Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

7 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Penerbitan buku masak pada era awal Orde Baru memegang peranan strategis dalam merekonstruksi tata sosial-ekonomi masyarakat pasca-transisi politik akhir dekade 1960-an. Melalui literatur kuliner formal yang diterbitkan oleh negara, resep makanan tidak sekadar berfungsi sebagai panduan teknis pengolahan bahan pangan di dapur domestik, melainkan bertindak sebagai instrumen edukatif dan ideologis. Literatur ini didesain untuk menstrukturkan kembali pendidikan kejuruan berbasis kesejahteraan keluarga, sekaligus mengarahkan peran perempuan Indonesia dalam kerangka pembangunan nasional dan pembentukan identitas kebudayaan Nusantara.

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel), dua tokoh pendidik yang menjabat sebagai guru di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP) dan Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA) di Jakarta. Kedudukan institusional kedua penyusun ini memberikan legitimasi pedagogis yang kuat terhadap isi buku. Dalam merancang kurikulum tata boga, mereka mengadopsi dan mentransformasikan terminologi vokasional warisan kolonial—seperti mencetak perempuan yang cakap, volwaardig (berbobot), dan strijdvaardig (siap berjuang)—ke dalam doktrin domestik Orde Baru.

Dalam konstruksi sosial tersebut, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai pengelola ranah privat, melainkan diangkat peran idealnya sebagai "tiang-tiang utama rumah tangga Indonesia". Melalui efisiensi tata kelola dapur, penguasaan gizi, dan keterampilan kuliner, para siswi SKKP/SKKA serta ibu rumah tangga disiapkan untuk menopang ketahanan ekonomi keluarga, yang pada gilirannya dianggap sebagai fondasi mendasar bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, bangsa, dan negara.

Dinamika Penerbitan dan Pembangunan Nasional

Rekam jejak bibliografis buku Masakan Aneka Warna mencerminkan dinamika industri percetakan negara sekaligus pergeseran kebijakan pendidikan kejuruan di Indonesia. Sejarah penerbitannya melintasi beberapa tahapan penting.

Edisi perintis buku ini pertama kali dicetak oleh percetakan swasta Grafika pada Agustus 1959. Namun, penerbitan perdana tersebut menghadapi rintangan distribusi dan komunikasi yang cukup berat di era Demokrasi Terpimpin, hingga seluruh salinan cetakan pertamanya baru habis beredar di pasaran pada tahun 1964.

Buku ini kemudian diterbitkan ulang secara resmi oleh Perusahaan Negara (PN) Balai Pustaka pada 7 Februari 1969 sebagai cetakan kedua atau cetakan pertama versi Balai Pustaka, setelah melalui penyesuaian resep berbasis evaluasi praktis. Pengesahan dari otoritas kementerian memasukkan buku ini ke dalam Daftar Buku Pelajaran Pendidikan Kejuruan resmi untuk SKKP dan SKKA di tingkat Daerah Tingkat (DATI) I, DATI II, hingga tingkat Pusat.

Tingginya kepopuleran dan kebutuhan kurikulum yang konstan mendorong Balai Pustaka melakukan cetak ulang berkala hingga tahun 1979. Pada cetakan-cetakan lanjutan ini, dilakukan penyempurnaan takaran standar guna memastikan konsistensi hasil masakan bagi pembaca luas.

Momentum penerbitan ulang oleh PN Balai Pustaka pada 7 Februari 1969 memiliki arti penting secara historiografis karena bertepatan dengan dimulainya pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) Triwulan II tahun 1969. Pengarang dan penerbit secara eksplisit meletakkan penerbitan buku masak ini sebagai kontribusi nyata dan amal karya di bidang sosial budaya untuk mendukung agenda pemulihan ekonomi nasional Orde Baru melalui pembinaan lembaga keluarga.

Keterikatan antara kebijakan pembangunan nasional, lembaga pendidikan kejuruan, dan pendorongan efisiensi domestik tersebut secara langsung membentuk pendekatan metodologis pengajaran kuliner yang sistematis dan terukur sebagaimana diterapkan dalam resep-resep buku ini.

