Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

5 menit baca
Nur Febri Putranto
Ditulis oleh Nur Febri Putranto diterbitkan
Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)

Sore itu, Nik masih bermain bersama teman-teman sebayanya. Usianya baru tujuh tahun. Barangkali, seperti anak-anak seusianya, dunianya belum jauh dari permainan, teman sebaya, dan rutinitas kehidupan di desa. Namun, sore yang semula biasa itu perlahan berubah ketika sebuah truk tronton yang mengangkut tentara berhenti di balai kota.

Rumah-rumah mulai digeledah. Satu per satu orang didatangi. Beberapa tetangganya turut dibawa pergi oleh tentara, dan Kakak pertama Nik yang pada awalnya sempat lolos karna telah membumi hanguskan beberapa barang yang berkaitan dengan PKI namun pada minggu selanjutnya dia juga ikut terseret ke tempat pengasingan. “Anak-anak yang pulang dari menonton truk tentara di depan kelurahan mulai menghitung dengan jemari siapa saja yang di seret dan dinaikkan ke atas truk: Pak Carik, Lik Mingan, Ibu Mbak Mar, Kopral Marno, dan Ibu Arum”.

Nik mungkin belum memahami apa yang sedang terjadi. Ia belum tentu mengerti apa itu komunisme, mengapa seseorang dicurigai karena pilihan politiknya, atau mengapa tentara datang ke rumah-rumah penduduk. Namun, peristiwa itu menjadi bagian dari masa kecilnya, meninggalkan pertanyaan yang jawabannya baru dapat ia cari seiring bertambahnya usia.

Adegan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca Candik Ala 1965, sebuah novel karya Tinuk R. Yampolsky yang diterbitkan oleh Penerbit KataKita mengajak pembaca mendekati peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak. Alih-alih memulai dari pidato politik, perebutan kekuasaan, atau pertarungan ideologi, kisah Nik membawa kita ke ruang yang lebih dekat: keluarga, tetangga, dan kehidupan sehari-hari yang berubah di tengah situasi politik yang penuh ketegangan.

Ketika Politik Memasuki Rumah

Nik merupakan anak ragil dari lima bersaudara. Orang tua nya merupakan seorang anggota partai Katolik, Kakak pertamanya yang bernama mas Tok dikenal sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), sementara tiga kakaknya yang lain menganut paham marhaenisme. Orang tua Nik sendiri membedakan sebutan “simpatisan” dari “kader partai”, sebuah detail yang menarik untuk dicermati dalam memahami bagaimana keluarga tersebut memaknai afiliasi politik anggotanya.

Perbedaan ideologi dalam keluarga ini memperlihatkan bahwa politik tidak selalu hadir dalam bentuk yang jauh dan abstrak. Ia juga dapat menjadi bagian dari kehidupan keluarga, memengaruhi cara seseorang dikenali, diperlakukan, bahkan dicurigai oleh lingkungannya.

Dalam konteks Indonesia pasca-G30S 1965, keterkaitan seseorang dengan PKI dapat membawa konsekuensi serius. Penangkapan, penahanan, pembunuhan, dan berbagai bentuk diskriminasi terhadap orang-orang yang dituduh memiliki hubungan dengan PKI menjadi bagian dari kekerasan dan penindakan yang meluas pada periode tersebut. Namun, pengalaman dan nasib setiap orang tidaklah seragam.

Kisah Nik memberi jalan untuk melihat persoalan itu dari skala yang lebih kecil. Ketika seorang anggota keluarga dan tetangganya dibawa pergi, peristiwa tersebut tidak hanya menyangkut orang yang ditangkap. Ia juga mengubah kehidupan orang-orang yang ditinggalkan, termasuk anak-anak yang belum memiliki pemahaman memadai untuk menjelaskan apa yang mereka saksikan.

Di sinilah pengalaman Nik menjadi penting. Ia berada di tengah peristiwa besar tanpa harus menjadi pelaku politik atau memahami seluruh pertarungan yang berlangsung. Sejarah justru datang kepadanya melalui perubahan yang terjadi di sekitar rumahnya.

Sejarah dari Mata Seorang Anak

Membaca peristiwa 1965 melalui perspektif anak menghadirkan persoalan yang berbeda dibandingkan membaca laporan politik atau kesaksian seorang aktivis. Anak berusia tujuh tahun belum tentu mampu menyusun hubungan sebab-akibat secara utuh, tetapi ia dapat mengingat kejadian, suasana, dan perubahan yang dialaminya.

