Ayo Netizen

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)

Migrasi besar-besaran tenaga kerja Jawa ke Suriname pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 merupakan salah satu episode penting dalam sejarah diaspora Nusantara. Di tengah pengasingan geografis dan sistem kerja perkebunan kolonial yang mengikat, makanan muncul sebagai instrumen vital daya tahan budaya (cultural resilience). Bagi para migran, makanan tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan fisiologis dasar, melainkan juga wahana emosional untuk memelihara ingatan kolektif, merawat identitas etnis, dan meredakan rasa rindu kampung halaman (nostalgia) di tanah perantauan yang asing.

Secara historis, gelombang perpindahan ini berakar dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda untuk mengatasi krisis tenaga kerja di Suriname setelah penghapusan perbudakan secara resmi pada 1 Juli 1863. Perusahaan Dagang Belanda (Nederlandsche Handel-Maatschappij atau NHM) memelopori perekrutan pekerja dari Jawa. Gelombang migrasi pertama secara resmi dimulai ketika 94 pekerja kontrak Jawa berangkat dari Batavia pada 21 Mei 1890 menumpangi kapal SS Koningin Emma dan mendarat di Suriname pada 9 Agustus 1890 untuk dipekerjakan di perkebunan gula Mariënburg.

Antara tahun 1890 hingga 1932, lebih dari 33.000 jiwa masyarakat Jawa dipindahkan ke Amerika Selatan. Sebagian besar dari mereka, yang di tanah asalnya adalah petani perdesaan bersahaja, mendapati diri mereka terikat dalam kontrak lima tahun dengan kondisi kerja yang berat, upah yang rendah, serta perumahan yang jauh di bawah standar layak huni. Ketidakpuasan terhadap realitas kehidupan perkebunan yang menekan mendorong komunitas ini menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi, bahasa, dan kebiasaan makan lokal sebagai mekanisme pertahanan psikologis dan sosial.

Kerinduan yang mendalam akan cita rasa tanah air inilah yang mendorong mereka bertransformasi, menaklukkan tantangan lingkungan baru, dan mengubah lanskap agrikultur di Suriname.

Dari Buruh Perkebunan Menjadi Pelopor Pangan Lokal

Kemampuan bertani masyarakat Jawa secara perlahan mentransformasi lanskap agrikultur Suriname—dari sistem perkebunan monokultur kolonial yang kaku menuju kemandirian pangan berbasis pertanian skala kecil. Ketika krisis ekonomi global dan penurunan daya saing perkebunan besar terjadi pada dekade 1930-an, mantan buruh kontrak Jawa memanifestasikan keahlian agraris mereka dengan mengolah lahan sewa pemerintah maupun lahan mandiri, hingga menempatkan diri sebagai tulang punggung penyedia pangan lokal di negara tersebut.

Para imigran Jawa di tangga kapal penumpang yang membawa mereka ke Suriname sekitar tahun 1920-1930. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)

Kontribusi ekologis dan ekonomis mereka sangat menonjol melalui pengembangan budi daya padi sawah (natte cultures) di tanah aluvial pesisir Suriname yang subur. Kerja keras para petani Jawa—bersama migran Hindustan—membuahkan hasil signifikan saat Suriname berhasil menghentikan impor beras pada tahun 1930 dan resmi bertransformasi menjadi negara pengekspor beras.

Selain itu, temuan ahli botani F.W. Ostendorf dalam bukunya, Nuttige planten en sierplanten in Suriname, mencatat keberhasilan mereka mengenalkan tanaman tumpang sari seperti kedelai (Glycine max) varietas Laris dari Buitenzorg (Bogor) dan Vada dari Jawa yang dibudidayakan sejak 1907. Komoditas ini dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tempe, tahu, dan kecap.

Keanekaragaman hasil tani terus diperluas dengan membudidayakan ketela pohon sebagai karbohidrat pendamping dan bahan utama télo (singkong goreng), serta menanam kacang tanah di Distrik Saramacca sebagai bahan baku bumbu pecel (pitjil) yang turut menginspirasi sup kacang Kreol (pindasoep). Petani Jawa juga memelopori penanaman sirih untuk tradisi mengunyah daun sirih, serta kelor dan kemiri sebagai bumbu masakan.