Aksesibilitas, Takaran, dan Profil Rasa 1969

Pada akhir 1960-an, kodifikasi resep dalam buku Masakan Aneka Warna menjadi jembatan antara tradisi memasak intuitif (gevoel) dan metrologi kuliner modern. Metodologi yang diusung mengutamakan kepraktisan tanpa mengorbankan rasa, selaras dengan kondisi ekonomi dan keterbatasan peralatan dapur masyarakat Indonesia saat itu.

Guna mengatasi minimnya kepemilikan timbangan metrik di rumah tangga pada 1969, para penyusun mengombinasikan satuan baku—seperti gram, liter, dan desiliter—dengan acuan takaran rumahan yang terjangkau. Penggunaan gelas peres, sendok makan, dan sendok teh membebaskan pembaca dari ketergantungan pada alat ukur laboratorium. Sehingga instruksi memasak dapat dieksekusi secara presisi dan konsisten, baik oleh siswi sekolah kejuruan maupun ibu rumah tangga.

Struktur bumbu pada bab "Masakan Tionghoa" juga menunjukkan formulasi konsisten yang menandai integrasi kuliner Tionghoa-Nusantara. Tumisan dasarnya mengandalkan lima komponen utama: bawang merah, bawang putih, lada halus, kecap, dan vetsin (MSG).

Pencantuman vetsin secara eksplisit—sekitar satu sendok teh per porsi keluarga—memiliki makna kultural mendalam pada awal era Orde Baru. Vetsin hadir bukan sekadar penyedap, melainkan simbol modernitas teknologi pangan dan efisiensi dapur perkotaan. Selain memberikan rasa gurih (umami) instan tanpa perlu merebus kaldu lama, vetsin turut menyelaraskan cita rasa masakan Tionghoa dengan selera lokal yang menyukai profil gurih-manis.

Formulasi praktis dan terstandar inilah yang menjadi dasar teknis analisis resep-resep Tionghoa dalam buku ini.

Inventarisasi dan Analisis Resep Masakan Tionghoa

Bab "Masakan Tionghoa" dalam buku Masakan Aneka Warna menyajikan unit hidangan komprehensif yang mencakup olahan karbohidrat, sup berkuah segar, lauk protein, hingga variasi tumisan sayuran campur. Pada kelompok resep olahan karbohidrat, buku ini mengetengahkan tiga masakan berbasis mi dan bihun meliputi Mi Goreng, Mi Kuah, dan Bihun Goreng.

Struktur dasar olahan mi dan bihun ditujukan sebagai makanan selingan maupun pengganti makanan pokok yang sangat populer. Ketiganya menggunakan bahan baku seberat ¼ kg (mi basah atau bihun) dengan bumbu yang stabil, yaitu kombinasi bawang merah, bawang putih, garam, lada, vetsin, dan kecap. Perbedaannya terletak pada detail teknis; Bihun Goreng menggunakan dua batang daun bawang—berbeda dari Mi Goreng yang hanya menggunakan satu batang—serta disajikan bersama acar bening untuk memberikan kontras rasa asam segar terhadap gurihnya minyak dan kecap. Sementara itu, Mi Kuah diolah dengan merebus ayam bersama kaldu dan disajikan dalam mangkuk cekung.

Untuk kategori sup, Sayur Misoa berfokus pada hidangan berkuah bening yang segar dan cepat saji. Olahan ini memadukan misoa, udang kupas, oyong, daun bawang, dan seledri yang disiram kuah kaldu berbumbu tumisan bawang, garam, serta vetsin. Misoa dimasukkan paling akhir agar tidak terlalu lembek, lalu disajikan dalam wadah basi berpenutup sebagai sup keluarga yang hangat.

Sementara itu, pengolahan protein yang lebih kompleks diajarkan melalui resep Pu Yong Hai dan Hekwan/Keehian. Pu Yong Hai diolah dari dadar telur yang dicampur daging cincang, udang, kol, serta oyong, lalu disiram kuah tomat kental bercita rasa asam-manis dan dihiasi kacang polong kalengan. Kehadiran kacang polong kalengan ini mencerminkan simbol kemewahan dan modernitas urban pada tahun 1969. Di sisi lain, Hekwan dibuat dari adonan udang, tepung terigu, telur, dan air yang ditim hingga matang, lalu digoreng dan diiris tipis sebagai topping protein gurih untuk sajian capcai.

