Sore itu, Nik masih bermain bersama teman-teman sebayanya. Usianya baru tujuh tahun. Barangkali, seperti anak-anak seusianya, dunianya belum jauh dari permainan, teman sebaya, dan rutinitas kehidupan di desa. Namun, sore yang semula biasa itu perlahan berubah ketika sebuah truk tronton yang mengangkut tentara berhenti di balai kota.
Rumah-rumah mulai digeledah. Satu per satu orang didatangi. Beberapa tetangganya turut dibawa pergi oleh tentara, dan Kakak pertama Nik yang pada awalnya sempat lolos karna telah membumi hanguskan beberapa barang yang berkaitan dengan PKI namun pada minggu selanjutnya dia juga ikut terseret ke tempat pengasingan. “Anak-anak yang pulang dari menonton truk tentara di depan kelurahan mulai menghitung dengan jemari siapa saja yang di seret dan dinaikkan ke atas truk: Pak Carik, Lik Mingan, Ibu Mbak Mar, Kopral Marno, dan Ibu Arum”.
Nik mungkin belum memahami apa yang sedang terjadi. Ia belum tentu mengerti apa itu komunisme, mengapa seseorang dicurigai karena pilihan politiknya, atau mengapa tentara datang ke rumah-rumah penduduk. Namun, peristiwa itu menjadi bagian dari masa kecilnya, meninggalkan pertanyaan yang jawabannya baru dapat ia cari seiring bertambahnya usia.
Adegan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca Candik Ala 1965, sebuah novel karya Tinuk R. Yampolsky yang diterbitkan oleh Penerbit KataKita mengajak pembaca mendekati peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak. Alih-alih memulai dari pidato politik, perebutan kekuasaan, atau pertarungan ideologi, kisah Nik membawa kita ke ruang yang lebih dekat: keluarga, tetangga, dan kehidupan sehari-hari yang berubah di tengah situasi politik yang penuh ketegangan.
Ketika Politik Memasuki Rumah
Nik merupakan anak ragil dari lima bersaudara. Orang tua nya merupakan seorang anggota partai Katolik, Kakak pertamanya yang bernama mas Tok dikenal sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), sementara tiga kakaknya yang lain menganut paham marhaenisme. Orang tua Nik sendiri membedakan sebutan “simpatisan” dari “kader partai”, sebuah detail yang menarik untuk dicermati dalam memahami bagaimana keluarga tersebut memaknai afiliasi politik anggotanya.
Perbedaan ideologi dalam keluarga ini memperlihatkan bahwa politik tidak selalu hadir dalam bentuk yang jauh dan abstrak. Ia juga dapat menjadi bagian dari kehidupan keluarga, memengaruhi cara seseorang dikenali, diperlakukan, bahkan dicurigai oleh lingkungannya.
Dalam konteks Indonesia pasca-G30S 1965, keterkaitan seseorang dengan PKI dapat membawa konsekuensi serius. Penangkapan, penahanan, pembunuhan, dan berbagai bentuk diskriminasi terhadap orang-orang yang dituduh memiliki hubungan dengan PKI menjadi bagian dari kekerasan dan penindakan yang meluas pada periode tersebut. Namun, pengalaman dan nasib setiap orang tidaklah seragam.
Kisah Nik memberi jalan untuk melihat persoalan itu dari skala yang lebih kecil. Ketika seorang anggota keluarga dan tetangganya dibawa pergi, peristiwa tersebut tidak hanya menyangkut orang yang ditangkap. Ia juga mengubah kehidupan orang-orang yang ditinggalkan, termasuk anak-anak yang belum memiliki pemahaman memadai untuk menjelaskan apa yang mereka saksikan.
Di sinilah pengalaman Nik menjadi penting. Ia berada di tengah peristiwa besar tanpa harus menjadi pelaku politik atau memahami seluruh pertarungan yang berlangsung. Sejarah justru datang kepadanya melalui perubahan yang terjadi di sekitar rumahnya.
Sejarah dari Mata Seorang Anak
Membaca peristiwa 1965 melalui perspektif anak menghadirkan persoalan yang berbeda dibandingkan membaca laporan politik atau kesaksian seorang aktivis. Anak berusia tujuh tahun belum tentu mampu menyusun hubungan sebab-akibat secara utuh, tetapi ia dapat mengingat kejadian, suasana, dan perubahan yang dialaminya.