Perbedaan ini penting. Ketidakmampuan anak memahami konteks politik tidak berarti pengalamannya tidak memiliki nilai sejarah. Sebaliknya, keterbatasan pemahaman tersebut dapat memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa besar hadir dalam kehidupan seseorang sebelum ia mampu memberikan penjelasan terhadapnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri Nik dapat dibaca sebagai bagian dari proses memahami masa lalu. Apa yang terjadi pada kakaknya? Mengapa tentara datang? Mengapa seseorang harus pergi dari rumahnya? Pertanyaan semacam ini memperlihatkan jarak antara peristiwa yang dialami dan penjelasan yang baru diperoleh kemudian.

Candik Ala 1965 membuka kemungkinan untuk melihat sejarah bukan hanya sebagai rangkaian kejadian yang dapat diberi tanggal, melainkan juga sebagai pengalaman yang maknanya terus berkembang dalam ingatan seseorang.

Walaupun pengalaman Nik tidak serta-merta mewakili seluruh anak yang hidup pada masa itu. Ia merupakan satu sudut pandang yang spesifik. Justru dengan memahami kekhasan pengalaman tersebut, pembaca dapat menggunakannya sebagai titik awal untuk bertanya lebih jauh tentang kehidupan anak-anak dan keluarga di tengah kekerasan politik.

Dari Ingatan Pribadi menuju Trauma Sosial

Peristiwa politik tidak selalu berakhir ketika operasi militer selesai atau keadaan politik berubah. Dampaknya dapat bertahan melalui ingatan, ketakutan, stigma, dan perubahan hubungan sosial. Bahkan ketika Nik sudah memasuki masa remaja dan berkenalan dengan orang baru dia memilih untuk tidak menganggap saudaranya yang simpatisan PKI itu, dan satu kebohongan telah di mulai. Dalam konteks ini, kisah Nik dapat dibaca melalui persoalan trauma dan ingatan.

Bagi seorang anak, pengalaman melihat tentara mendatangi desa, menyaksikan rumah digeledah oleh dua orang yang menenteng bedil, atau kehilangan kehadiran anggota keluarga dapat membentuk pemahamannya tentang dunia. Lingkungan yang sebelumnya terasa akrab bisa berubah menjadi tempat yang penuh ketidakpastian.

Candik Ala 1965 hal. 218-219 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nur Febri Putranto)
Candik Ala 1965 hal. 218-219 (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nur Febri Putranto)

Orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai tetangga juga dapat hadir dalam hubungan sosial yang berbeda setelah peristiwa tersebut, atau bahkan lebih parah. Ibu Arum yang yang di kenal sebagai guru yang anggun nan ayu ternyata sudah meregang nyawa, tidak lama setelah dibawa ke tempat pengasingan bu Arum bersama tiga temannya yang di tangkap atas dugaan sebagai anggota gerwani telah di eksekusi “Tak ada yang sempat bertanya. Mereka dijajar di mulut jurang. Gemeresak air terjun itu dekat benar kedengaran di bawah kaki. Beku gulita malam, teriakan yang tak terpahamkan, dan: dor! dor! dor! Gelap hutan tiba-tiba bergetaran! Empat tubuh terjungkal terlempar melayang jatuh, lenyap ditelan gemuruh air terjun. Lalu senyap!”, terjatuh diantara gelapnya malam dan derasnya air terjun.

Namun, trauma sosial tidak cukup disimpulkan hanya karena sebuah cerita memuat pengalaman menakutkan. Pembacaan yang lebih mendalam perlu memperhatikan bagaimana ketakutan itu memengaruhi kehidupan tokoh, bagaimana masyarakat berhubungan setelah peristiwa berlangsung, serta apakah ingatan tersebut terus hadir dalam kehidupan Nik ketika dewasa. Detail-detail dalam novel perlu menjadi dasar untuk menentukan sejauh mana interpretasi itu dapat dipertanggungjawabkan.

Jika pengalaman Nik memang terus membayanginya ketika dewasa, kisah tersebut dapat memperlihatkan bagaimana masa lalu tidak hanya dikenang sebagai sesuatu yang telah berlalu. Ia juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami keluarga, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Dalam pengertian ini, Candik Ala 1965 berpotensi membuka pembacaan tentang dampak sosial 1965 yang melampaui orang-orang yang terlibat langsung dalam konflik politik. Anak-anak dan keluarga mereka juga dapat menjadi bagian dari sejarah tersebut, meskipun pengalaman mereka tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)