Puncak keragaman bahan terlihat pada dua variasi capcai, yakni Capcai Goreng dan Capcai Kuah, yang mengonsolidasi lebih dari 10 elemen protein dan sayuran—mulai dari ayam, hati, udang, dan hekwan, hingga paduan sayuran subtropis dan lokal seperti caisin, kapri, kembang kol, serta oyong.

Capcai Goreng menggunakan sedikit kaldu (½ gelas), kecap, dan larutan tepung kanji sebagai pengental saus yang disajikan di piring ceper. Sebaliknya, Capcai Kuah menggunakan kaldu tiga kali lipat lebih banyak (1½ gelas) tanpa kecap maupun kanji, sehingga menghasilkan kuah bening melimpah yang disajikan hangat dalam wadah basi. Keanekaragaman bahan dan teknik ini memperlihatkan bagaimana integrasi kuliner Tionghoa-Nusantara turut membentuk identitas kuliner nasional Indonesia.

Implikasi Sosial dan Akulturasi Kuliner Tionghoa di Indonesia

Kodifikasi masakan Tionghoa ke dalam buku teks cetakan penerbit negara PN Balai Pustaka pada tahun 1969 menandai babak penting dalam sejarah akulturasi budaya di Indonesia. Proses ini mencerminkan tahap domestikasi kuliner, di mana hidangan yang bermula dari tradisi etnis minoritas pendatang secara resmi diakui, diserap, dan dinasionalisasi menjadi bagian dari sajian konsumsi harian keluarga Indonesia modern.

Pemilihan hidangan seperti Mi Goreng, Mi Kuah, Bihun Goreng, Sayur Misoa, Pu Yong Hai, Hekwan, dan Capcai sebagai materi pengajaran di SKKP dan SKKA bukanlah kebetulan historis. Hidangan-hidangan ini dipilih karena memenuhi kriteria pendidikan kejuruan Orde Baru: bernilai gizi tinggi, efisien dalam waktu pengolahan, serta fleksibel untuk disajikan baik sebagai makanan pokok, lauk-pauk, maupun sajian selingan keluarga.

Melalui pelembagaan kurikulum di sekolah kejuruan wanita yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, terjadi penyebaran resep Tionghoa terstandar secara masif. Siswi-siswi SKKP dan SKKA yang dilatih dengan buku Masakan Aneka Warna bertindak sebagai agen penyebar budaya (cultural brokers). Ketika lulus dan menjadi guru, pengasuh, atau ibu rumah tangga, mereka mempraktikkan teknik dan resep yang telah terakulturasi ini secara konsisten di dapur-dapur keluarga dari Sumatra hingga Maluku, melintasi batas-batas kesukuan lokal.

Baca Juga: Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Secara gastronomis, resep-resep masakan Tionghoa dalam buku ini mencerminkan kompromi dan harmonisasi rasa yang disesuaikan dengan lidah serta ketersediaan bahan di Indonesia pada akhir dekade 1960-an. Hal ini terlihat dari dominasi penggunaan bawang merah yang konsisten bersanding dengan bawang putih pada seluruh resep Tionghoa. Jika tradisi kuliner Tiongkok daratan lebih didominasi bawang putih dan jahe, masyarakat Indonesia memasukkan bawang merah untuk memberikan basis rasa manis-gurih alami yang akrab dengan selera Nusantara. Selain itu, terjadi inkorporasi sayuran lokal tropis seperti penambahan oyong ke dalam Sayur Misoa, Pu Yong Hai, dan Capcai, yang menunjukkan fleksibilitas resep dalam memanfaatkan hasil pertanian lokal melimpah dan murah di pasar tradisional.

Penyesuaian rasa ini makin lengkap dengan sintesis bahan modern dan industri lokal, seperti perpaduan kecap manis lokal, vetsin, serta bahan olahan kaleng modern seperti kacang polong yang memperlihatkan bagaimana masakan Tionghoa-Indonesia menyerap simbol kemajuan teknologi pangan tanpa kehilangan identitas rasa utamanya.

Arsip kuliner dalam buku Masakan Aneka Warna (1969) ini menjadi bukti autentik bahwa akulturasi masakan Tionghoa di Indonesia tidak hanya berlangsung secara informal di kedai-kedai komersial ruang publik, tetapi telah dikodifikasi secara intelektual dan diajarkan secara terstruktur melalui saluran pendidikan resmi negara sebagai bagian integral dari warisan kuliner Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)