Perbedaan ini penting. Ketidakmampuan anak memahami konteks politik tidak berarti pengalamannya tidak memiliki nilai sejarah. Sebaliknya, keterbatasan pemahaman tersebut dapat memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa besar hadir dalam kehidupan seseorang sebelum ia mampu memberikan penjelasan terhadapnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri Nik dapat dibaca sebagai bagian dari proses memahami masa lalu. Apa yang terjadi pada kakaknya? Mengapa tentara datang? Mengapa seseorang harus pergi dari rumahnya? Pertanyaan semacam ini memperlihatkan jarak antara peristiwa yang dialami dan penjelasan yang baru diperoleh kemudian.
Candik Ala 1965 membuka kemungkinan untuk melihat sejarah bukan hanya sebagai rangkaian kejadian yang dapat diberi tanggal, melainkan juga sebagai pengalaman yang maknanya terus berkembang dalam ingatan seseorang.
Walaupun pengalaman Nik tidak serta-merta mewakili seluruh anak yang hidup pada masa itu. Ia merupakan satu sudut pandang yang spesifik. Justru dengan memahami kekhasan pengalaman tersebut, pembaca dapat menggunakannya sebagai titik awal untuk bertanya lebih jauh tentang kehidupan anak-anak dan keluarga di tengah kekerasan politik.
Dari Ingatan Pribadi menuju Trauma Sosial
Peristiwa politik tidak selalu berakhir ketika operasi militer selesai atau keadaan politik berubah. Dampaknya dapat bertahan melalui ingatan, ketakutan, stigma, dan perubahan hubungan sosial. Bahkan ketika Nik sudah memasuki masa remaja dan berkenalan dengan orang baru dia memilih untuk tidak menganggap saudaranya yang simpatisan PKI itu, dan satu kebohongan telah di mulai. Dalam konteks ini, kisah Nik dapat dibaca melalui persoalan trauma dan ingatan.
Bagi seorang anak, pengalaman melihat tentara mendatangi desa, menyaksikan rumah digeledah oleh dua orang yang menenteng bedil, atau kehilangan kehadiran anggota keluarga dapat membentuk pemahamannya tentang dunia. Lingkungan yang sebelumnya terasa akrab bisa berubah menjadi tempat yang penuh ketidakpastian.

Orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai tetangga juga dapat hadir dalam hubungan sosial yang berbeda setelah peristiwa tersebut, atau bahkan lebih parah. Ibu Arum yang yang di kenal sebagai guru yang anggun nan ayu ternyata sudah meregang nyawa, tidak lama setelah dibawa ke tempat pengasingan bu Arum bersama tiga temannya yang di tangkap atas dugaan sebagai anggota gerwani telah di eksekusi “Tak ada yang sempat bertanya. Mereka dijajar di mulut jurang. Gemeresak air terjun itu dekat benar kedengaran di bawah kaki. Beku gulita malam, teriakan yang tak terpahamkan, dan: dor! dor! dor! Gelap hutan tiba-tiba bergetaran! Empat tubuh terjungkal terlempar melayang jatuh, lenyap ditelan gemuruh air terjun. Lalu senyap!”, terjatuh diantara gelapnya malam dan derasnya air terjun.
Namun, trauma sosial tidak cukup disimpulkan hanya karena sebuah cerita memuat pengalaman menakutkan. Pembacaan yang lebih mendalam perlu memperhatikan bagaimana ketakutan itu memengaruhi kehidupan tokoh, bagaimana masyarakat berhubungan setelah peristiwa berlangsung, serta apakah ingatan tersebut terus hadir dalam kehidupan Nik ketika dewasa. Detail-detail dalam novel perlu menjadi dasar untuk menentukan sejauh mana interpretasi itu dapat dipertanggungjawabkan.
Jika pengalaman Nik memang terus membayanginya ketika dewasa, kisah tersebut dapat memperlihatkan bagaimana masa lalu tidak hanya dikenang sebagai sesuatu yang telah berlalu. Ia juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami keluarga, masyarakat, dan dirinya sendiri.
Dalam pengertian ini, Candik Ala 1965 berpotensi membuka pembacaan tentang dampak sosial 1965 yang melampaui orang-orang yang terlibat langsung dalam konflik politik. Anak-anak dan keluarga mereka juga dapat menjadi bagian dari sejarah tersebut, meskipun pengalaman mereka tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi. (*)