Kejelian botani mereka turut terbukti dari domestikasi vegetasi liar lokal seperti gomawiri dan bitawiri menjadi olahan sayuran harian, di samping introduksi buah-buahan khas Nusantara seperti mundu, namnam, gayam, duku, mangga, rambutan, hingga pepaya. Keberhasilan memanen berbagai bahan mentah lokal ini pada akhirnya membuka jalan bagi lahirnya kreasi hidangan khas Jawa-Suriname yang sarat akan inovasi.

Dialektika Cita Rasa Asli dan Bahan Lokal

Kuliner Jawa di Suriname bukanlah sekadar tiruan mentah atau duplikasi pasif dari kuisin daerah asal. Terpisah jarak lebih dari 18.000 kilometer dari Pulau Jawa, kuisin ini berkembang melalui proses akulturasi yang dinamis—sebuah dialektika kreativitas yang memadukan resep tradisional Jawa dengan ketersediaan bahan pangan di lingkungan perantauan.

Bentuk adaptasi paling jelas terlihat pada transformasi bahan ransum kolonial menjadi sajian ikonik bernilai jual tinggi. Selama pelayaran laut dan masa kerja awal, para buruh menerima ransum berupa daging asin dan ikan kod panggang (grilled codfish). Ikan kod—jenis ikan dari Atlantik Utara dan Pasifik yang asing bagi lidah Jawa—oleh para migran diolah menggunakan bumbu cabai dan rempah menjadi sambel gorèng. Ketika sambel gorèng ikan kod ini dipadukan dengan télo (singkong goreng), lahirlah kombinasi hidangan sambel gorèng télo yang sangat populer dan bernilai komersial tinggi di pasar-pasar Suriname.

Kreativitas serupa tampak pada pengolahan daging asin. Meskipun daging asin di Suriname sempat dilekati stereotipe sosial sebagai "makanan kaum Kreol", para juru masak Jawa berhasil menembus sekat etnografis tersebut dengan mengadaptasinya menjadi semur. Daging asin tersebut dipadukan dengan sayuran lokal serta bumbu manis-gurih untuk dijadikan penyedap rasa hidangan sup harian keluarga Jawa.

Inovasi pengolahan pangan juga melahirkan teknik baru yang belum pernah ada di daerah asal. Dalam pengolahan ikan, masyarakat Jawa di Suriname mengembangkan teknik pengasapan skala besar. Kreativitas ini menghasilkan hidangan khas seperti iwah malem (ikan asap) dan iwah garing (ikan asap kering)—sajian autentik Jawa-Suriname yang tidak ditemukan dalam khazanah kuliner tradisional Jawa di Hindia Belanda.

Khazanah hidangan populer lainnya terus dipertahankan dan disesuaikan. Sajian seperti pitjil (pecel), bami, saoto, tempe, bakabana (pisang goreng), lontong, dan minuman dawet menjadi menu harian wajib. Di sisi lain, keberhasilan petani Jawa memasok kacang tanah secara melimpah turut memengaruhi selera kelompok etnis lain. Hal ini memicu integrasi rasa inter-etnis, seperti lahirnya pindasoep (sup kacang), sebuah hidangan populer Kreol yang memanfaatkan kacang tanah hasil budi daya masyarakat Jawa.

Keanekaragaman hidangan yang lahir dari dialektika bahan lokal ini kemudian memerlukan wadah penyajian publik, yang memicu lahirnya institusi warung di Suriname.

Institusi "Warung" dan Peran Perempuan

Institusi "warung" memegang peranan yang sangat strategis dalam sejarah masyarakat Jawa di Suriname. Lebih dari sekadar sarana transaksi jual-beli makanan, warung berfungsi sebagai ruang rekreasi, wahana interaksi sosial antar-etnis, serta arena artikulasi dan pelestarian identitas budaya Jawa di perantauan.

Evolusi fisik warung di Suriname merefleksikan proses mobilitas ekonomi komunitasnya. Jika etnograf P.J. Veth dalam studinya menggambarkan warung tradisional di Jawa bermula dari bentuk portabel seperti tenggok (keranjang garapan yang dipikul) atau grobag (gerobak dorong) sebelum menjadi bangunan beranda, perkembangan di Suriname melalui tahapan historis yang unik. Laporan dalam surat kabar Nieuwe Surinaamsche Courant terbitan 1 November 1906 mencatat bahwa warung-warung awal di Mariënburg awalnya menyajikan roti lapis (sandwich) dan sirup, karena masakan Jawa belum menjadi menu umum pasar.

