Ayo Netizen

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Oleh: Harun Yahya
Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)

Siapa pun yang pernah berhenti di perempatan Soekarno Hatta-Kiaracondong, di depan kantor Samsat Bandung, tahu rasanya: : mesin dimatikan, jam terus berjalan, dan antrean mengular jauh ke belakang. Keluhan ini bukan baru. Pada 16 Juni 2016, detikcom sudah memberitakannya. Sepuluh tahun kemudian, kita masih membicarakan hal yang sama.

Kembali ke tahun 2016, Yudhiana yang kala itu menjabat Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishub Kota Bandung sempat menjelaskan akar masalahnya. Persimpangan tersebut sudah masuk taraf jenuh ekstrem karena beban volume kendaraan jauh melampaui kapasitas ruas jalan. Saat itu, ia membeberkan tiga opsi jalan keluar yang rasional: membangun flyover, merekayasa pengurangan jumlah kendaraan, atau melebarkan persimpangan.

Satu dekade berlalu, diagnosis tersebut terbukti hanya menjadi catatan di atas kertas. Berdasarkan ulasan AyoBandung (Desember 2025) dan laporan Antara (Juli 2025), persimpangan yang akrab disapa "Stopan Kircon" ini masih kokoh menyandang predikat tak resmi sebagai lampu merah terlama di Indonesia. Durasi nyala merahnya menembus 720 detik atau 12 menit penuh, sementara lampu hijau hanya memberi nafas tak sampai dua menit. Satu dekade berlalu, diagnosis tersebut terbukti hanya menjadi catatan di atas kertas. Berdasarkan ulasan AyoBandung (Desember 2025) dan laporan Antara (Juli 2025), persimpangan yang akrab disapa "Stopan Kircon" ini masih kokoh menyandang predikat tak resmi sebagai lampu merah terlama di Indonesia. Durasi nyala merahnya menembus 720 detik atau 12 menit penuh, sementara lampu hijau hanya memberi nafas tak sampai dua menit. . Akibatnya, pengendara bisa dua sampai tiga kali terhenti lampu merah saat macet. Warga sampai memberinya julukan “Stopan Perenggut Masa Muda”.

Gambaran ini sejalan dengan kondisi Bandung secara umum. Menurut TomTom Traffic Index 2024 yang dikutip kedua media itu, Bandung adalah kota termacet nomor 1 di Indonesia. Menurut AyoBandung, rata-rata waktu tempuhnya 32 menit 37 detik untuk setiap 10 kilometer, mengungguli Medan, Palembang, Surabaya, dan Jakarta, dan menempatkan Bandung di peringkat ke-12 dunia untuk waktu terbuang di jam sibuk. Wali Kota Bandung sendiri pernah menyebut Jalan Soekarno Hatta sebagai salah satu dari tiga titik kemacetan kota karena menjadi akses utama warga dari barat, selatan, dan timur.

Mengapa kebuntuan ini tidak boleh terus dibiarkan? Pertama, ada harga mahal dari waktu yang terbuang. Ketika perjalanan 10 kilometer memakan waktu lebih dari setengah jam, simpang Kircon menjadi salah satu penyumbang pemborosan terbesar. Ribuan menit produktif warga menguap begitu saja di jalan setiap harinya.

Kedua, kerugian fisik dan psikologis ditanggung langsung oleh pengendara. Berdiam belasan menit di tengah kepungan asap knalpot dan kebisingan jalan bukan cuma merusak kesehatan, tapi juga menguras emosi. Frustrasi yang menumpuk di lampu merah kerap menjadi pemicu aksi nekat menerobos lalu lintas demi mengejar waktu.

Lampu Merah Kiaracondong-Soekarno Hatta (Kircon) di Kota Bandung sudah lama ditetapkan sebagai stopan “Lampu Merah Terlama di Indonesia”. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Ketiga, pendekatan teknis yang ada saat ini terbukti belum menyentuh akar persoalan. Pemkot Bandung belakangan mengandalkan solusi berbasis teknologi melalui ATCS (Area Traffic Control System) untuk mengintervensi durasi lampu secara real-time. Meski mampu memperpanjang durasi hijau pada titik tumpukan terparah, langkah ini pada dasarnya sekadar memindahkan ekor antrean dari satu kaki simpang ke kaki simpang lainnya. Pihak Dishub sendiri sejak 2016 sudah menegaskan bahwa persimpangan yang sudah jenuh tak bisa diurai hanya dengan permainan durasi lampu.

Keempat, dokumen kajian dan dasar pertimbangannya sebenarnya sudah lengkap. Pemkot tidak perlu memulai dari nol. Solusi fisik-struktural sudah dipetakan sejak satu dekade lalu; yang belum hadir hingga kini hanyalah keberanian dan komitmen eksekusi.

Memang ada keberatan yang kerap mengemuka: pembangunan flyover menelan biaya besar, butuh waktu panjang, dan bakal memperparah kemacetan selama proses konstruksi. Namun, membiarkan kemacetan bertahun-tahun tanpa kepastian justru memakan biaya sosial dan ekonomi yang jauh lebih masif.

Sepuluh tahun cukup untuk membuktikan bahwa membiarkan masalah tidak membuatnya hilang. Pemerintah Kota Bandung dan Dishub perlu menjadikan perempatan Soekarno Hatta–Kiaracondong prioritas nyata, bukan wacana yang dikutip ulang tiap dekade. Warga Bandung sudah cukup lama menunggu, dan penantian itu jauh lebih melelahkan daripada menunggu lampu hijau di Kircon. (*)

Sumber Rujukan

  • Nurmatari, A. (2016, 16 Juni). Solusi Lampu Merah Durasi Lama, Dishub Bandung: Harus Ada Flyover. detikNews.
  • Ridwan, D. (2025, 22 Desember). Kisah ‘Lampu Merah Terlama di Indonesia’ di Kota Nomor 1 Termacet se-Nusantara. AyoBandung.id.
  • Senjaya, A. A. (2025, 15 Juli). Ini lima lampu merah terlama di Bandung! ANTARA News Jawa Barat.
  • Ridwan, D. (2025, 11 Desember). Ini Titik-Titik Kemacetan di Kota Bandung menurut Wali Kota Farhan: Mana Tata Kelolanya? AyoBandung.id.
Reporter Harun Yahya
Editor Aris Abdulsalam