Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

4 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat. Memahami struktur geografis wilayah ini menjadi kunci untuk mengenali identitas pariwisatanya yang dinamis. Secara etimologis dan budaya, keindahan bentang alam ini terangkum sempurna dalam konsep lokal bernama Gurilaps—akronim dari Gunung, Rimba, Laut, Pantai, dan Seni Budaya. Dalam bahasa Sunda, gurilap berarti "gemerlap" atau "berkilau", sebuah cerminan visual atas daya tarik Garut yang selalu berhasil memikat para pelancong.

Secara geografis, Kabupaten Garut memiliki bentang wilayah yang luas dan beragam, membentang sekitar 250 kilometer dari Jakarta dengan potensi bahari yang kuat berkat garis pantai sepanjang 90 kilometer di kawasan selatan serta deretan air terjun menyejukkan di sela-sela pegunungannya. Keberagaman bentang alam ini turut tercermin dalam skala administratif kecamatannya, yang memperlihatkan rentang kontras dari Kecamatan Cibalong sebagai wilayah terluas mencakup 21.359 hektar hingga Kecamatan Kersamanah sebagai wilayah terkecil dengan luas 1.650 hektar.

Perkembangan pariwisata modern perlahan mengikis citra lama Garut yang dulunya hanya mengandalkan ikon "Duo D" (Dodol dan Domba). Kini, Garut telah bertransformasi menjadi destinasi wisata alam utuh yang menawarkan petualangan holistik dari gunung, rimba, hingga lautan. Kekayaan lanskapnya yang gemerlap tak hanya memikat wisatawan domestik, tetapi juga telah mengukuhkan daya tarik estetis Garut di mata dunia sejak era kolonial.

"Paradijs van het Oosten" dan Postcard Thilly Weissenborn

Reputasi internasional Garut terbentuk sejak awal abad ke-20 melalui decak kagum para pelancong asing terhadap keindahan lanskapnya. Cara pandang masyarakat Barat saat itu bahkan memicu lahirnya berbagai predikat istimewa yang mengangkat derajat estetika Garut ke panggung global.

Pada 1910, Officieel Touristenbureau Weltevreden (Biro Pariwisata Resmi Batavia) menyematkan julukan "Paradijs van het Oosten" (Surga dari Timur) kepada Garut. Pengakuan ini diberikan karena Garut dianggap sebagai satu-satunya daerah di Jawa Barat yang menyimpan objek wisata alam begitu lengkap dan menakjubkan.

Daya tarik ini kian tersohor pada 1918 berkat fotografer perempuan asal Jerman, Thilly Weissenborn. Lewat lensa kameranya, Weissenborn mengabadikan pesona Situ Cangkuang di Kecamatan Leles. Foto-foto tersebut kemudian dicetak massal dalam bentuk kartu pos (postcard) dan disebarkan ke seantero Eropa. Visualisasi indah itu sukses memantik rasa penasaran wisatawan mancanegara, yang lantas berbondong-bondong datang untuk menikmati langsung ketenteraman "negeri pangirutan" ini.

Publisitas visual yang masif di Eropa tidak hanya melambungkan nama Garut sebagai destinasi liburan kelas dunia, tetapi juga mendorong modernisasi tata kota serta menarik kunjungan berbagai tokoh terkemuka dunia.

Perjalanan Sejarah: Dari Limbangan hingga Kota INTAN

Sejarah tata ruang dan administrasi Kota Garut berakar dari dinamika politik masa kolonial yang mengiringi perpindahan pusat pemerintahan lokal. Memahami kronologi pembentukan ibu kota kabupaten ini memberikan gambaran mendalam mengenai bagaimana karakter tata kotanya terbentuk dari paduan perencanaan strategis dan keindahan alam sekitar.

Potret indah Hotel Tjisoeroepan di Garut dengan latar belakang Gunung Papandayan, sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Potret indah Hotel Tjisoeroepan di Garut dengan latar belakang Gunung Papandayan, sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)

Secara historis, pembentukan administrasi Garut diawali pada 1811 ketika daerah Limbangan dibubarkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Tak lama kemudian, pada masa pendudukan Inggris (1811–1816), Thomas Stamford Raffles mengembalikan status Limbangan. Meneruskan petunjuk Raffles untuk mencari pusat pemerintahan baru yang subur dan berpotensi memakmurkan rakyat, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya pada tahun 1813 menemukan sebidang tanah luas yang diapit deretan pegunungan. Pada tahun yang sama, pusat pemerintahan resmi dipindahkan dan pembangunan fasilitas fisik ibu kota baru pun dimulai.

Lompatan besar terjadi pada 1925 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan daerah pemerintahan Garut sebagai zona otonom. Keputusan ini memicu pesatnya pertumbuhan ekonomi, keberhasilan sektor perkebunan, hingga maraknya pariwisata. Perkembangan sarana akomodasi pun melonjak pesat, ditandai dengan hadirnya enam hotel berbintang pada 1932 yang terus berkembang dengan bermunculannya penginapan-penginapan baru hingga dekade 1970-an.

Kerapian tata ruang yang berpadu dengan kesegaran hawa pegunungan ini akhirnya mengantarkan Garut pada momen bersejarah di era kemerdekaan. Pada 1962, Presiden Soekarno menganugerahkan predikat kota terbersih di Indonesia sekaligus menyematkan akronim ikonik Kota INTAN (Indah, Tertib, Aman, Nyaman). Pesona pesona alam dan keasrian tata kota ini tidak hanya memikat hati kepala negara, melainkan juga menakjubkan bagi para ikon kebudayaan populer tingkat dunia.

Kunjungan Charlie Chaplin dan Julukan "Swiss van Java"

Keindahan alam Garut yang tersusun rapi di antara lembah pegunungan menarik perhatian figur legendaris perfilman dunia. Kunjungan tokoh kebudayaan internasional ini semakin memperkuat predikat estetika yang melekat pada lanskap Garut.

Dokumentasi foto koleksi Ernst Drissen yang memperlihatkan Charlie Chaplin di depan peron Stasiun Garut. (Sumber: Naratesgaoret.net)
Dokumentasi foto koleksi Ernst Drissen yang memperlihatkan Charlie Chaplin di depan peron Stasiun Garut. (Sumber: Naratesgaoret.net)

Komedian dan bintang film bisu ternama asal London, Inggris, Charlie Chaplin, mencatatkan namanya dalam rekam sejarah pariwisata Garut melalui dua kali kunjungannya, yaitu pada tahun 1927 dan 1933. Dalam perjalanannya, Chaplin dibuat terpukau oleh keindahan alam Ngamplang, Cilawu, serta panorama pegunungan yang menghijau, hawa sejuk yang menyegarkan, dan kenyamanan saat menjelajahi kawasan perkebunan.

Kekaguman mendalam atas lanskap alam Garut yang menyerupai pemandangan pegunungan di Eropa mendorong Chaplin untuk memperkenalkan dan mempopulerkan julukan "Swiss van Java" (Swiss dari Jawa).

Predikat "Swiss van Java" menjadi bukti mutlak bahwa keindahan visual alam Garut diakui secara global. Namun, pesona daerah ini tidak berhenti pada pemandangan fisiknya semata, melainkan meresap masuk ke dalam kekayaan tradisi kebudayaan dan keahlian olah rasa dalam cita rasa kuliner lokalnya. (bersambung)

Referensi:

Dimyati, Edi, dkk. 2015. Garut, Swiss van Java. Jakarta: Penerbit Kompas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)