Ayo Netizen

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Oleh: T Bachtiar
Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)

Puluhan tenda warna-warni berjajar di lahan yang dibuat berteras, berundak-undak. Unggun menghangatkan para pencari keheningan di malam Minggu terakhir bulan September. Di sanalah ratusan orang dari berbagai sekolah, dari berbagai kampus, anggota organisasi profesi guru, dan orang dewasa lainnya dari Jawa Barat dan DKI Jakarta, berkemah di sisi tenggara Gunung Cereme. Tepatnya, di lereng Gunung Gegerhalang yang tersisa, yang secara administratif masuk kawasan Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl. Gunung ini pernah dua periode letusan eksplosif yang sangat dahsyat, sampai mengambrukkan tubuh gunungnya, membentuk kaldera berdiameter 4,5 km. Material letusan yang berupa lahar dan endapan awan panas, tersebar di kawasan yang sangat luas. Sebagian kecil mengalasi Kota Kuningan dan sekitarnya dengan tebal. 

Sekarang, lingkaran kaldera Gunung Gegerhalang itu sudah tidak utuh lagi. Dinding timur-tenggaranya hancur pada saat letusan dahsyat Gunung Gegerhalang periode ke-1 dan periode ke-2. Lingkaran kaldera yang tersisa di ketinggian 1.200 m dpl sampai 1.900 m dpl tinggal di sisi baratdaya sepanjang 4,2 km, dan di sisi timur sepanjang 3,2 km. Kedua lengkungan kaldera yang tersisa itu, dipisahkan oleh celah selebar 1,5 km, yang terbentuk pada saat letusan eksplosif Gunung Gegerhalang. Celah lebar inilah yang menjadi gerbang masuk ke Gunung Cereme melalui jalur Palutungan. Sedangkan lingkaran kaldera sebelah barat-utara, dihancurkan pada saat kelahiran dan tumbuh-kembang gunungapi baru yang lahir dari kaldera Gunung Gegerhalang, yaitu Gunung Cereme. 

Endapan lahar dan awan panas itu di atasnya dilapisi endapan aliran lava yang tidak kalah masifnya, yang terjadi dua periode letusan efusif. Berjalan dari bumi perkemahan ke arah timur beberapa menit, kemudian sedikit menuruni lembah yang landai, di sana ada Curug Putri, air terjun yang meluncur dari celah lava. Dinding lembah sisi timurnya berupa lava yang nampak bersusun setinggi 15 m.  

Itulah singkapan aliran lava dari letusan efusif Gunung Gegerhalang periode ke-2, yang mengalirkan lava sangat masif. Lavanya mengalir ke berbagai sisi lereng Gunung Gegerhalang dengan sangat tebal, seperti yang tersingkap dengan sangat baik di Curug Putri dan di Curug Gongseng. 

Lava yang seperti yang ditumpuk itu, dalam istilah masyarakat disebut batutemplek, batu yang berlapis-lapis saling menempel. Sejak zaman batu besar, batutemplek sudah digunakan sesuai kebutuhannya. Yang berukuran lebar dan panjang, digunakan menjadi peti kubur, seperti yang terdapat di Desa Cipari, Kecamatan Cigugur, dan di Bujaldayeuh, Desa Cilaja, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan. Kedua situs megalitik ini sumber batunya berasal dari lava, hasil letusan efusif Gunung Gegerhalang periode ke-2.

Batutemplek itu terbentuk karena kekentalan lavanya rendah, sehingga menjadi encer, serta tekanan gas di dalam magmanya lemah, sehingga tidak cukup tenaga untuk memicu ledakan besar. Material letusan efusif didominasi oleh lava pijar yang keluar dari kawah kemudian mengalir menuruni lereng.

Batutemplek ini berbentuk lembaran berlapis, merupakan retakan melembar yang terbentuk pada saat lava mengalir menuruni lereng, dan terjadinya penyusutan volume lava pada saat proses pendinginan. Gaya gravitasi akan menarik masa lava terus menuruni lereng. Terdapat perbedaan yang menyolok antara bagian luar lava yang cepat mendingin, dan bagian dalam lava yang masih panas. Akibatnya ketika lava panas kental menuruni lereng secara plastis atau lentur, akan terjadi tarikan atau regangan. Regangan geser pada aliran lava merupakan perubahan bentuk pada tubuh lava akibat bagian atasnya mengalir lebih cepat daripada bagian bawah yang tertahan oleh bergesekan dengan lereng. Bila telah melampaui daya elastisitasnya, akan terjadi retak yang memanjang, yang sejajar dengan permukaan lereng. 

Lembaran-lembaran lava atau batutemplek ini merupakan bagian aliran lava paling atas, antara 0 m – 10 m yang paling cepat membatu. Ketebalan lembarannya paling tipis, antara 2 cm – 5 cm. Pada kedalaman ini tekanan vertikalnya nol, sedangkan tekanan horizontal maksimal. 

Baca Juga: UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Di bagian tengah aliran lava, antara 11 m – 30 m, membentuk ketebalan lembar lava antara 1 m hingga 5 m. Pada kedalaman ini mulai mendapat tekanan vertikal dari batuan di atasnya, namun efek suhu luar menghilang. 

Paling bawah, di kedalaman aliran lava antara 31 m – 50 m, tebal lembar lavanya antara 5 m – 15 m. Tekanan batuan atas sangat tinggi, menahan pemuaian, dan menghentikan pembentukan retakan. Di bawah kedalaman 50 m lavanya masif, tanpa terjadinya retakan.

Batutemplek yang dimanfaatkan untuk kuburbatu di Cipari dan di Bujaldayeuh, merupakan aliran lava paling atas, ketebalan lembar batunya antara antara 2 cm – 5 cm. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam