Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan tidak hanya sekadar persoalan api yang memanggang pepohonan dan semak belukar. Dalam peristiwa tersebut, terdapat persoalan lingkungan, kesehatan masyarakat, tata kelola lahan, sampai ancaman terhadap kelangsungan kehidupan. Penanganannya pun tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran dan aparat di lapangan. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi atau pihak kampus.
Terkait hal di atas, kampus-kampus besar di Bandung memiliki daya besar untuk mengambil peran nyata. Bandung dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di Indonesia, dengan perguruan tinggi yang memiliki keunggulan dalam bidang teknologi, ilmu lingkungan, kehutanan, kesehatan, kebencanaan, sosial, dan kebijakan publik. Kemampuan akademik itu seharusnya dapat diwujudkan menjadi sokongan untuk membantu mengatasi karhutla.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian dan menerbitkan jurnal ilmiah. Pengetahuan yang dikembangkan di kampus perlu menjangkau masyarakat dan membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih tepat.
Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan perguruan tinggi lainnya di Bandung memiliki sumber daya keilmuan yang dapat saling melengkapi. ITB, misalnya, berpotensi menyumbang pengembangan teknologi pemantauan kebakaran, pemetaan wilayah rawan, penginderaan jauh, serta pemodelan penyebaran asap. Unpad mampu memperkuat kajian kesehatan masyarakat, ekologi, sosial, dan tata kelola lingkungan. UPI bisa mengambil peran melalui pendidikan kebencanaan, literasi lingkungan, dan pengembangan perilaku masyarakat yang peduli terhadap kelestarian alam.
Sumbangsih di atas merupakan peluang yang dapat dikembangkan melalui kerja sama lintas kampus, Kampus juga dapat membantu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), instansi-instansi terkait, serta masyarakat di wilayah terdampak.
Upaya yang penting adalah melakukan adalah pencegahan dini agar tidak terjadi kebakaran Karhutla yang hebat. Salah satu tantangan penanganan karhutla adalah mendeteksi titik api sedini mungkin dan memastikan bibit-bibit informasi itu dapat diolah menjadi makna yang dalam mencegah kebakaran. Perguruan tinggi dengan keahlian teknologi informasi, geografi, dan penginderaan jauh atau indraja mampu membantu mengembangkan sistem pemantauan berbasis satelit, drone sesuai ketentuan, sensor lingkungan, dan analisis data cuaca.
Hasil pemantauan dapat diolah menjadi peta meminimalisir dampak yang mudah dipahami petugas dan pemerintah daerah. Penelitian juga dapat diarahkan untuk mengidentifikasi lahan gambut yang rentan terbakar, pola kekeringan, serta faktor-faktor yang meningkatkan risiko kebakaran. Namun, teknologi harus terus melaju, tidak boleh berhenti sebagai prototipe atau demonstrasi akademik. Sistem yang dikembangkan harus diuji, divalidasi, dan diintegrasikan dengan mekanisme pelaporan serta respons para petugas di lapangan.
Pencegahan harus menjadi prioritas, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kekeringan dan kebakaran lahan. Kampus dapat melakukan penelitian mengenai restorasi ekosistem, pengelolaan lahan gambut, rehabilitasi kawasan yang rusak, serta alternatif pengolahan lahan tanpa pembakaran.
Peneliti sosial dan ekonomi juga dapat mengkaji alasan masyarakat atau pelaku usaha menggunakan api dalam pembukaan lahan, kemudian merumuskan alternatif yang lebih aman dan layak secara ekonomi. Pendekatan ini penting karena solusi lingkungan perlu menjadikan masyarakat perlu ditempatkan sebagai mitra, bukan semata-mata sebagai objek penyuluhan.
Perguruan Tinggi atau kampus mempunyai amunisi hebat yaitu mahasiswa yang energi, kreativitas, juga kemampuan beradaptasi dengan teknologi sangat melambung. Kehebatan tersebut dapat diarahkan melalui program kuliah kerja nyata, pengabdian masyarakat, penelitian terapan, dan program relawan lingkungan.
Sebagai salah satu agen perubahan, mahasiswa dapat membantu menyebarkan informasi pencegahan kebakaran, menyusun materi edukasi, mendukung pemetaan partisipatif, serta mendampingi masyarakat dalam memahami risiko karhutla. Keterlibatan mereka harus dikoordinasikan dengan pemerintah dan lembaga penunjang.
Baca Juga: Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)
Asap karhutla dapat mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan. Dalam hal ini, fakultas kedokteran, kesehatan masyarakat, keperawatan, dan psikologi dapat berkontribusi melalui edukasi perlindungan diri, kajian dampak kesehatan, serta dukungan bagi kelompok rentan. Untuk kegiatan medis langsung, bantuan harus dilakukan melalui tenaga kesehatan yang berwenang dan berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan setempat.
Peran kampus dalam penanganan karhutla seharusnya tidak bersifat insidental, hanya muncul ketika kebakaran meluas dan menjadi perhatian publik. Perguruan tinggi perlu membangun kontribusi dan kolaborasi yang berkelanjutan, mulai dari penelitian sebelum musim rawan kebakaran, pendampingan ketika risiko meningkat, hingga evaluasi setelah bencana.
Tanggung jawab utama penanggulangan karhutla tetap berada pada pemerintah dan lembaga yang memiliki mandat serta kewenangan. Perguruan tinggi tidak dapat menggantikan tugas tersebut. Akan tetapi, Perguruan Tinggi atau kampus dapat menjadi mitra strategis yang memperkuat kebijakan, menyediakan inovasi, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan menguji efektivitas berbagai solusi. (*)