Pada dekade 1930-an, Agen Jenderal Westra melakukan uji coba mendirikan warung portabel (draagbare waroeng) di Paramaribo untuk mengenalkan kebiasaan makan Jawa. Namun, eksperimen ini menghadapi gesekan sosial: ketika para pelanggan Jawa makan nasi sambil berjongkok (berjongkok) sesuai adat kebiasaan di kampung halaman, mereka mendapat cemoohan dari penduduk Kreol lokal. Eksperimen portabel tersebut akhirnya memicu kegagalan dinamis, hingga masyarakat Jawa secara mandiri bertransformasi mendirikan kios-kios kayu dan bangunan permanen di depan rumah serta di sekitar pasar umum.

Di balik keberhasilan institusi ini, perempuan Jawa memegang peranan sentral sebagai penggerak utama. Di tengah terbatasnya lapangan kerja formal bagi perempuan generasi pertama—yang umumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (babu), pengasuh anak, atau pembatik—mereka memanfaatkan keahlian memasak sebagai strategi bertahan hidup (household economic strategy). Perempuan Jawa mengawali usahanya dengan menjajakan kue, sayuran, dan makanan ringan dari rumah ke rumah menggunakan tenggok, hingga akhirnya mampu mengelola kios dan warung secara mandiri.

Puncak dari pengakuan komersial dan ekspresi identitas kuliner ini ditandai dengan berdirinya restoran-restoran Jawa permanen. Salah satu momen historis penting adalah pembukaan Restoran J. Tarmin pada 5 Oktober 1934 di Maagdenstraat, Paramaribo (sebagaimana diiklankan dalam surat kabar Suriname van Dinsdag terbitan 9 Oktober 1934). Restoran yang menyajikan menu nasi goreng, nasi sambel goreng, dan kerupuk ini secara berani memasang label "Indonesische Restaurant".

Penggunaan kata "Indonesia" pada tahun 1934 memiliki signifikansi politik dan emosional yang sangat mendalam. Pada masa itu, nama "Indonesia" belum secara resmi digunakan secara geopolitik baik di Hindia Belanda maupun di Belanda, melainkan baru dipakai sebagai simbol aktivisme politik oleh kelompok pergerakan nasional (seperti Indonesische Vereeniging dan peristiwa Sumpah Pemuda 1928). Penamaan restoran di Paramaribo ini menjadi penanda awal ikatan emosional nasionalisme dan rasa bangga akan identitas tanah air yang mendahului kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan institusi warung dan komersialisasi masakan Jawa ini meninggalkan jejak-jejak sejarah unik yang membuktikan keberhasilan keberlanjutan budaya diaspora tersebut.

Fakta-Fakta Menarik dan Warisan Budaya Kuliner Jawa-Suriname

Warisan kuliner Jawa di Suriname kini telah menyatu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah budaya multikultural negara tersebut. Perjalanan uniknya terekam dalam berbagai catatan historis, mulai dari studi ilmiah tempe pertama di Amerika Selatan pada 1946 oleh ahli botani Gerold Stahel di Paramaribo, yang terinspirasi oleh kepiawaian pengrajin lokal seperti Sinem dalam memelopori teknik fermentasi tradisional, hingga aksi mogok kerja pekerja kontrak di perkebunan Broederschap pada 5 Mei 1922 yang berhasil menuntut hak atas sajian makanan harian sesuai selera mereka.

Seiring berjalannya waktu, pergeseran gaya hidup juga terjadi saat warga Jawa di kawasan urban Paramaribo pada dekade 1930-an mulai mengonsumsi roti gulung untuk sarapan karena lebih praktis dan ekonomis ketimbang mengolah nasi. Kini, keunikan gastronomi ini diakui secara internasional; buku resep The Taste of Suriname karya Diana Dubois secara eksplisit menyejajarkan Javanese Cuisine—dengan hidangan khas seperti teloh, bakabana, bami, lontong, tjendol, dan petjil—bersama tradisi kuliner etnis besar lainnya.

Pada akhirnya, warung dan khazanah kuliner Jawa telah bertransformasi dari sekadar alat bertahan hidup imigran menjadi warisan budaya hidup (living heritage) yang terus memperkaya identitas nasional Suriname. (*)

Referensi:

  • Rahman, Fadly. 2023. Rasa Tanah Air: Awal Perkembangan Kuliner Indonesia di Mancanegara pada Akhir Abad ke-19 hingga 1940-an. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam