati.
“Lucu ya,” katanya, “yang mencuri karena lapar dipukuli ramai-ramai. Tapi, yang mencuri karena serakah malah tampil penuh wibawa.”
Arga memandang jalan di luar. Lampu kendaraan bergerak seperti ikan-ikan bercahaya di sungai yang gelap. “Karena kita lebih mudah marah pada orang miskin,” katanya lirih. “Mereka mengingatkan bahwa hidup ini bisa gagal.”
Bima tidak langsung menjawab. Ia mengambil pisau cukur, mengganti mata pisaunya dengan gerakan terlatih. “Tapi tetap saja mencuri. Lapar atau rakus, keduanya mengambil yang bukan haknya.”
Arga mengangguk pelan.
“Bedanya,” lanjut Bima, “orang lapar biasanya menyesal. Orang rakus sering merasa dirinya pantas.”
Pisau cukur bergerak perlahan di dekat telinga Arga. Di cermin, wajah mereka tampak lebih tua daripada yang mereka rasakan. “Kamu pernah tergoda?” tanya Bima tiba-tiba.
“Tergoda apa?”
“Curang.”
Arga tersenyum kecil. Ia mengingat proposal proyek penelitian. Rekan dosen yang menjual nilai. Dunia akademik yang dulu ia bayangkan bersih ternyata juga penuh lumut di sudut-sudutnya. “Kadang orang tidak jadi jahat bukan karena baik. Kadang hanya karena masih takut.”
“Takut apa?”
“Kehilangan wajahnya sendiri.”
Bima berhenti mencukur. Kalimat itu menggantung sebentar di udara. Di luar, hujan turun lagi, tipis-tipis. Seperti seseorang sedang membersihkan langit dengan kain basah. Untuk beberapa detik, mereka kembali menjadi dua anak SMA yang duduk di kantin belakang sekolah, mengeluhkan PR dan guru matematika. Tetapi waktu segera menarik mereka kembali ke usia kini—usia ketika teman-teman mulai sakit, menikah, bercerai, kehilangan pekerjaan, atau masuk penjara.
“Kamu tahu yang paling menyedihkan sekarang?” kata Arga.
“Apa?”
“Aku dulu mengira hidup akan membentuk kita jadi sesuatu. Sebaliknya, hidup lebih sering mengikis.”
Bima menyeka leher Arga dengan handuk hangat. “Seperti batu di tebing sungai.”
Keheningan turun lagi. Namun keheningan kali ini terasa penuh, seperti gelas yang nyaris meluap. Bima memandangi pantulan Arga di cermin.
“Ku pikir, kita itu sebenarnya hanya menjaga diri supaya tidak retak.”
“Jika telanjur retak?”
“Tunggu saja pecahnya.”
Arga menatap matanya sendiri. Ada uban tipis di dekat pelipis. Ada letih yang tidak ada sepuluh tahun lalu. Purwokerto mengajarkan banyak hal, tetapi paling sering mengajarkan cara bertahan sambil perlahan kehilangan bagian-bagian kecil dari diri sendiri.
Bima membuka kain penutup. Potongan rambut berjatuhan ke lantai.
“Selesai.”
Arga berdiri, meraba rambutnya. “Masih bagus seperti dulu.”
“Tentu. Aku menjaga reputasi almamater.”
Arga mengambil dompet, tetapi segera diikuti gerakan angkat tangan dari Bima. “Free.”
“Jangan begitu meskipun kamu dulu mendapat nilai 110 untuk ujian nasional bahasa Inggris.”
“Bajingan betul. Untuk apa ujian begitu. Anggap saja diskon untuk orang yang masih mencoba jujur.”
Arga terdiam sebentar. Lalu ia memasukkan kembali dompetnya. Hujan di luar semakin rapat. Lampu Purwokerto tampak kabur seperti cat air.
Sebelum keluar, Arga berhenti di depan pintu. “Kamu pernah menyesal tidak jadi orang besar?” tanyanya.
Bima memandang lantai yang dipenuhi rambut-rambut orang. Ia tersenyum. “Kalau tiap hari masih bisa pulang tanpa takut mendengar ketukan pintu tengah malam, itu sudah cukup besar buatku.”
Mereka saling mengangguk singkat. Tak ada pelukan dan kata-kata sentimental. Persahabatan lelaki seusia mereka hanya berupa kesediaan untuk tetap hadir.
Malam di Purwokerto terus berjalan perlahan, membawa manusia dengan rahasia dan lukanya masing-masing, seperti air sungai yang tak pernah benar-benar tidur. Pikiran Bima kembali terusik oleh Mila yang setengah tahun terakhir intens berhubungan untuk bimbingan skripsi. Besok adalah tenggat untuknya membuat keputusan untuk bersedia atau tidak menikahi Mila sekaligus mengakui ayah dari jabang bayi yang sedang tumbuh dalam kandungannya. Tapi, ia tahu, istri dan anaknya akan menolak mentah-mentah ide gila Mila itu.
Fakuntsin, 2026. (*)