Ayo Netizen

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Oleh: Kin Sanubary
Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)

Dari era radio, kaset, hingga YouTube, lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Ada suara-suara yang tidak sekadar terdengar, tetapi tinggal lama di ingatan.

Suara yang ketika kembali didengar setelah puluhan tahun, seolah mampu membuka pintu ke masa lalu. Membawa kita kembali pada sore yang tenang, radio yang menyala di sudut rumah, atau suasana ketika keluarga berkumpul sambil menunggu kelanjutan sebuah cerita.

Salah satu suara itu adalah suara Mang Jaya, sang juru dongeng yang melegenda.

Beberapa waktu lalu, penulis berkesempatan berbincang ringan dengan H. Kuswadijaya Jamsari, yang lebih dikenal sebagai Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya di dunia penyiaran.

Percakapan berlangsung melalui sambungan telepon, dilanjutkan dengan tanya jawab melalui WhatsApp. Tidak ada suasana wawancara yang kaku. Obrolan mengalir ringan, tetapi dari percakapan sederhana itu terasa betapa panjang perjalanan yang telah dilalui seorang juru dongeng dalam menjaga tradisi tutur Sunda. Lebih dari setengah abad.

Dan yang menarik, Mang Jaya belum selesai bercerita, dongeng Sunda tetap diminati hingga saat ini.

Suara yang Lahir dari Dunia Sunda

Mang Jaya lahir di Cigugur, Kabupaten Kuningan, 25 Agustus 1945, dari pasangan Warsih dan Jamsari. Ia tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan kehidupan dan budaya Sunda.

Dari lingkungan itulah barangkali tumbuh kepekaan terhadap bahasa, karakter masyarakat, serta kekayaan cerita yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Pendidikan dasar ditempuhnya di Sekolah Rakyat. Dalam perjalanan berikutnya, ia pindah ke Bandung dan melanjutkan pendidikan di SMP BPI serta SMA Negeri 5 Bandung.

Ia bahkan sempat menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Namun, sekitar 1965, perjalanan kuliahnya terhenti di tengah situasi kampus yang kala itu diwarnai berbagai aksi demonstrasi.

Hidup kemudian membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda.

Bukan ruang kuliah, melainkan ruang siaran.

Sekitar 1968, Mang Jaya mulai aktif di sejumlah radio amatir di Bandung, antara lain Radio Purnama dan Radio Leidya. Dari balik mikrofon itulah ia belajar banyak hal, bagaimana menggunakan intonasi, membangun suasana, memainkan karakter, dan membuat sebuah cerita terasa hidup hanya dengan suara.

Setahun kemudian, dunia penyiaran benar-benar menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Sejak 1969, pengabdiannya di dunia radio terus berlangsung dan berkembang. Dari seorang penyiar, ia kemudian menemukan kekuatan lain yang kelak menjadi identitasnya yakni mendongeng.

Ketika Radio Menjadi Panggung Imajinasi

Ada masa ketika radio menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Sore hari belum terasa lengkap tanpa radio. Suaranya terdengar dari ruang keluarga, dapur, warung kopi, hingga saung di tepi sawah.

Radio menemani orang memasak, bekerja, beristirahat, atau sekadar melepas lelah setelah seharian beraktivitas.

Di antara suara penyiar, lagu, berita, dan iklan, ada suara yang kemudian begitu akrab bagi banyak pendengar Sunda.

“Mangga dangukeun, pamiarsa sadaya...”

Sapaan itu bukan sekadar pembuka.

Bagi pendengar Dongeng Enteng Mang Jaya, kalimat tersebut seperti pintu yang mengajak mereka masuk ke dunia lain.

Dunia Si Kabayan, jawara, putri kerajaan, percintaan, kehidupan kampung, silat, hingga cerita misteri yang membuat bulu kuduk berdiri.

Mang Jaya memiliki kemampuan istimewa untuk merangkai semuanya dalam satu kisah. Humor bisa muncul di tengah ketegangan. Adegan silat dapat beriringan dengan kisah percintaan. Cerita horor bisa diselipi kelucuan.

Semua mengalir melalui suara.

Tanpa layar, tanpa gambar.

Pendengar justru diberi kebebasan untuk menciptakan gambarnya sendiri di dalam kepala.

Itulah keajaiban dongeng radio.

Radio Rasilima dan Lahirnya Banyak Cerita

Pada tahun 1976, Mang Jaya kembali ke Kuningan. Di kota yang berada di kaki Gunung Ciremai itu, ia mendirikan Radio Siaran Linggarjati Utama atau Rasilima.

Dari radio inilah namanya semakin dikenal luas.

Dongeng Enteng Mang Jaya menjadi salah satu program yang melekat dalam ingatan masyarakat Sunda.

Berbagai cerita hadir dan kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai pendongeng.

Ada Si Komod, Nyi Mas Komala, Jawara Gunung Manglayang, Lutung, dan Lodaya. Ada pula Sirod Jelema Gaib, Talaga Hideung, Tarung di Galunggung, Jaka Tarung, serta banyak kisah lainnya.

Cerita-cerita itu tidak hadir dalam bentuk potongan pendek seperti yang biasa kita konsumsi sekarang.

Pendengar harus mengikuti jalan ceritanya. Menunggu dengan bersabar.

Dan ketika episode berhenti tepat pada bagian yang menegangkan, tidak ada tombol skip untuk mengetahui akhir cerita.

Yang ada hanya rasa penasaran.

Besok, atau pada siaran berikutnya, pendengar kembali menyalakan radio.

Di situlah radio mempunyai kekuatannya sendiri. Suara, cerita, dan imajinasi bertemu. Pendengar tidak hanya menjadi orang yang mendengarkan, tetapi juga ikut membangun dunia cerita di dalam pikirannya.

Mang Jaya bersama istri tercinta saat menerima penghargaan Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam menjaga dan mengembangkan seni dongeng Sunda. (Sumber: Istimewa)

Bagi Mang Jaya, dongeng bukan sekadar hiburan.

Di balik cerita tentang jawara, kesaktian, percintaan, kehidupan kampung, maupun dunia mistis, selalu ada ruang untuk mengenalkan nilai kehidupan dan budaya Sunda.

Salah satu yang paling terasa adalah bahasa.

Melalui dongeng, pendengar berjumpa dengan kosakata Sunda, ungkapan tradisional, tata krama, serta undak-usuk basa Sunda.

Menariknya, semua itu tidak terasa seperti pelajaran.

Tidak ada papan tulis, juga tidak ada buku teks.

Tidak ada guru yang meminta murid menghafal.

Orang cukup mendengarkan cerita.

Dari dialog para tokohnya, pendengar belajar bagaimana berbicara kepada orang tua, kepada orang yang lebih muda, kepada sesama, dan bagaimana menempatkan bahasa sesuai dengan situasi.

Dengan cara yang sangat alami, dongeng menjadi ruang belajar budaya.

Bahasa diwariskan melalui telinga. Nilai kehidupan ditanamkan melalui cerita. Kearifan lokal hadir tanpa harus digurui.

Mungkin di situlah salah satu kekuatan terbesar Mang Jaya.

Ia tidak hanya mendongeng.

Ia ikut menjaga cara orang Sunda berbicara dan memandang kehidupan.

Pada masa kejayaan radio, Mang Jaya tentu bukan satu-satunya pendongeng Sunda yang dikenal masyarakat.

Ada Abah Kabayan, Rachmat Dipradja, Mang Barna, Uwa Kepoh, Djamar Media, Haji Dulacis, Tisna Suntara, hingga Andi Djohari.

Mereka adalah bagian dari sebuah ekosistem penyiaran yang pernah begitu hidup.

Radio menjadi panggung.

Mikrofon menjadi alat bertutur.

Dan imajinasi pendengar menjadi ruang pertunjukannya.

Kini sebagian suara itu mungkin hanya tinggal rekaman dan kenangan. Namun, pada masanya, mereka hadir setiap hari di tengah masyarakat.

Mereka menghibur, menemani, sekaligus menjaga tradisi lisan agar tidak putus.

Dari Radio ke YouTube

Zaman berubah.

Televisi datang. Internet berkembang. Telepon pintar mengambil tempat yang semakin besar dalam kehidupan sehari-hari.

Cara orang menikmati hiburan pun berubah.

Dulu orang menunggu jadwal siaran.

Sekarang orang memilih sendiri apa yang ingin ditonton atau didengarkan.

Tetapi perubahan medium ternyata tidak serta-merta mengakhiri perjalanan dongeng Mang Jaya.

Justru dongeng itu menemukan jalan baru.

Melalui kanal YouTube MangJayaOfficial, cerita-cerita yang dahulu hadir dari gelombang radio kembali menjumpai pendengarnya.

Sejak 24 Juni 2021, dongeng Mang Jaya mulai dipublikasikan lebih luas melalui platform digital.

Cerita-cerita seperti Akibat Tina Kahayang, Babakti ka Lemah Cai, Balik ti Nusakambangan, Beurit Bodas, Cipanon Indung, Dedemit Curug Sanghyang, Dedemit Guha Sancang, Dodoja Ngahontal Bagja, dan Duriat Pegat ku Pati kembali menemukan ruang.

Begitu pula Jaka Tarung, Jawara Gunung Manglayang, Lutung, Nyi Mas Komala, Si Komod, Si Gagak Karancang, Sirod Jelema Gaib, Talaga Hideung, dan Tarung di Galunggung.

Dulu, pendengar mencari cerita melalui radio.

Kini cerita itu bisa ditemukan melalui layar telepon genggam.

Medium berubah, tetapi inti pengalamannya tetap sama yaitu mendengarkan cerita.

Bagi generasi yang pernah tumbuh bersama radio, suara Mang Jaya adalah nostalgia.

Ada kenangan tentang orang tua yang menyimak radio. Ada suasana rumah menjelang malam. Ada rasa penasaran menunggu kelanjutan cerita.

Tetapi bagi generasi yang lahir di era internet, dongeng Mang Jaya justru bisa menjadi pengalaman baru.

Mendengarkan cerita panjang tanpa harus melihat gambar.

Membiarkan suara bekerja. Membiarkan imajinasi mengambil alih.

Di sinilah generasi lama dan generasi baru bisa bertemu.

Orang tua dapat mengenalkan cerita yang dahulu menjadi bagian dari hidup mereka kepada anak-anak. Anak-anak dan cucu-cucu dapat menemukan kembali sesuatu yang pernah begitu dekat dengan kehidupan orang tua dan kakek-neneknya.

Dongeng akhirnya bukan sekadar hiburan.

Ia menjadi jembatan antargenerasi.

Dari percakapan ringan penulis dengan Mang Jaya, ada satu hal yang terasa kuat yakni dunia boleh berubah, tetapi kecintaan terhadap cerita tidak harus ikut hilang.

Mang Jaya telah melewati zaman yang panjang.

Dari radio amatir, dunia penyiaran, kaset, hingga era YouTube.

Dari generasi yang menjadikan radio sebagai teman sehari-hari hingga generasi yang terbiasa menyentuh layar telepon untuk mencari apa pun yang mereka inginkan.

Perjalanannya juga mendapat pengakuan melalui sejumlah penghargaan, antara lain Lifetime Achievement KPID Jawa Barat pada 2017, KWK Award pada 2018, serta Kuningan Award sebagai Penggiat Literasi Lisan pada 2022.

Namun, barangkali penghargaan bukanlah ukuran paling sederhana untuk melihat keberhasilan seorang pendongeng.

Sebab tradisi lisan hanya akan hidup jika ada yang menuturkan dan ada yang bersedia mendengarkan.

Dan selama lebih dari setengah abad, Mang Jaya telah berada di antara keduanya.

“Mangga Dangukeun...”

Kini radio memang tidak lagi menjadi satu-satunya jendela hiburan.

Telepon pintar ada di mana-mana. Video pendek datang silih berganti. Orang terbiasa mendapatkan informasi dalam hitungan detik.

Tetapi cerita yang baik tidak selalu membutuhkan kecepatan.

Kadang-kadang kita justru membutuhkan suara yang mengajak berhenti sejenak.

Mendengarkan.

Membayangkan.

Dan mengikuti sebuah kisah sampai selesai.

Itulah yang dilakukan Mang Jaya selama puluhan tahun.

Ia menghidupkan tokoh melalui suara. Menghadirkan tempat melalui kata-kata. Membuat cerita terasa dekat tanpa harus menghadirkan gambar.

Lebih dari sekadar pendongeng, ia telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Sunda.

Dari radio ke kaset.

Dari kaset ke ingatan.

Dari ingatan ke dunia digital. Medium boleh berganti, tetapi cerita tetap mencari jalan untuk hidup.

Dan ketika suara itu kembali terdengar

“Mangga dangukeun, pamiarsa sadaya...”

barangkali yang terbuka bukan hanya sebuah cerita.

Bisa jadi, sebuah kenangan.

Baca Juga: Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Kenangan tentang radio di ruang keluarga, tentang suara yang menemani sore, tentang rasa penasaran menunggu cerita bersambung, atau tentang bahasa Sunda yang dahulu terdengar begitu akrab dalam keseharian.

Selama masih ada yang mau mendengarkan, dongeng tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Ia hanya berpindah tempat.

Dari satu radio ke radio lain.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan kini, dari gelombang udara menuju layar kecil di tangan kita. Suara Mang Jaya terus menyeberangi zaman. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam