Ayo Netizen

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Oleh: Suhendi Al Wasim
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)

Hampir setiap tahun, cerita yang sama kembali terjadi, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lalu asapnya menutupi kota-kota.

Sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan ribuan warga mengeluh sesak napas. Peristiwa 2015 masih menjadi pengingat paling keras.

Kerugian ekonominya tercatat sangat besar, dengan sejumlah kajian menyebutnya mencapai belasan miliar dolar AS. Angka itu belum menghitung biaya kesehatan dan hilangnya kekayaan hayati.

Masalahnya, karhutla bukan bencana yang datang tiba-tiba. Ia berulang karena penyebab yang sama: lahan dibakar untuk dibuka, gambut yang sudah kering dan rusak drainasenya, serta penegakan hukum yang belum konsisten. Selama akar masalahnya belum tersentuh, api akan terus kembali.

Di sinilah kampus seharusnya mengambil peran. Perguruan tinggi memiliki peneliti, laboratorium, mahasiswa, dan jaringan yang sampai ke desa. Sayangnya, banyak potensi itu berhenti di jurnal dan laporan.

Apa Daerah yang Rawan Karhutla di Indonesia?

Karhutla tidak hanya terjadi di satu pulau. Sejumlah provinsi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara masuk dalam daftar wilayah yang rawan.

Keragaman ini menunjukkan bahwa tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua daerah. Kampus lokal justru punya posisi strategis untuk membaca kondisi di sekitarnya.

1. Sumatra dan Kalimantan

Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan termasuk daerah yang sering berhadapan dengan asap dari lahan gambut.

Di Kalimantan, wilayah yang masuk daftar rawan mencakup Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Kondisi gambut di kawasan ini membuat api mudah merambat di bawah permukaan dan sulit dipadamkan.

2. Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara

Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan menghadapi tekanan yang serupa, terutama saat musim kemarau panjang.

Maluku dan Maluku Utara juga tercatat dalam daftar wilayah rawan, begitu pula Nusa Tenggara Timur yang musim keringnya lebih panjang.

3. Papua dan Kawasan Pegunungan Jawa

Papua Barat dan Papua Selatan menghadapi karhutla dengan karakter yang berbeda, karena tutupan hutannya luas dan akses ke lokasi sering sulit.

Kawasan pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga perlu diwaspadai. Di wilayah-wilayah ini, kampus bisa berperan sebagai mitra pengetahuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Apa Solusi Akademisi untuk Karhutla?

Kontribusi kampus akan lebih bermakna jika memenuhi empat hal berikut.

1. Pengalaman Lapangan

Akademisi perlu turun langsung ke lapangan. Restorasi gambut, pembasahan lahan, dan teknik pemadaman dini paling mudah dipahami dengan melihatnya sendiri.

Kedekatan dengan petani, buruh, dan warga desa juga membuat riset tidak menjauh dari kenyataan.

2. Keahlian Lintas Disiplin

Persoalan karhutla bersifat lintas bidang. Ilmu kehutanan dan tanah membaca kondisi gambut. Teknik menyusun sensor dan sistem pemantauan. Sosiologi menjelaskan mengapa sebagian warga masih memilih membakar. Ilmu kesehatan mengukur dampak asap pada anak-anak dan lansia. Solusi yang utuh hanya lahir jika semua bidang itu duduk bersama.

3. Otoritas Data

Kampus dapat menjadi rujukan data yang bisa dipercaya. Data titik panas, kualitas udara, dan pemetaan lahan yang terbuka untuk publik dan bisa diperiksa ulang memberi dasar keputusan yang lebih kuat. Otoritas seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Ia tumbuh dari konsistensi.

4. Kepercayaan Publik

Riset yang baik berani mengakui batasnya. Jika temuan belum pasti, peneliti harus menyampaikannya dengan jujur.

Keterbukaan soal sumber dana, metode, dan kemungkinan konflik kepentingan membuat masyarakat lebih percaya. Pada isu yang sering dipolitisasi seperti asap, kepercayaan itu sangat berharga.

Model Kolaborasi yang Bisa Dijalankan

Gagasan ini membutuhkan bentuk yang nyata. Ada tiga model yang bisa segera dicoba.

1. KKN Tematik Karhutla

Mahasiswa diturunkan ke desa rawan dengan tugas yang jelas: memetakan lahan, melatih warga mengolah lahan tanpa bakar, memasang alat pemantau sederhana, dan memberi edukasi kesehatan. Mahasiswa mendapat pengalaman belajar, sementara warga memperoleh manfaat langsung.

2. Konsorsium Riset Antarkampus

Kampus di wilayah rawan dapat membentuk konsorsium dengan pembagian peran yang jelas. Kampus di Sumatra mengkaji kondisi sosial ekonomi petani, kampus di Kalimantan meneliti hidrologi gambut, dan kampus teknik mengembangkan sensor. Skema dana padanan (matching fund) yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan kampus dapat menjaga komitmen bersama, sehingga beban tidak menumpuk pada satu pihak.

3. Hilirisasi Hasil Riset

Hilirisasi hasil riset dengan mitra publikasi Setiap hasil riset sebaiknya memiliki bentuk yang bisa dipakai publik. Panduan singkat berbahasa lokal, dasbor data terbuka, atau rekomendasi untuk dinas terkait adalah contoh yang sederhana tetapi berdampak.

Agar temuan itu juga sampai ke komunitas akademik, tim peneliti bisa berkolaborasi dengan penyedia jasa pendampingan publikasi.

Salah satu publihser yang bisa dijadikan referensi, yaitu Worldwide Research Publishing (WR Publishing).

Lembaga publisher jurnal tersebut menyediakan layanan pendampingan naskah jurnal nasional dan internasional.

Baca Juga: Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Asap yang datang setiap tahun menjadi tanda bahwa ilmu pengetahuan belum sepenuhnya bekerja untuk mereka yang paling terdampak.

Kampus memiliki modalnya: ilmu, mahasiswa yang bersemangat, dan kepercayaan masyarakat. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk keluar dari ruang kelas dan laboratorium, lalu hadir di lahan yang terbakar.

Menjaga lingkungan bukan hanya tugas kementerian atau dinas pemadam kebakaran. Dunia akademik juga memiliki tanggung jawab moral di dalamnya.

Satu temuan yang membuat satu desa terhindar dari asap jauh lebih berarti daripada sekadar angka di daftar publikasi.

Referensi:

  • https://wrpublishing.id/blog/jasa-publikasi-jurnal-sinta-2
Reporter Suhendi Al Wasim
Editor Aris Abdulsalam