Ayo Netizen

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Oleh: Meyliana Sofiyanti
Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)

Di tengah terjadinya krisis iklim yang semakin nyata, peran kampus dalam pelestarian lingkungan menjadi hal yang sangat penting. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan. Ungkapan “hijaukan kampus, selamatkan bumi!” tidak seharusnya berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi dorongan untuk membangun perubahan sistem, budaya, dan pendidikan ke arah yang lebih berkelanjutan.

Menanggapi hal ini, UIN SGD Bandung menunjukkan komitmennya melalui program Green Campus. Dilansir dari green.uinsgd.ac.id, komitmen ini diwujudkan melalui pembentukan Tim Task Force UI Green Metric UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2024 dengan visi menjadi tim penggerak utama dalam mewujudkan kampus hijau yang islami dan berkelanjutan, selaras dengan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin.

Tak hanya itu, komitmen tersebut juga tercermin dalam capaian UIN SGD Bandung pada UI GreenMetric 2026. Masih melansir dari sumber yang sama, universitas ini memperoleh total skor 6.550 dan menempati peringkat ke-670 dunia, peringkat ke-397 di Asia, dan peringkat ke-75 di tingkat nasional. Capaian ini menunjukkan upaya UIN SGD Bandung dalam mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.

Meski demikian, capaian tersebut bukanlah akhir dari upaya mewujudkan kampus hijau. Komitmen terhadap keberlanjutan perlu terus diwujudkan ke dalam kebijakan dan praktik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. Dengan demikian, keberhasilan Green Campus tidak hanya dilihat dari capaian peringkatnya, tetapi juga dari konsistensi penerapan kebijakan dan keterlibatan warga kampus dalam menjaga lingkungan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah transportasi. Dalam laman yang sama, UIN SGD Bandung menerapkan kebijakan transportasi berkelanjutan dengan membatasi penggunaan kendaraan pribadi, mendorong budaya berjalan kaki, serta menyediakan fasilitas ramah lingkungan bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Namun, pada kenyataannya, dilansir dari uinsgd.ac.id, sepeda motor masih menjadi kendaraan yang paling banyak digunakan oleh mahasiswa UIN SGD Bandung. Disebutkan juga bahwa area parkir selalu dipenuhi ratusan kendaraan setiap harinya, terlebih pada jam kuliah pagi dan siang hari. Kondisi ini membawa kita ke dalam sebuah pertanyaan tentang sejauh mana kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi diterapkan.

Kepadatan area parkir tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi penerapan transportasi berkelanjutan di lingkungan kampus. Kebijakan pembatasan kendaraan pribadi perlu diiringi dengan penyediaan pilihan mobilitas yang dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa. Sebab, keputusan menggunakan kendaraan pribadi tidak selalu berkaitan dengan kebiasaan semata, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh jarak tempuh, waktu perjalanan, kenyamanan, keamanan, dan ketersediaan transportasi alternatif.

Baca Juga: Gambut Oh Gambut

Hal ini selaras dengan penelitian Rustomo dkk., (2015) yang membahas pemilihan moda transportasi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa waktu perjalanan menjadi faktor penting dalam pemilihan jenis transportasi mahasiswa. Maka, upaya membangun transportasi kampus yang berkelanjutan perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna, bukan hanya mengandalkan imbauan.

Dalam konteks UIN SGD Bandung, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana fasilitas pendukung transportasi berkelanjutan telah memenuhi kebutuhan warga kampus. Karena itu, upaya mewujudkan transportasi berkelanjutan perlu dilakukan melalui langkah-langkah yang lebih konkret. Kampus dapat mengevaluasi aksesibilitas jalur pejalan kaki, meningkatkan fasilitas bagi pesepeda, serta mengkaji kemungkinan penyediaan atau penguatan transportasi bersama sesuai kebutuhan dan kemampuan universitas.

Pada akhirnya, keberhasilan kampus dalam mengupayakan pelestarian lingkungan tidak berhenti pada pemeringkatan, tapi juga dilihat dari sejauh mana kebijakan tersebut berhasil diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus. Capaian UIN SGD Bandung patut diapresiasi, tapi upaya tersebut perlu dibarengi dengan evaluasi terhadap kebijakan dan fasilitas yang tersedia. (*)

Reporter Meyliana Sofiyanti
Editor Aris Abdulsalam