Ayo Netizen

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Oleh: Dias Ashari
Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan dunia literasi memang selalu menarik untuk dibahas. Tidak hanya tentang melihat kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, menganalisis serta menggunakan informasi secara efektif dalam berbagai aspek kehidupan. Literasi juga tentang bagaimana dia bertumbuh dan hidup dalam lingkup masyarakat.

Hal pertama yang saya ingin kunjungi di Cirebon adalah berbagai macam kegiatan literasinya. Saya coba scrolling di media sosial tentang komunitas atau kumpulan orang-orang yang menyukai literasi. Beberapa yang muncul di laman pencarian adalah KBC (Klub Buku Cirebon), Literasi Senja, Rumah Rengganis, Semiljan dan Literasi Kopi Cirebon. Beberapa komunitas ini menyelenggarakan kegiatan dengan waktu yang bervariasi. Misalnya untuk Komunitas KBC (Klub Buku Cirebon) menyelenggarakan kegiatan rutinnya hanya satu bulan sekali dengan lokasi yang berbeda. Pertemuan itu diisi dengan kegiatan silent reading yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan setiap anggota. Dari pemaparan tersebut dilajutkan untuk sesi diskusi dan tanya jawab sesuai dengan informasi yang ingin diketahui oleh anggotanya.

Sementara untuk Rumah Rengganis dan Smiljan Cirebon berbentuk cafe semi perpustakaan mini. Tentunya selain menyediakan berbagai makanan dan minuman, cafe ini juga menyediakan buku dan fasilitas diskusi untuk mereka yang menyukai dunia literasi.

Di tengah mencari informasi terkait dengan perkembangan literasi di Kota Cirebon, media sosial kerap menyuguhkan informasi yang selaras. Sehingga munculah satu akun di Tik*** yang memberikan informasi lapak baca buku gratis di Alun-alun Kejaksaan. Tak perlu lama menunggu tentu saya langsung menghubungi akun terkait dan bertanya terkait dengan jadwal lapak buku gratis selanjutnya. Melalui percakapan di ketahui bahwa lapak baca buku tanpa nama ini akan berpindah-pindah setiap bulannya. Karena satu bulan penuh sudah diselenggarakan di Alun-alun Kejaksaan maka lapak berikutnya ada di Alun-alun Palimanan. Lapak baca buku gratis ini bisa ditemui oleh warga Cirebon setiap hari sabtu atau minggu tergantung dengan waktu luang yang dimiliki oleh penggagasnya.

Saya coba mencari informasi kendaraan umum yang bisa ditempuh ke lokasi yang akan didatangi. Karena Alun-alun Palimanan berada di Kabupaten Cirebon maka perlu 21 km dari Kota Cirebon. Langkah pertama yang harus didatangi adalah menuju Terminal Harjamukti dengan menggunakan elf jurusan Babakan atau bisa menggunakan ojek online. Selanjutnya diteruskan dengan elf jurusan kabupaten Cirebon yang bisa ditemui kapan saja di pinggir jalan. Elf ini juga punya warna yang didominasi dengan merah, biru dan hijau maka sebelum naik pastikan terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi tujuan kita.

Kurang lebih 33 menit waktu yang dibutuhkan untuk menerjang panasnya Kota Cirebon. Sejauh ini perjalanan lancar dan tidak banyak kemacetan seperti yang terjadi di Kota Bandung. Supir elf juga menjalankan kendaraannya dengan kecepatan yang stabil jadi penumpang akan merasa nyaman meski sedang berada di kendaraan umum.

Sesampainya di Alun-alun saya menemukan sebuah masjid yang tidak jauh bernama Masjid Besar Raudlatul Muttaqien untuk sejenak mendinginkan diri dan menunggu waktu ashar datang. Masjidnya cukup besar dengan fasilitas kamar mandi yang cukup bersih hanya saja pada bagian shalat lantainya kurang terasa bersih karena tidak digelar sejadah khususnya di area shalat perempuan.

Karena waktu masih lama saya coba mencari cafe ramen untuk menjajal kuliner Cirebon. Lewat satu informasi dari google di dapatkan nama cafe dua putri berdasarkan informasi cafe ini masih buka dan saya melanjutkan menggunakan gojek ke arah ini. Namun sesampainya di lokasi justru cafe yang bersangkutan sudah tutup. Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar katanya cafe tersebut sudah tutup lama.

Satu hal resiko yang memang bisa ditemui ketika melakukan perjalanan adalah ketidaksesuaian antara list dengan harapan. Namun saya tidak berkecil hati dan melanjutkan perjalanan dengan membeli cimol di sekitar cafe. Rasanya lumayan karena punya bentuk yang berbeda dengan cimol yang di Bandung. Jika di Bandung cimol dibuat dengan bulatan kecil di Cirebon cimol seperti cilok dengan ukuran besar lalu kemudian di potong kecil-kecil dengan bentuk yang sembarang.

Setelah jam menunjukkan pukul 16:30 saya mulai melanjutkan perjalanan ke arah alun-alun dan mencari lapak baca buku gratis di gelar. Namun sesampainya disana saya tidak langsung menemukan karena ternyata lapak buku baru saja digelar.

"Ka ini lapak baca buku gratis ya ? " tanyaku dengan yakin

"Hehe iya ka, tapi ini belum siap" sahutnya sambil menggelar karpet

"Gapapa ka saya bantuin"

"Aduh terimakasih ka"

Dan percakapan pun berlanjut hingga buku- buku di gelar dan satu pembaca lainnya mulai datang. Menurut informasi pembaca tersebut menjadi pembaca setia karena selalu hadir dalam setiap kegiatan. Saya tertarik dengan sebuah buku berjudul "Lebih Putih Dariku" karena punya latar belakang sejarah yang belum tentu kita temui dalam pelajaran atau mata kuliah selama mengenyam pendidikan.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 17:30. Di tengah waktu berakhir kegiatan kami melakukan diskusi terkait dengan isi buku dan beberapa isu yang sedang berkembang di masyarakat. Dalam sela-sela waktu itu juga kami berbincang banyak hal terutama tentang ketertarikan membuka lapak baca buku gratis.

Melalui cerita ka Elfa seorang mahasiswa lulusan sastra, kegiatan membaca buku gratis sudah sering ditemuinya ketika dirinya berkuliah di Semarang. Menurutnya di beberapa ruang publik dan terbuka banyak sekali mahasiswa atau pecinta buku yang dengan senang hati membagikan buku bacaannya kepada setiap orang yang datang.

Baca Juga: Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Ka Elfa juga terinspirasi membuka lapak ini karena ingin menyebarkan minat literasi di Cirebon. Jika di Semarang lapak baca buku akan digandrungi banyak orang maka di Cirebon sebagian kebalikannya. Bukan berarti tidak ada peminatnya sama sekali melainkan jumlahnya sangat sedikit.

Tentu apa yang digagas oleh ka Elfa menjadi pergerakan baru untuk terus menyebarkan giat-giat literasi yang harapannya bisa terus menyebar hingga ke pelosok negeri.

Dari berbagai perbincangan saya mengambil semangat dan keberanian yang dimiliki ka Elfa. Disela-sela waktu senggangnya beliau rela memberikan waktunya untuk orang lain. Dan tentunya membuka lapak baca buku gratis pun perlu memiliki mental yang kuat karena tidak semua orang sabar dan bisa menunggu pembaca untuk datang. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam