Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

SEORANG ayah harus mau belajar dari anaknya sendiri. Ini bukan karena sang ayah tidak tahu apa-apa. Justru karena pengalaman yang panjang kadang membuat seseorang terlalu terbiasa dengan cara lama. 

Kota juga begitu. Bandung punya sejarah panjang, pengalaman panjang, dan ingatan panjang. Tetapi, panjangnya pengalaman tidak otomatis membuat sebuah kota selalu tahu bagaimana menghadapi masa depannya.

Bandung tua punya banyak hal yang patut dihormati. Lihat saja, ada warisan arsitektur, jaringan jalan, tradisi, ruang publik, perguruan tinggi, industri, hingga kultur nongkrong yang telah menjadi bagian dari identitas kota. 

Namun, Bandung yang dihuni anak muda kiwari bukan lagi Bandung yang sama dengan Bandung yang dibangun beberapa dekade lalu. Perhatikan cara mereka bekerja, bergerak, berbelanja, bersosialisasi, menikmati seni, bahkan menggunakan trotoar, dan taman. Semua telah berubah. 

Zaman geus robah. Begitu kata, Kang Aceng, pituin urang Jamika.

Dan perubahan tak jarang lebih cepat daripada kemampuan pemerintah membaca perubahan itu sendiri. Kota dibangun melalui rencana lima tahunan, anggaran tahunan, prosedur pengadaan dan regulasi. Sementara perilaku warga bisa berubah dalam hitungan bulan. 

Sekadar ilustrasi, sebuah kedai bisa menjadi tempat berkumpul baru dalam beberapa minggu. Sebuah ruas jalan dapat mendadak menjadi ruang kreatif karena anak-anak muda mengisinya. Sebuah kawasan yang dahulu dianggap tidak menarik bisa berubah menjadi tujuan wisata hanya karena unggahan Instagram, TikTok, atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Kota bergerak dengan algoritmanya sendiri.

Maka, Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan mana perubahan perilaku yang hanya tren sesaat dan mana yang menunjukkan perubahan struktural dalam cara warga menggunakan kota. Ilmu perkotaan menyebutnya sebagai perubahan pola penggunaan ruang. Bahasa warung kopinya lebih sederhana lagi, yakni lihat dulu warga sebenarnya sedang ngapain dan ingin ngapain.

Ambil contoh paling gampang adalah soal mobilitas. Selama bertahun-tahun, pembangunan kota cenderung dibaca melalui kendaraan, yakni bagaimana kendaraan bergerak, di mana kendaraan parkir, bagaimana kapasitas jalan ditambah. 

Tetapi, generasi yang lebih muda boleh jadi semakin terbiasa dengan kombinasi berjalan kaki, transportasi umum, sepeda, ojek daring, dan perjalanan pendek yang tidak selalu membutuhkan mobil pribadi. 

Data perjalanan memang tidak boleh dibaca secara romantis. Realitanya, Bandung masih sangat bergantung pada kendaraan bermotor. Tetapi, perubahan preferensi sebagian warga menunjukkan bahwa ukuran kota yang nyaman tidak semata-mata ditentukan oleh kelancaran arus mobil.

Karena itu, trotoar bukan sekadar bagian pinggir jalan. Ia adalah infrastruktur sosial. Di atas trotoar orang berjalan, bertemu, berjualan, menunggu, mengobrol, bahkan kadang jatuh cintrong setelah terpanah Dewa Amor. Ketika trotoar hanya dihitung berdasarkan lebar beton dan kualitas paving block-nya, kota kehilangan sebagian maknanya. Generasi muda justru memperlihatkan bahwa ruang yang nyaman untuk berjalan dan berhenti mempunyai nilai ekonomi dan sosial. Orang akan lebih lama berada di suatu kawasan manakala kawasan itu menyenangkan untuk dijalani dengan kaki.

Hal yang sama terjadi pada ruang publik lainnya. Bandung mempunyai taman-taman kota dan ruang terbuka yang semakin sering digunakan warga untuk berbagai aktivitas. Tetapi, keberhasilan ruang publik tidak cukup diukur dari jumlah taman yang dibangun. Persoalan yang lebih penting adalah: siapa yang datang, berapa lama mereka tinggal, apa yang mereka lakukan, dan apakah mereka merasa aman? 

Dalam studi perkotaan, quality of place semakin banyak dilihat melalui pengalaman pengguna, bukan semata-mata kualitas fisik bangunan. Kota yang indah tetapi membuat orang tidak betah tetap saja kota yang gagal.

Bandung muda juga memperlihatkan perubahan dalam ekonomi kreatif. Anak-anak muda ayeuna tidak selalu membutuhkan kantor besar, toko besar atau gedung pertunjukan megah untuk menghasilkan kegiatan ekonomi dan kebudayaan. Realitanya, mereka sekarang ini bisa bekerja dari rumah, dari kosan, kafe, studio kecil, ruang komunitas atau tempat yang fungsi awalnya sama sekali bukan ruang kreatif. Dari sini pemerintah kota perlu belajar bahwa ekonomi kreatif tidak selalu tumbuh dari proyek pemerintah. Sering kali pemerintah justru lebih berguna ketika menyediakan ekosistem berupa ruang, konektivitas, kepastian aturan, akses pembiayaan dan lingkungan yang memungkinkan eksperimen.

Persoalannya, selama ini Bandung memiliki kecenderungan menjadikan kreativitas sebagai label semata. "Kota kreatif" mudah sekali menjadi slogan, logo, festival, mural, atau panggung acara. Padahal, kreativitas yang sesungguhnya sering berlangsung jauh dari panggung resmi. Ia bisa berada di gang, studio kecil, kampus, toko buku, ruang musik, komunitas desain, pasar akhir pekan dan layar laptop barudak ngora. 

Karenanya, pemerintah tidak harus menjadi sutradara seluruh "pertunjukan". Kadang cukup menjadi enabler. Urang Sunda punya ungkapan ulah ngaliarkeun taleus ateul alias jangan membuat sesuatu yang justru menimbulkan persoalan baru. Kreativitas pun perlu diberi ruang tanpa terlalu cepat dijadikan proyek.

Begitu pula dengan heritage. Bandung tua memiliki kecenderungan melihat bangunan lama sebagai sesuatu yang harus diselamatkan dari perubahan. Itu penting, tetapi pelestarian tidak boleh berhenti pada fasad. Bangunan tua yang hanya dicat ulang lalu difoto untuk brosur wisata kota belum tentu benar-benar hidup. 

Prinsip adaptive reuse justru mengajarkan bahwa bangunan bersejarah dapat diberi fungsi baru selama nilai pentingnya tetap diperhatikan. Di sinilah Bandung muda bisa memberi pelajaran, bahwa mereka tidak selalu melihat bangunan lama sebagai benda sakral, tetapi sebagai ruang yang masih mungkin dipakai, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali.

Namun, Bandung muda juga perlu belajar dari Bandung tua. Sebab kota bukan aplikasi yang bisa di-update saban malam. Ada ingatan, sejarah, kepemilikan, struktur sosial, dan ekologi yang tidak dapat dihapus hanya karena sebuah konsep baru terlihat keren. Jalan, sungai, kompleks permukiman, bangunan bersejarah, dan ruang terbuka mempunyai lapisan sejarah. Perubahan yang tergesa-gesa bisa menghasilkan kota yang tampak modern tetapi kehilangan karakternya. 

Kata Mang Tuteng asal Garut yang kini mukim di Murla (Muararajeun Lama), Caina herang, laukna beunang. Airnya tetap jernih, ikannya tetap dapat. Modernisasi semestinya menghasilkan keduanya, bukan memilih salah satu.

Karena itu, hubungan Bandung tua dan Bandung muda seharusnya bukan pertarungan antargenerasi. Yang satu memiliki memori, yang lain memiliki imajinasi. Yang satu paham bagaimana kota terbentuk, yang lain paham bagaimana kota mulai digunakan dengan cara-cara baru. 

Masalah muncul ketika masing-masing merasa paling paham. Pemerintah bisa terlalu percaya pada dokumen perencanaan. Aktivis kota bisa terlalu percaya pada idealismenya. Pengusaha bisa terlalu percaya pada pasar. Anak muda bisa terlalu percaya pada tren. Kota yang sehat justru membutuhkan semua perspektif untuk saling mengoreksi.

Baca Juga: Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

Bandung tua tidak perlu kehilangan jati dirinya untuk menerima pelajaran dari Bandung muda. Sebaliknya, Bandung muda tidak perlu membuang sejarah untuk menciptakan masa depannya. Keduanya bisa bertemu di satu prinsip sederhana, yakni kota dibuat untuk manusia yang hidup di dalamnya, bukan sebaliknya. 

Bandung yang diwariskan kepada generasi berikutnya semestinya bukan sekadar Bandung yang berhasil mempertahankan masa lalu, melainkan Bandung yang berhasil membuat masa lalu berguna bagi masa depannya. 

Dan mungkin di situlah seorang ayah akhirnya belajar dari anaknya. Tentu, bukan untuk menjadi muda lagi, tetapi bagaimana tetap bersedia belajar dan belajar, walau usia terus menua. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)